Sabtu, 19 Desember 2009

Ada Ancol di Jogja



Mendengar pernyataan Anto aku hanya mengernyit. Ada Ancol di Jogja?


Sudah 22 tahun di Jogja, aku baru mendengar ada Ancol di sana. Siang itu Anto—kakak iparku mengajak aku dan istrinya ke Pantai Ancol. Tempatnya di Desa Bligo, Kalibawang, Kulonprogo. Dari Jogja kita tempuh sekitar 1 jam berkecepatan santai. Hah, ini pasti pantai jadi-jadian pikirku. Maklum, mana ada pantai di bagian barat Yogyakarta?


Ke Ancol, pikiranku melayang ke Pantai Cemplon—sebuah pantai jadi-jadian yang tak jauh dari Kulonprogo. Pantai Cemplon merupakan Sungai Progo yang lebar dan penuh batuan sehingga mirip pantai. Walau hanya pantai tiruan, banyak juga pengunjung di hari libur. Di situ banyak warung-warung penganan khas desa. Deretan botol minuman bersoda, pop mie, dan berbagai penganan lainnya. Selain itu terdapat pertunjukan dangdut—daya tarik utama pantai ini.

Setiba di Ancol, bayanganku tak jauh meleset. Ia memang pantai yang ‘terbuat’ dari sungai. Walau terbuat dari penggalan sungai progo seperti Pantai Cemplon, hamparan sungai dan batunya lebih luas. Sekelilingnya diteduhi pohon asam keranji. Tak seperti Cemplon, di situ tak satupun pedagang tampak.


Bendungan tinggalan jaman penjajahan Belanda yang unik



Pemandangan yang mencolok adalah bendungan dan saluran air buatan jaman belanda. Tak seperti bendungan lain, dinding bendungan ancol melengkung ke arah datangnya arus. Selain itu bentuknya tidak berupa setengah lingkaran, namun mengerucut.

Bendungan itu dibuat untuk ‘memotong’sungai progo. Air yang dibendung dialirkan melalui dua jalur, saluran Van der Wijk dan selokan Mataram. Konon, di jaman Belanda saluran itu terutama digunakan mengairi kebun tebu. Selain itu, dua saluran itu berjasa membuat Sleman menjadi lumbung padi. Tanpa keduanya, Sleman kesulitan mencukupi kebutuhan air yang terbatas. Umumnya mata air hanya berasal di daerah sekitar merapi.



Saluran air dari salah satu pintu air Ancol


Di Ancol kita bisa melihat kegagahan rancang bangun tinggalan Belanda. Diperkirakan bangunan itu sudah berusia 100 tahun—kata Susi. Pintu airnya menjulang tinggi dan kuat. Dengan pintu air yang tidak hanya satu lubang, beban dinding untuk menahan arus tak terlalu besar.


Sekitar 1 km dari bendungan, aliran air dilewatkan di terowongan bawah tanah. Meski konstruksi lebih rumit, pembuatan saluran van der wijk tak perlu mengeruk bukit. “Kedalaman terowongan ada yang mencapai 100 meter di bawah permukaan tanah,” tambah Susi. Bayangkan besarnya tenaga yang dibutuhkan untuk mengeruk bukit sepanjang itu bila tak dibuat terowongan.


Sampai sekarang saluran van der wijk masih berfungsi dengan baik. Hal ini tak lepas dari perhatian masyarakat sekitarnya. Senin sore saluran ditutup, dan paginya dibersihkan dari endapan-endapan secara bertahap. Rabu pagi, saluran itu mulai digunakan untuk mengairi seluruh penjuru Sleman. Memberi minum setiap bulir-bulir beras.



Tempatnya yang tenang, membuat Ancol juga sebagai ajang pacaran kaum muda.

Tak mengurangi fungsinya sebagai sumber air, Ancol juga merupakan aset pariwisata. Tempat yang indah ini sering digunakan untuk foto pre-wedding. Selain itu, tempatnya yang tenang juga digunakan sebagai ajang pacaran anak muda. Sayangnya, sungainya yang jauh lebih jernih dan indah dibandingkan sungai di Jakarta mulai ternoda oleh sampah. Selain itu mulai banyak yang tidak tahu sejarah dan kemegahan tempat yang indah itu, termasuk saya. (Niken Anggrek Wulan)

1 komentar:

  1. sekarang gambarnya dah berubah mbak,,,,,sebagian tertutup pasir tp asyik tuk foto2.
    http://banjaroyaku.blogspot.com

    BalasHapus