Rabu, 09 November 2011

Benjolan di Payudara, Duh!

Ketika saya bilang saya sakit flu, mungkin orang hanya akan bilang “Ooo.. Lekas sembuh ya.”
Tetapi berbeda ketika saya menjelaskan keadaan berikut ini.
“Ngg... aku habis operasi,” kata saya kepada teman.
“Oya? Operasi apa?”
“Payudara,” jawab saya.

Seketika itu berbagai macam pertanyaan bermunculan. Kok bisa dioperasi? Benjolan apa? Tumor? Ganas nggak? Kenapa sih buru-buru dioperasi? Ada juga yang berkomentar, ih ngeri ya.

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar, karena penyakit ini jarang dibahas.
Mungkin status berikut sering kita lihat di twitter atau fb:
“Flu nih.”
Namun jarang yang menulis status dengan gamblang seperti ini:
“Lagi punya benjol di payudara nih.”

Beberapa wanita menutup rapat, bahkan enggan membicarakannya ketika mendapati dirinya terkena tumor, meski tumor jinak di payudaranya. Padahal, benjolan di payudara banyak dialami wanita usia produktif.

Saya adalah salah satu wanita yang mengalami benjolan di payudara. Dua minggu lalu, sekitar 3 hari sebelum menstruasi, saya terkejut menyadari payudara sebelah kiri saya agak sakit saat menggendong keponakan saya. Ketika saya periksa, ternyata ada benjolan di payudara kiri. Benjolan tersebut tidak menonjol, melainkan hanya terasa kalau diraba.

Operasi
Keesokan harinya, hari Selasa, saya langsung menemui dokter bedah onkologi di rumah sakit. Sebelum bertemu dokter, saya menjalani USG. Hasilnya terlihat ada benjolan padat (echoless) ukuran kurang lebih 7 mm x 5 mm. Diagnosis USG mengarah ke fibroadenoma atau FAM. Dokter praktek yang saya temui berkata sebaiknya benjolan tersebut diangkat.

Untuk mengetahui lebih lanjut apakah benjolan itu ganas atau jinak, kakak saya merekomendasikan untuk melakukan biopsi. Hari Jum’at saya melakukan biopsi di lab patologi anatomi. Dengan jarum suntik, cairan atau jaringan di dalam benjolan diambil. Jaringan dioleskan ke dalam preparat kaca untuk dianalisis. Setelah itu, agak deg-degan juga membuka hasil pemeriksaannya. Alhamdulillah, jenis benjolan yang saya alami termasuk yang jinak.

Meski sudah diketahui jinak, tapi benjolan tetap disarankan diambil untuk dianalisis lebih lanjut. Oleh sebab itu, saya melakukan operasi setelah selesai menstruasi Oktober lalu. Ada beberapa orang yang menanyakan mengapa saya memilih dan mau dioperasi. Mereka ini biasanya menganggap operasi merupakan sesuatu yang mengerikan. “Lha wong disuntik aja takut, apalagi operasi,” mungkin begitu pendapat mereka.

Saya menjalani operasi karena berprinsip sumber penyakit harus dibereskan dulu. Saya ingin ada analisis menyeluruh, bukan hanya meraba-raba, dan berharap-harap cemas apakah benjolan ini bisa hilang sendiri. Segera saya putuskan untuk operasi meski harus meminjam dana untuk operasi.

Dalam kasus saya, operasi merupakan cara yang tepat untuk menganalisis apa yang saya alami secara tepat. Karena setelah operasi, ada tahapan pemeriksaan jaringan, yang penting untuk mengetahui kecenderungan jaringan tersebut.

Pengalaman Teman
Sebelum operasi saya sempat bertanya-tanya kepada teman yang pernah mengalami hal yang sama. “Kalau aku sih ken, pernah mencoba alternatif, habis lumayan banyak. Jadi aku operasi. Karena pada dasarnya, ada FAM yang bisa sembuh sendiri, ada juga yang mesti diangkat,” katanya. Waktu itu saya masih berpegang pada diagnosis awal dokter bahwa saya menderita FAM.

Sewaktu saya periksa di rumah sakit, saya juga ketemu Ibu-ibu yang bercerita tentang penyakitnya. Ia duduk disamping saya ketika saya menunggu hasil USG dari rumah sakit. Ia berkata bahwa ia punya benjolan di payudara sejak usia 12 tahun. Ia tidak pernah memeriksakan benjolan itu. Kemudian, setelah usia 42 tahun, ia menderita kanker payudara. Kemungkinan benjolan yang ia derita dahulu itu menjadi kanker yang ia derita sekarang. Ibu yang bekerja di Jakarta itu akhirnya ke dokter setelah berbagai obat alternatif nan mahal harganya tidak membawa hasil.

Meski begitu, saya memutuskan operasi atau bukan tidak terkait dengan percaya atau tidak percaya terhadap pengobatan alternatif atau semacamnya. Saya memutuskan pergi ke dokter dan melakukan operasi terutama agar dapat segera menerima keadaan (secara psikis) dan memahami benar-benar apa yang tengah terjadi.

Dengan menjalani berbagai pemeriksaan, pikiran saya jadi tenang dan tidak dibayangi rasa cemas. Dengan mengetahui apa yang terjadi, saya merasa bisa berpikir jernih dan memutuskan apa yang baik bagi diri saya.

Macam-macam Tumor
Dokter Herjuna Herdiyanto SpB (Onk) menjelaskan pada saya, ada dua macam tumor payudara, yang jinak, dan ganas. Yang jinak terdiri dari dua, yaitu Fibroadenoma atau FAM, dan Fibrocystic disesase atau FCD.

FAM terdiri dari dua macam, FAM murni, dan Phylloids. FAM murni tidak ada kecenderungan menjadi ganas, namun tipe phylloids mempunyai kemungkinan menjadi ganas, sehingga diperlukan observasi rutin.

Untuk FCD, dibedakan menjadi 3 stadium, I, II, dan III. Stadium I cenderung jinak, sedangkan stadium II dan III bisa mempunyai kecenderungan ke ganas. Stadium II bisa 15—20 tahun menjadi ganas, sedangkan stadium III lebih singkat, bisa dibawah 5 tahun. Oleh sebab itu pada stadium II, diperlukan observasi setiap 3—6 bulan. Sedangkan stadium III diobservasi 2 minggu sekali sampai 1 bulan. Di situlah perlunya saya mengangkat benjolan di payudara saya, yaitu untuk menentukan saya ada di stadium mana.

Melalui operasi-lah, saya menjadi tahu diagnosis yang lebih tepat. Setelah benjolan saya diangkat, baru ketahuan ternyata saya mengalami fibrocystic disease (FCD) atau kista payudara, bukannya FAM seperti diagnosis awal. Meski begitu, saya tetap merasa lega karena baik FAM dan FCD sama-sama tumor jinak. Bedanya, FAM padat, sedangkan FCD berisi cairan.

Sabtu lalu saya menjalani operasi. Saya dibius lokal atau hanya di sekitar payudara. Operasi berlangsung singkat, sekitar 1 jam lamanya. Karena saya masih sadar, saya bercengkerama dan bergurau sepanjang operasi dengan dokter dan para perawat. Di ruang operasi juga terdapat TV yang bisa saya dengar siarannya. Saya bahkan bisa terus berpesan pada dokter dan perawat agar jahitannya rapi.
“Iya Mbak, ini rapi jali wis, jahitannya,” kata seorang perawat.
Saya pengen tertawa, tapi hanya bisa meringis karena waktu itu payudara saya tengah dijahit.***

Rabu, 02 November 2011

Pilih Obat Medis atau Alternatif?

Saya sering mendengar, ketika ada orang yang sakit kanker, jantung, atau hati, orang menawarkan pengobatan alternatif. Jangan salah, walau dibilang obat alternatif, harganya setara bahkan lebih mahal dari obat-obatan farmasi. Ada yang sebulan habis 400-ribu bahkan jutaan. Masyarakat diiming-imingi produk yang ‘dijamin sembuh tanpa operasi’.

Ketika mengkonsumsi herbal yang disodorkan, orang meminumnya tanpa berkonsultasi ke dokter. Akibatnya, tak jarang ditemui, penyakit yang menggerogotinya semakin parah. Saat sudah gawat, ia baru menempuh jalur dokter.

Ada cerita yang saya dapat dari pasien yang saya temui di rumah sakit. Ia mempunyai benjolan di payudara sejak umur 12. Ia biarkan saja sampai umur 40 tahun. Benjolan itu ternyata menjadi kanker alias tumor ganas. Berikutnya, karena takut operasi, ia mencoba obat alternatif seharga jutaan rupiah. Ternyata, tidak ada peningkatan. Setelah parah, ia baru memutuskan untuk menemui dokter bedah.


Sebenarnya, sejauh mana sih, kita harus mengandalkan herbal alternatif? Bener nggak sih, mengkonsumsi obat herbal?

Kendala yang saya lihat selama ini, banyak masyarakat yang kurang mengerti informasi yang lengkap dan benar. Ada yang bilang, obat herbal adalah obat tanpa efek samping. Benarkah begitu? Tentu saja tidak. Sesuatu yang dikonsumsi berlebihan tentu ada akibat yang tidak baik. Misal, bunga rosella yang dikonsumsi terus menerus akan memperberat kerja ginjal akibat vitamin C-nya yang berlimpah.

Ingat lho, opium sebagai bahan morfin dan herioin itu juga dari tanaman alias herbal. Ketika dikonsumsi berlebihan? Ya mabok atau sakaw... Jadi yang namanya alternatif bukan berarti tanpa efek samping!

Sepotong-sepotong
Selama ini masyarakat cenderung membaca segala sesuatu dengan sepotong-sepotong. Ketika dibilang daun sirsak obat kanker, kemudian masyarakat mengonsumsinya tanpa pernah terlebih dahulu mendapat penanganan dokter atau tahu bagaimana stadium kanker yang ia derita.

Hal Itu ibarat terserang stroke dan disuruh minum serbuk bawang putih yang terkenal sebagai obat darah tinggi. Tentu saja bawang putih tidak bisa menyembuhkan si pasien stroke, karena obat herbal bukan obat yang bekerja secara cepat, tetapi membutuhkan proses jangka panjang. Penanganan kegawatdaruratan semacam itu harus ditangani tenaga kesehatan dengan obat farmasi ‘pertolongan pertama’ yang langsung menuju ke bagian tubuh yang diperlukan, misal obat pengencer darah. Oleh sebab itu, ketika akan mengkonsumsi herbal, sebaiknya ketahui dulu bagaimana keadaan tubuh kita dan penyakit yang menyerang.

Pengalaman saya pribadi dan perbincangan dengan herbalis, obat alternatif baik digunakan setelah kita tahu persis apa penyakit kita. Selain itu, meski dari tanaman, obat herbal tidak baik diminum secara berlebihan. Ya seperti kita makan sehari-hari lah, kalau tiap hari makan ayam atau makan bayam teruuus... tentu tidak baik bagi tubuh kita. Selain itu, kenali benar mengenai produk herbal yang dikonsumsi, misal dosis yang wajar, dan efek samping yang mungkin ditimbulkan. Selain itu biasanya obat herbal tidak dikonsumsi secara tunggal, ia akan lebih baik bekerja ketika dikombinasikan dengan herbal lain yang cocok.

Serba instan
Obat herbal juga baik diminum ketika berhadapan dengan penyakit yang tidak butuh obat farmasi seperti flu ringan. Flu disebabkan oleh virus yang akan sembuh sendiri ketika ketahanan tubuh kita bagus. Oleh sebab itu, konsumsi obat herbal seperti wedang jahe dengan madu, serta makan makanan yang memperkuat pertahanan tubuh, misal meningkatkan konsumsi buah dan sayur dan beragam.

Umumnya, masyarakat tertarik dengan produk herbal nan mahal karena cenderung ingin hasil yang serba instan. Selain itu, mereka malah tidak percaya kalau mengkonsumsi obat herbal yang murah. Sungguh aneh bukan? Padahal, obat herbal yang terstandar pun itu tidak begitu mahal kok.

Menurut saya, obat herbal itu harusnya memang nggak mahal. Kalaupun ada yang mahal, itu akibat ulah sistem MLM atau propaganda produsennya :D Banyak lho, obat herbal yang murah meriah di sekitar kita: sirih merah, daun sirsak, lidah buaya, kunyit, dan masih banyak lagi.

Ketika saya terserang ambeien misalnya, saya biasa mengkonsumsi daun ungu untuk mengurangi peradangan dan pendarahan. Karena saya punya tanaman daun ungu di rumah, saya tidak perlu pusing-pusing membeli obat ambeien yang mahal di apotek. Saya juga mempertahankan pola konsumsi tinggi serat yaaang... haduuuh... harus dengan tekad kuat. Mengurangi produk tepung-tepungan (refined carbohydrate) dan produk hewani.

Tunas daun ungu yang saya tanam di rumah :)

Selain obat-obatan dan penanganan dokter, masyarakat juga sering melupakan hal lain yang menyokong sehat tidaknya orang, yaitu faktor psikologis dan gaya hidup!!!

Dari sisi dokter, banyak juga dokter yang hanya memeriksa secara teks book, kurang memperhatikan psikologis si pasien. Bahkan tersenyum ramah dengan pasien aja enggak. Banyak juga dokter hanya hanya memeriksa dan meresepkan obat ‘asal mahal’ kepada pasien. Sungguh, akhir-akhir ini saya semakin takut dengan dokter abal-abal.

Dari sisi pasien, mereka mengkonsumsi obat dengan keinginan memperoleh kesembuhan yang instan. Setelah sembuh, mereka kembali dengan gaya hidup mereka yang tidak sehat. Mereka juga sering lupa memperhatikan faktor psikis mereka. Misal tetap berada dalam lingkungan stres (jadi terdakwa korupsi misalnya), jarang olahraga, merokok, dan memakan makanan yang tinggi lemak dan karbohidrat.

Hal itu seperti semboyan serba instan berikut ini: muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga.