Jumat, 30 Maret 2012

Ada Manusia, yang Lain Diharap Minggir

Suatu saat saya boker. Belum sempat keluar apapun, terdengar sebuah kecipak di kloset. Saya tengok: walah, seekor tikus yang gelagapan sedang berusaha keluar dari kubangan kloset. Hiiiiiyyyy...

Saya tidak berteriak histeris itu sih. Segera saya tutup pintu kamar mandi dan mengambil tongkat. Entah mungkin karena takut digebuk tiba-tiba bisa merangkak keluar dari kloset. Saya dan Mbak Pri—asisten rumah tangga—mengejar-ngejar tikus itu. Tikus itu sukses meloloskan diri melewati sebuah lubang kecil yang terhubung dengan rumah tetangga.

Awalnya saya agak traumatis. Takut di dalam kloset terdapat another tikus. Tapi toh karena hasrat kebelet ya gimana lagi. Mungkin tikus itu tergelincir di dalam kloset dan tidak bisa meloloskan diri. Sehingga ia malah menyelam dan terjebak di situ. Dan ketika akhirnya ia mau keluar, eh, malah melihat pantat saya. Lalu saya berpikir, ia pasti lebih ketakutan dan traumatis daripada saya.

Super serakah

Ketika membayangkan peristiwa itu, saya mulai menyadari bahwa saya adalah makhluk yang serakah. Pokoknya, saya ingin rumah saya bersih. Nggak boleh ada kecoa, nyamuk, tikus, lalat, apalagi ular dan tomcat!!

Bapak saya pernah cerita. Dulu, waktu bapak saya kecil, di molo (balok yang menopang rangka atap) sering terlihat ular mondar-mandir mencari tikus. Namun, lama kelamaan tidak ada lagi ular-ular karena hunian di sekitar kami semakin padat.

Nah, giliran si pemangsa tikus hilang, meledaklah populasi tikus. Dan sekarang saya menggerutu karena banyak tikus. Namun saya tidak membayangkan saya akan memelihara ular untuk membasminya: mengingat kucing tak lagi berburu tikus.

Burung yang nyasar di ruang perpustakaan rumah.
Mungkin karena rumah mereka sudah banyak terusik saya.

Manusia selalu ingin keadaan ideal bagi mereka, namun tak pernah ideal bagi kaum lainnya. Bahkan kalau di suatu rumah ada hantunya, terpaksa paranormal bertindak dan membujuk si makhluk halus pindah lokasi. Pokoknya tempat tinggal manusia ya manusia! Nggak boleh ada yang mengganggu.

Belum lagi kalau ada serangan semacam ulat bulu. Memang tidak sedikit yang takut dengan makhluk bernama ulat. Padahal, peristiwa seperti itu merupakan suatu siklus, bahkan bisa membantu pertumbuhan tanaman. Tapi kejadian seperti itu justru ditanggapi berlebihan dengan menyemprotkan pestisida ke mana-mana. Padahal, dengan menyemprotkan pestisida, konsumen yang paling terimbas adalah manusia karena ia merupakan makhluk di pucuk piramida makanan.

Ulat hitam

Beberapa bulan lalu, serangan ulat juga terjadi pada tanaman daun ungu saya. Tanaman itu bopeng-bopeng dimakan ulat hitam yang menyeramkan. Namun, beberapa bulan kemudian banyak kupu-kupu cantik di rumah saya. Selain itu tanaman daun ungunya kembali tumbuh subur. Indahnya kupu-kupu yang berterbangan di sekitar saya itu suatu saat juga akan bertelur di daun, dan kembali terdapat ulat-ulat yang memakan dedaunan itu. Hal itu sangat alami bukan?

Untungnya serangan tomcat yang terjadi akhir-akhir ini ditanggapi secara berbeda. Media massa sudah semakin cerdas dengan membuat judul berita: tomcat sahabat petani. Penyemprotan juga dilakukan dengan pestisida organik. Menurut saya itu awal yang bagus untuk ‘bersahabat’ dengan makhluk lainnya. Saya tidak bisa membayangkan kalau manusia tetap mengadakan berbagai permusuhan dengan makhluk-makhluk yang sejatinya berguna itu.

Rabu, 07 Maret 2012

Basa-basi versus Aneh-aneh

Beberapa hari lalu, Erick, pacar saya, mengungkapkan keheranan terhadap saya. Menurutnya saya cenderung menarik orang untuk mengobrol.

“Kita berdua sama-sama lagi membaca, tapi kok yang diajak ngobrol kamu,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Katanya ini sering terjadi. Seperti di Malioboro beberapa waktu lalu, ada seorang fotografer wanita yang mengajak ngobrol saya, dan bukannya mengajak ngobrol Erick atau orang lain.

Saya tidak bermaksud nyombong seandainya saya punya kemampuan 'menarik' orang. Pasalnya, tak semua yang ngobrol itu ‘nggenah’.

Kadang malah orang aneh yang mengajak saya bicara. Contohnya beberapa hari lalu, seorang pria yang mengajak ngobrol saya.

“Mbak kerjaannya apa?”
“Mmm... sekarang sedang menulis. Eh, bisa dibilang serabutan,” jawab saya.
Sebagai basa basi dan menaruh hormat, saya ganti bertanya, karena dari tadi orang ini yang terus bertanya.
“Lha kalau bapak, kerjaannya apa?” tanya saya.
“Pendusta.”

Jederr.... Pria itu berbicara tidak dengan nada bercanda, ia serius. SUNGGUH. Ini membuat saya menerka, jangan-jangan pendusta bisa sejajar dengan profesi baru lain seperti sosialita, dan aktivis jejaring sosial.

Ada juga orang yang ingin kenalan dengan saya dengan cara menebak-nebak.
“Kamu agamanya apa sih? Kristen?”
“Bukan.”
“Budha?”
“Bukan.”

Dan dia urutkan ke semua agama besar di Indonesia sampai tamat.

Tak puas dengan Agama, karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta itu bertanya hal lain.
“Kamu dari daerah mana sih? Padang?”
“Bukan.”
“Medan?”
“Bukan.”
“Sulawesi Selatan?”
“Bukan”

Dan dia urutkan sama seperti pertanyaan sebelumnya. Mungkin nyaris 33 provinsi ia tebak. Saya mulai menerka-nerka bahwa ia dulu maniak ikut kuis ‘who wants to be millionare’ dengan pilihan bantuan: boleh menebak sesukanya.

Menurut teman saya Kurnia Harta Winata saya cenderung menarik orang-orang aneh. Berbicara dengan orang aneh terdapat sisi positif karena saya justru lebih bisa mengingat orang-orang aneh itu dibanding orang yang ngobrol tentang hal biasa alias basa-basi.

Omong-omong soal basa-basi, kadang saya sendiri merasa terlampau basa-basi. Hanya ngomong iya-iya, tanpa begitu konsentrasi apa yang dikatakan orang. Contohnya seperti ini, dan ini berkali-kali terjadi:

“Anaknya ya Mbak? Umur berapa?” tanya seorang Ibu-ibu yang lewat di depan rumah. Waktu itu saya tengah menggendong keponakan saya.
“Iya, 9 bulan bu.”

Lain kali, saya bersepeda ingin ke pasar, ada seorang tetangga baru yang bertanya.
“Mau pulang ya Mbak?”
“Iya,” jawab saya.
Akibatnya, selama beberapa lama tetangga itu selalu mengira saya pembantu di rumah Bapak saya.

Tentang bab asisten rumah tangga ini tak hanya Ibu itu yang bertanya, tapi yang lain juga.
“Dulu perasaan sampeyan belum kerja di sini,” tanya seorang Ibu ketika saya sedang menyapu halaman.
“Iya sih Bu,” jawab saya.
“Oh, dulu kerja di mana?”
“Di Jakarta.”
“Oh, jadi pas Mbaknya (Majikan alias kakak saya-red) ngelairin, baru kerja di sini ya?”
“Iya,” jawab saya. Lagi-lagi saya tidak mau dan malas menjelaskan.
“Wah, kalau sudah seminggu gajinya lumayan ya,” cerocos ibu itu lagi.
“Nggg...”

Tapi terkadang saya terlalu apa adanya, bukan basa-basi.
“Mau ke mana Mbak?” tanya seorang tetangga. Sungguh, sebenarnya ini pertanyaan basa-basi. Orang tidak akan peduli andai kita menjawab pamit ke Timbuktu.
Dengan malas saya menjawab, “Ngg... ke Toga Mas Bu.” Toga Mas adalah sebuah toko buku di Jogja.
“Oh... Oleh-olehnya ya,” katanya.
“...” saya speechles dan cuma tertawa getir. Niatnya mau jujur apa adanya malah repot. ***

Rabu, 09 November 2011

Benjolan di Payudara, Duh!

Ketika saya bilang saya sakit flu, mungkin orang hanya akan bilang “Ooo.. Lekas sembuh ya.”
Tetapi berbeda ketika saya menjelaskan keadaan berikut ini.
“Ngg... aku habis operasi,” kata saya kepada teman.
“Oya? Operasi apa?”
“Payudara,” jawab saya.

Seketika itu berbagai macam pertanyaan bermunculan. Kok bisa dioperasi? Benjolan apa? Tumor? Ganas nggak? Kenapa sih buru-buru dioperasi? Ada juga yang berkomentar, ih ngeri ya.

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar, karena penyakit ini jarang dibahas.
Mungkin status berikut sering kita lihat di twitter atau fb:
“Flu nih.”
Namun jarang yang menulis status dengan gamblang seperti ini:
“Lagi punya benjol di payudara nih.”

Beberapa wanita menutup rapat, bahkan enggan membicarakannya ketika mendapati dirinya terkena tumor, meski tumor jinak di payudaranya. Padahal, benjolan di payudara banyak dialami wanita usia produktif.

Saya adalah salah satu wanita yang mengalami benjolan di payudara. Dua minggu lalu, sekitar 3 hari sebelum menstruasi, saya terkejut menyadari payudara sebelah kiri saya agak sakit saat menggendong keponakan saya. Ketika saya periksa, ternyata ada benjolan di payudara kiri. Benjolan tersebut tidak menonjol, melainkan hanya terasa kalau diraba.

Operasi
Keesokan harinya, hari Selasa, saya langsung menemui dokter bedah onkologi di rumah sakit. Sebelum bertemu dokter, saya menjalani USG. Hasilnya terlihat ada benjolan padat (echoless) ukuran kurang lebih 7 mm x 5 mm. Diagnosis USG mengarah ke fibroadenoma atau FAM. Dokter praktek yang saya temui berkata sebaiknya benjolan tersebut diangkat.

Untuk mengetahui lebih lanjut apakah benjolan itu ganas atau jinak, kakak saya merekomendasikan untuk melakukan biopsi. Hari Jum’at saya melakukan biopsi di lab patologi anatomi. Dengan jarum suntik, cairan atau jaringan di dalam benjolan diambil. Jaringan dioleskan ke dalam preparat kaca untuk dianalisis. Setelah itu, agak deg-degan juga membuka hasil pemeriksaannya. Alhamdulillah, jenis benjolan yang saya alami termasuk yang jinak.

Meski sudah diketahui jinak, tapi benjolan tetap disarankan diambil untuk dianalisis lebih lanjut. Oleh sebab itu, saya melakukan operasi setelah selesai menstruasi Oktober lalu. Ada beberapa orang yang menanyakan mengapa saya memilih dan mau dioperasi. Mereka ini biasanya menganggap operasi merupakan sesuatu yang mengerikan. “Lha wong disuntik aja takut, apalagi operasi,” mungkin begitu pendapat mereka.

Saya menjalani operasi karena berprinsip sumber penyakit harus dibereskan dulu. Saya ingin ada analisis menyeluruh, bukan hanya meraba-raba, dan berharap-harap cemas apakah benjolan ini bisa hilang sendiri. Segera saya putuskan untuk operasi meski harus meminjam dana untuk operasi.

Dalam kasus saya, operasi merupakan cara yang tepat untuk menganalisis apa yang saya alami secara tepat. Karena setelah operasi, ada tahapan pemeriksaan jaringan, yang penting untuk mengetahui kecenderungan jaringan tersebut.

Pengalaman Teman
Sebelum operasi saya sempat bertanya-tanya kepada teman yang pernah mengalami hal yang sama. “Kalau aku sih ken, pernah mencoba alternatif, habis lumayan banyak. Jadi aku operasi. Karena pada dasarnya, ada FAM yang bisa sembuh sendiri, ada juga yang mesti diangkat,” katanya. Waktu itu saya masih berpegang pada diagnosis awal dokter bahwa saya menderita FAM.

Sewaktu saya periksa di rumah sakit, saya juga ketemu Ibu-ibu yang bercerita tentang penyakitnya. Ia duduk disamping saya ketika saya menunggu hasil USG dari rumah sakit. Ia berkata bahwa ia punya benjolan di payudara sejak usia 12 tahun. Ia tidak pernah memeriksakan benjolan itu. Kemudian, setelah usia 42 tahun, ia menderita kanker payudara. Kemungkinan benjolan yang ia derita dahulu itu menjadi kanker yang ia derita sekarang. Ibu yang bekerja di Jakarta itu akhirnya ke dokter setelah berbagai obat alternatif nan mahal harganya tidak membawa hasil.

Meski begitu, saya memutuskan operasi atau bukan tidak terkait dengan percaya atau tidak percaya terhadap pengobatan alternatif atau semacamnya. Saya memutuskan pergi ke dokter dan melakukan operasi terutama agar dapat segera menerima keadaan (secara psikis) dan memahami benar-benar apa yang tengah terjadi.

Dengan menjalani berbagai pemeriksaan, pikiran saya jadi tenang dan tidak dibayangi rasa cemas. Dengan mengetahui apa yang terjadi, saya merasa bisa berpikir jernih dan memutuskan apa yang baik bagi diri saya.

Macam-macam Tumor
Dokter Herjuna Herdiyanto SpB (Onk) menjelaskan pada saya, ada dua macam tumor payudara, yang jinak, dan ganas. Yang jinak terdiri dari dua, yaitu Fibroadenoma atau FAM, dan Fibrocystic disesase atau FCD.

FAM terdiri dari dua macam, FAM murni, dan Phylloids. FAM murni tidak ada kecenderungan menjadi ganas, namun tipe phylloids mempunyai kemungkinan menjadi ganas, sehingga diperlukan observasi rutin.

Untuk FCD, dibedakan menjadi 3 stadium, I, II, dan III. Stadium I cenderung jinak, sedangkan stadium II dan III bisa mempunyai kecenderungan ke ganas. Stadium II bisa 15—20 tahun menjadi ganas, sedangkan stadium III lebih singkat, bisa dibawah 5 tahun. Oleh sebab itu pada stadium II, diperlukan observasi setiap 3—6 bulan. Sedangkan stadium III diobservasi 2 minggu sekali sampai 1 bulan. Di situlah perlunya saya mengangkat benjolan di payudara saya, yaitu untuk menentukan saya ada di stadium mana.

Melalui operasi-lah, saya menjadi tahu diagnosis yang lebih tepat. Setelah benjolan saya diangkat, baru ketahuan ternyata saya mengalami fibrocystic disease (FCD) atau kista payudara, bukannya FAM seperti diagnosis awal. Meski begitu, saya tetap merasa lega karena baik FAM dan FCD sama-sama tumor jinak. Bedanya, FAM padat, sedangkan FCD berisi cairan.

Sabtu lalu saya menjalani operasi. Saya dibius lokal atau hanya di sekitar payudara. Operasi berlangsung singkat, sekitar 1 jam lamanya. Karena saya masih sadar, saya bercengkerama dan bergurau sepanjang operasi dengan dokter dan para perawat. Di ruang operasi juga terdapat TV yang bisa saya dengar siarannya. Saya bahkan bisa terus berpesan pada dokter dan perawat agar jahitannya rapi.
“Iya Mbak, ini rapi jali wis, jahitannya,” kata seorang perawat.
Saya pengen tertawa, tapi hanya bisa meringis karena waktu itu payudara saya tengah dijahit.***

Rabu, 02 November 2011

Pilih Obat Medis atau Alternatif?

Saya sering mendengar, ketika ada orang yang sakit kanker, jantung, atau hati, orang menawarkan pengobatan alternatif. Jangan salah, walau dibilang obat alternatif, harganya setara bahkan lebih mahal dari obat-obatan farmasi. Ada yang sebulan habis 400-ribu bahkan jutaan. Masyarakat diiming-imingi produk yang ‘dijamin sembuh tanpa operasi’.

Ketika mengkonsumsi herbal yang disodorkan, orang meminumnya tanpa berkonsultasi ke dokter. Akibatnya, tak jarang ditemui, penyakit yang menggerogotinya semakin parah. Saat sudah gawat, ia baru menempuh jalur dokter.

Ada cerita yang saya dapat dari pasien yang saya temui di rumah sakit. Ia mempunyai benjolan di payudara sejak umur 12. Ia biarkan saja sampai umur 40 tahun. Benjolan itu ternyata menjadi kanker alias tumor ganas. Berikutnya, karena takut operasi, ia mencoba obat alternatif seharga jutaan rupiah. Ternyata, tidak ada peningkatan. Setelah parah, ia baru memutuskan untuk menemui dokter bedah.


Sebenarnya, sejauh mana sih, kita harus mengandalkan herbal alternatif? Bener nggak sih, mengkonsumsi obat herbal?

Kendala yang saya lihat selama ini, banyak masyarakat yang kurang mengerti informasi yang lengkap dan benar. Ada yang bilang, obat herbal adalah obat tanpa efek samping. Benarkah begitu? Tentu saja tidak. Sesuatu yang dikonsumsi berlebihan tentu ada akibat yang tidak baik. Misal, bunga rosella yang dikonsumsi terus menerus akan memperberat kerja ginjal akibat vitamin C-nya yang berlimpah.

Ingat lho, opium sebagai bahan morfin dan herioin itu juga dari tanaman alias herbal. Ketika dikonsumsi berlebihan? Ya mabok atau sakaw... Jadi yang namanya alternatif bukan berarti tanpa efek samping!

Sepotong-sepotong
Selama ini masyarakat cenderung membaca segala sesuatu dengan sepotong-sepotong. Ketika dibilang daun sirsak obat kanker, kemudian masyarakat mengonsumsinya tanpa pernah terlebih dahulu mendapat penanganan dokter atau tahu bagaimana stadium kanker yang ia derita.

Hal Itu ibarat terserang stroke dan disuruh minum serbuk bawang putih yang terkenal sebagai obat darah tinggi. Tentu saja bawang putih tidak bisa menyembuhkan si pasien stroke, karena obat herbal bukan obat yang bekerja secara cepat, tetapi membutuhkan proses jangka panjang. Penanganan kegawatdaruratan semacam itu harus ditangani tenaga kesehatan dengan obat farmasi ‘pertolongan pertama’ yang langsung menuju ke bagian tubuh yang diperlukan, misal obat pengencer darah. Oleh sebab itu, ketika akan mengkonsumsi herbal, sebaiknya ketahui dulu bagaimana keadaan tubuh kita dan penyakit yang menyerang.

Pengalaman saya pribadi dan perbincangan dengan herbalis, obat alternatif baik digunakan setelah kita tahu persis apa penyakit kita. Selain itu, meski dari tanaman, obat herbal tidak baik diminum secara berlebihan. Ya seperti kita makan sehari-hari lah, kalau tiap hari makan ayam atau makan bayam teruuus... tentu tidak baik bagi tubuh kita. Selain itu, kenali benar mengenai produk herbal yang dikonsumsi, misal dosis yang wajar, dan efek samping yang mungkin ditimbulkan. Selain itu biasanya obat herbal tidak dikonsumsi secara tunggal, ia akan lebih baik bekerja ketika dikombinasikan dengan herbal lain yang cocok.

Serba instan
Obat herbal juga baik diminum ketika berhadapan dengan penyakit yang tidak butuh obat farmasi seperti flu ringan. Flu disebabkan oleh virus yang akan sembuh sendiri ketika ketahanan tubuh kita bagus. Oleh sebab itu, konsumsi obat herbal seperti wedang jahe dengan madu, serta makan makanan yang memperkuat pertahanan tubuh, misal meningkatkan konsumsi buah dan sayur dan beragam.

Umumnya, masyarakat tertarik dengan produk herbal nan mahal karena cenderung ingin hasil yang serba instan. Selain itu, mereka malah tidak percaya kalau mengkonsumsi obat herbal yang murah. Sungguh aneh bukan? Padahal, obat herbal yang terstandar pun itu tidak begitu mahal kok.

Menurut saya, obat herbal itu harusnya memang nggak mahal. Kalaupun ada yang mahal, itu akibat ulah sistem MLM atau propaganda produsennya :D Banyak lho, obat herbal yang murah meriah di sekitar kita: sirih merah, daun sirsak, lidah buaya, kunyit, dan masih banyak lagi.

Ketika saya terserang ambeien misalnya, saya biasa mengkonsumsi daun ungu untuk mengurangi peradangan dan pendarahan. Karena saya punya tanaman daun ungu di rumah, saya tidak perlu pusing-pusing membeli obat ambeien yang mahal di apotek. Saya juga mempertahankan pola konsumsi tinggi serat yaaang... haduuuh... harus dengan tekad kuat. Mengurangi produk tepung-tepungan (refined carbohydrate) dan produk hewani.

Tunas daun ungu yang saya tanam di rumah :)

Selain obat-obatan dan penanganan dokter, masyarakat juga sering melupakan hal lain yang menyokong sehat tidaknya orang, yaitu faktor psikologis dan gaya hidup!!!

Dari sisi dokter, banyak juga dokter yang hanya memeriksa secara teks book, kurang memperhatikan psikologis si pasien. Bahkan tersenyum ramah dengan pasien aja enggak. Banyak juga dokter hanya hanya memeriksa dan meresepkan obat ‘asal mahal’ kepada pasien. Sungguh, akhir-akhir ini saya semakin takut dengan dokter abal-abal.

Dari sisi pasien, mereka mengkonsumsi obat dengan keinginan memperoleh kesembuhan yang instan. Setelah sembuh, mereka kembali dengan gaya hidup mereka yang tidak sehat. Mereka juga sering lupa memperhatikan faktor psikis mereka. Misal tetap berada dalam lingkungan stres (jadi terdakwa korupsi misalnya), jarang olahraga, merokok, dan memakan makanan yang tinggi lemak dan karbohidrat.

Hal itu seperti semboyan serba instan berikut ini: muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga.

Rabu, 05 Oktober 2011

I’m nobody

Beberapa hari lalu saya mengurus perijinan acara di salah satu kantor pemerintah. Karena tidak tahu harus masuk di kantor yang mana, saya dan teman-teman saya bertanya di pos satuan pengamanan atau satpam. Ternyata pos satpam ini lain daripada yang lain. Selain menjadi satpam, ia juga menjadi bagian humas dan resepsionis.

“Kalau Kepada-nya kaya gini nggak bisa ngadep ke kantor Mbak,” jelasnya ketika saya tunjukkan surat dari kami.
“Tapi Pak, apakah saya bisa menanyakan ketentuan lebih lanjut di kantor? Ke bagian humasnya barangkali?” tanya saya.

Saya bertanya seperti karena saya merasa aneh, pengurusan surat kok diurusi oleh satpam. Repot kan, kalau syaratnya ada yang kurang dan musti bolak-balik. Tetapi Bapaknya bersikeras dengan agak bernada tinggi, bahwa kami akan percuma kalau masuk kantor tanpa merubah sesuai apa yang dikatakannya.

Bapak-bapak satuan keamanan itu hanya disuruh atasan tentunya, jadi saya tidak ambil pusing dan ngotot. Tapi please deh, terus tugas humasnya ngapain? Nonton TV? Bercengkrama?

Umumnya, ketika ada yang bertamu di rumah, kita dipersilakan masuk. Kecuali tamunya bapak pos yang memang tergesa-gesa mengirim kiriman paket. Sedangkan di kantor pemerintah tersebut, kami hanya berdialog di dekat gerbang pintu masuk.

Saya merasa bukan rakyat Indonesia ketika mendapat perlakuan seperti itu. Usul saya, seharusnya nama ‘pemerintah’ diganti menjadi kantor ‘pelayan rakyat’. Wajar bukan, karena duit modal segala macam berasal dari rakyat dan tugas merekalah melayani karena dipercaya untuk mengelola modal seluruh rakyat Indonesia. Tapi apa yang mau dikata, saya bukan anggota DPR pakar telematika yang bisa berkata, “Anda tahu saya siapa?”

Keesokan harinya, kami kembali ke kantor itu. Ketika akan masuk, dari kami bertiga hanya saya yang tidak diijinkan masuk. Alasannya: saya memakai sendal!
“Nanti takut dimarahi di dalam,” kata Bapak itu.

Hah?! Saya cuma bengong. Saya jadi membayangkan waktu mahasiswa dengan ada dosen killer yang memarahi mahasiswa-nya kalau pake sendal jepit.

Saya memakai atasan batik yang cukup sopan, dan celana panjang. Tapi, gara-gara sendal (meski bukan sandal jepit yang swallow tapi merek st-Yves, saya tidak diperbolehkan masuk.
Akhirnya, kedua teman saya-lah yang masuk dan mengurus suratnya.

Saya tidak memakai sepatu karena sepatu yang saya punya hanya sepatu kets. Karena saya pikir tidak cocok antara atasan batik dan sepatu kets, maka saya tidak memakai sepatu. Masak iya, saya harus beli sepatu dulu? Tentu lain ceritanya kalau saya pakai sendal high heels terus naik BMW.

Namun, sekali lagi, saya tidak berusaha macam-macam karena permasalahannya bukan di satpam-nya. Toh ia juga pasti hanya menjalankan tugas dari atas. Mungkin juga tugas dari atasan tersebut dimodifikasi supaya penampilan si kedua satpam itu sanggup membuat lari siapa saja, dari maling sampai siapa saja yang dicurigai sebagai kalangan bawah.

Saya jadi ingat dengan salah satu artikel di koran yang saya baca. Ada wartawan yang mencoba memasuki sebuah kantor dengan dua penampilan yang berbeda. Satu dengan kemeja lusuh, tas lusuh, dan sepatu lusuh. Penampilan hari berikutnya dengan kemeja still, tas bagus, dan blackberry di tangan. Kedua penampilan itu sangat berbeda perlakuannya, yang ditanya-tanya. Namun hari berikutnya ketika memakai penampilan yang ‘wah’, ia dipersilakan lewat begitu saja.

Sampai di rumah, saya cerita kepada kakak dan Bapak saya. Mereka tertawa.

“Yah, begitulah, kantor pemerintah itu selalu ngurusin yang remeh-temeh, ga ngurusi yang penting. Kalau staf atau pegawainya ya memang wajib berpakaian sesuai dengan ketentuan. Hal itu karena mereka bertugas melayani. Tapi kalau pengunjungnya nggak wajib dong,” kata Kakak saya.

Berikutnya Bapak bercerita, yang bagus itu seperti salah satu sekolah di Jogja, Kolese de Britto. Nggak tahu angkatan berapa, tetapi ia bercerita ketika dulu ada kebijakan nggak boleh bawa mobil ke sekolah, mereka sepakat berangkat sekolah pake truk dan kuda. Ketika nggak dibolehin pake sendal, mereka pakai teklek (semacam selop dari kayu) ke sekolah. Akhirnya, sekolah menerapkan bahwa penampilan tidak menjadi sesuatu esensial, tetapi yang penting mereka pintar. Kalau tidak pintar, pasti akan tinggal kelas, jelas Bapak saya.

Saya sangat setuju, penampilan yang sopan dan enak dipandang itu penting. Penampilan yang lusuh apalagi bau, tentu mengganggu sekitar kita. Penampilan yang rapi menunjukkan bahwa Anda menghormati kepada sekeliling Anda.

Namun, saya tidak setuju kalau harus memakai sepatu atau dasi adalah penampilan ter-rapi dan ter-hormat. Saya malah terheran-heran dengan bangsa ini. Wong iklimnya tropis kok pake sepatu dan dasi. Bahkan di acara tertentu diharuskan memakai jas atau blazer. Merasa konyol sekali ketika saya selalu kedinginan di setiap acara seminar atau konferensi. Ironis bukan, ketika punya negeri bermandikan cahaya matahari tetapi saya malah kedinginan?

Saya masih ingat ketika dulu mengikuti sebuah acara. Meski memakai blazer dan sepatu, saya tetap kedinginan. Begitu juga di seminar Rene Suhardono. Rene yang merupakan pembicara utama seminar itu berbicara sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Katanya, “Aduh, bukan karena saya genit, tapi ya ampun AC-nya dingin banget ya?”

Lagi-lagi saya merasa seluruh bangsa ini sudah menjadi korban mode. Padahal, kita sudah punya baju batik yang adem dan nyaman dipakai di daerah tropis. Sayangnya, yang ditiru dari negara lain bukannya perilaku hidup bersih atau memilah sampah, tetapi hal-hal yang memboroskan sumber daya alam dan tenaga.


I'm Nobody!
Who are you?
Are you – Nobody – too?

(Puisi Emily Dickinson)


Selasa, 10 Mei 2011

Membuat Perjalanan Lebih Bermakna


Berikut ini yang saya lakukan selama berlibur di Bali: berangkat, foto-foto narsis, kemudian pulang kembali. Yang saya ceritakan adalah: Bali indah. Tidak lebih dari itu. Kalau tidak percaya, silakan lihat dari foto-foto saya. Tetapi kalau ditanya, apakah penduduk Bali ramah-ramah, apa masakan Bali enak, apakah tinggal di Bali nyaman, saya tidak bisa menjawabnya. Karena ya itu, saya hanya datang, berfoto, dan pulang.

Bepergian dengan rombongan tur biasanya memang membuat interaksi dengan tempat yang kita tuju sangat terbatas. Paling pol hanya mendengar informasi dari pemandu wisata. Akibatnya, tidak ada yang bisa kita bagi selain foto-foto narsis saya. Ketika dituliskan pun, tulisan kita hanya berisi sejarah singkat atau menjadi panduan perjalanan yang sudah jadul ketika dilihat setahun kemudian.

Bagaimana memaknai perjalanan dan membuatnya lebih bermakna mungkin dapat kita pelajari dari Agustinus Wibowo. Pria yang akrab dipanggil Gus Weng itu menuliskan perjalanannya mengarungi negara-negara Afghanistan dan Asia Tengah dalam buku Selimut Debu dan Garis Batas. Penulis yang juga fotografer itu membuat tulisan perjalanan tidak hanya sebuah deskripsi, namun juga membawa manfaat bagi pembacanya. Tulisan pria kelahiran Lumajang itu berpegang pada unsur jurnalistik. Ditambah bumbu sastra, membuat pembacanya mempunyai kesan yang dalam.

Being local

Proses Gus Weng memperoleh cerita yang mendalam, ia paparkan di Acara Travel Writing Forum yang diadakan Smarttraveler dan Goodreads Indonesia pada 7 Mei lalu di Quack2 Resto, Gejayan, Yogyakarta. Menurutnya, tulisan perjalanan yang baik adalah membawa manfaat bagi pembacanya. Dari tulisan kita, pembaca tidak sekadar mendapatkan deskripsi, tetapi dapat mengambil berbagai pelajaran hidup darinya.


Untuk mendapatkan informasi yang rinci, tak ada cara yang lebih efektif selain berkomunikasi dengan penduduk setempat. Untuk berkomunikasi dengan penduduk, Gus Weng tak segan mempelajari bahasa di setiap negara yang ia kunjungi. Ia tidak tidak pernah menghitung berapa bahasa yang saya kuasai. Namun, beberapa yang menurutnya lancar adalah Mandarin, Inggris, Farsi (Iran, Afganistan, Tajikistan), Rusia, Urdu Hindi, Turki, Uzbekistan, Kirgiztan, Kazaktan, dan Mongol.

Selain mempelajari bahasa, ia tak segan hidup bersama masyarakat setempat. Dari situ ia tahu kisah hidupnya, kehidupan pribadinya, dan filosofi serta cara berpikir masyarakat sekitar. Pada akhirnya, detail seperti itu sangat memperkuat catatan perjalanan serta fotografi yang bersifat human interest.

Dalam proses being local, Gus Weng berterimakasih pada fotografi yang ia tekuni sebelum menjadi penulis. Saat mendalami fotografi, ia sadar bahwa kekuatan foto adalah ekspresi dari subjek itu sendiri. “Untuk mendapatkan foto yang baik, saya harus melebur, benar-benar masuk dalam kehidupan subjek foto, misal memakai pakaian yang sama dengan penduduk sekitar,” jelas penulis terbitan Gramedia itu.

Leburkan Ego

“Perjalanan adalah proses menembus garis batas. Saat menembus garis batas, pelan-pelan kita meleburkan ego kita. Dahulu saya menganggap bahwa saya pusat dunia atau sebuah ego yang berjalan. Sampai suatu titik, saya merasa saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanya manusia yang belajar dari alam dan hanya menerima apapun yang diajarkan kepada alam. Saya tidak lagi berusaha mengubah dunia.” –Agustinus Wibowo—

Gus Weng mengawali perjalanan-perjalanannya seperti backpacker lain untuk berkunjung ke berbagai negara. “Awalnya saya bertujuan untuk mencari warna hidup dan sebagai ajang pembuktian diri,” jelasnya. Namun, setelah sekian lama hidup di jalan, ia merasa bahwa perjalanan bukan masalah gaya-gayaan atau dengan budget tertentu kita melakukan kunjungan ke beberapa negara.

Awalnya sebagai pelancong, umumnya mencari objek-objek yang mencolok mata seperti warna-warni pakaian penduduk, atau tari-tarian yang eksotis. Namun, setelah hidup lama dengan masyarakat yang dikunjungi, Gus Weng menyadari bukan karena warna-warni pakaiannya sehingga mereka layak di tonton. Pada hakikatnya mereka adalah manusia yang sama seperti kita. “Dari situ, kata eksotis menjadi kata yang absurd bagi saya,” jelas pria yang saat ini tinggal di Beijing itu.



“Kalau awalnya banyak mengeluh, misal toiletnya begini, makanannya begitu, itu karena awalnya ada mindset untuk mengubah dunia. Tetapi ketika mindset ini sudah hilang, prinsipnya semuanya adalah proses belajar,” jelas Gus Weng. Intinya, secara perlahan-lahan meleburkan ego dari diri kita. Dari situ, Gus Weng ia memutuskan tidak hanya berkunjung, tetapi juga mencari proses mengalami. “Semenjak itu, perjalanan benar-benar mengubah diri saya secara maksimal,” jelasnya.

Tulisan berkualitas

Mengenai tulisan perjalanan yang berkualitas, Gus Weng berpendapat, seharusnya sudah ada konsep sebelum melakukan perjalanan. Siapkan sebuah pertanyaan yang perlu kita jawab dalam perjalanan yang akan menjadi benang merah selama perjalanan. Hal itu juga sebagai pedoman untuk melakukan riset awal. Misal, ‘adakah negeri impian di Mongolia?’ Atau ‘bagaimana Mongolia berubah dari bangsa nomaden untuk mencapai cita-citanya sebagai bangsa modern?’

Pertanyaan itulah yang menjadi suatu benang merah ketika Gus Weng melakukan perjalanan. Untuk mempersiapkan diri, sebelum perjalanan ia mempelajari sejarah bangsa Mongolia, kultur nomaden mereka, dan bahasa Mongolia. Setelah di sana, lakukan riset lokasi, serta cek dan ricek antara teori dipelajari dan kenyataan yang ditemukan. Bahan tulisan tidak sekadar pandangan mata, tetapi ia mengumpulkan bahan tulisan dalam bentuk wawancara dengan berbagai sumber atau berbagai data di lokasi.

Setelah kembali dari perjalanan, proses penulisan belumlah selesai. Setelah pencatatan dalam perjalanan penulis perlu melakukan verifikasi data. “Apa yang kita temukan di jalan belum tentu benar. Misal pendapat orang tentang tahun-tahun kejadian,” jelas Gus Weng. Jadi riset yang dilakukan Gus Weng terbagi menjadi tiga, sebelum perjalanan, selama perjalanan, dan setelah perjalanan.

Datang dan belajar

Bagaimana Gus Weng melakukan perjalanan dan menuliskan perjalanannya konsepnya sederhana. “Saya datang dan belajar,” jelasnya. Karena itu, buku-buku mengenai negara yang ia kunjungi sangat penting. Ia bercerita bahwa cara pandangnya tergantung dari buku-buku yang ia baca. Untuk itu, buku tidak lepas dari dirinya meski dalam perjalanan. “Ketika perjalanan, tas saya penuh dengan buku. Teman saya bilang saya ini perpustakaan berjalan,” jelas Gus Weng. Buku-buku yang ia baca dipilih yang berkaitan dengan negara yang bersangkutan.

Di Pakistan misalnya, ia membaca buku-buku yang berisi mengenai perjuangan-perjuangan negara-negara Islam dalam membentuk identitasnya sehingga tulisan-tulisannya lebih ke arah politisasi Islam di sana. Sedangkan ketika di Afghanistan, tulisan Gus Weng lebih ke arah romantis, karena ia membaca buku karya Nancy H Dupree yang menceritakan romantisme Afghanistan tahun 70-an.


Tinggal di suatu negara, Gus Weng mengaku tidak membatasi waktunya. Di Afghanistan ia tinggal selama tiga tahun. “Di sana saya dapat diajak bercakap, berdebat, atau bertukar pikiran,” jelas pria yang juga tinggal di Pakistan 6 bulan dan Asia Tengah selama 7 bulan. Filosofi yang Gus Weng pegang semakin lambat kita melakukan perjalanan, semakin lama kita tinggal, semakin banyak kita menyerap kebijakan dari tempat tersebut.

Dalam melakukan perjalanan-perjalanannya, Gus Weng belum pernah menjalin kerja sama dengan sponsor atau perorangan. Selama ini ia melakukan perjalanan seorang diri, dengan kemampuan sendiri, hasil menabung, dan riset sendiri. Dengan begitu, tidak ada yang mempengaruhi sudut pandang dalam penulisannya. “Kalaupun nanti ada yang mensupport, jangan sampai mempengaruhi cara pandang kita,” jelas Gus Weng. Ia tetap berpegang bahwa dalam proses menulis dan mengamati harus independen.

Kreativitas tulisan

Menurut Gus Weng, perjalanan adalah proses belajar dan merupakan bagian dari hidup. Setiap perjalanan langka dan unik. Oleh sebab itu, dalam setiap perjalanan, Gus Weng mencatat pengalamannya dalam buku harian. Untuk mencari kisah tersebut, ia lebih memilih bepergian seorang diri. “Dengan bepergian sendiri, saya punya perhatian dan waktu lebih banyak. Kulit saya merasakan, mata saya benar-benar mengamati, dan pikiran saya terus menerus berputar,” jelas pria kelahiran Lumajang itu.

Selimut Debu dan Garis Batas merupakan kisah sebelum Gus Weng menjadi jurnalis. Gus Weng mengaku, perjalanan itu tidak terlalu terkonsep dari awal. Berbeda dengan perjalanan yang dilakukan olehnya di Mongolia. Hal itu ada positif serta negatifnya. Positifnya, perjalanan yang belum dikonsep cenderung memunculkan banyak kejutan-kejutan karena perjalanan tidak direncanakan. Sisi negatifnya, cerita-ceritanya tidak begitu berkaitan. Ketika ingin dijadikan satu, tulisan tidak mengalir. Akibatnya perlu waktu lama untuk menjadikannya menjadi satu tulisan yang utuh.

Untuk membuat suatu tulisan perjalanan menarik membutuhkan kreativitas dalam memandang suatu perjalanan. Misal, di menara Eiffel sudah ada jutaan orang yang berkunjung, dan yang menulis pun sudah ratusan ribu orang. Di situ lalu dibutukan sudut pandang personal untuk berbeda. Misal, kita dapat menulis tentang percakapan dengan teman kita di Menara Eiffel tentang kontradiksi kehidupan di Perancis. Dengan begitu, tulisan kita diharapkan berbeda dengan tulisan ratusan ribu yang lain.

Aspek personal

Tulisan travel writing yang baik menurut Gus Weng adalah yang timeless. Artinya, dibaca 5 atau 20 tahun lagi tulisan masih relevan. Berbeda dengan buku panduan yang tahun depan infonya sudah tidak berlaku. Dengan adanya unsur timeless, refleksi yang dilakukan 10 tahun yang lalu masih ada hal relevan yang terkait, walaupun kehidupan berbeda dengan masa sekarang.

Yang membedakan sebuah travel writing dengan penulisan lainnya adalah sisi personal. Hal yang ditulis Gus Weng bukanlah catatan jurnalistik murni, sejarah Afganistan, atau keadaan etnografi masyarakatnya, tetapi merupakan catatan personal perjalanan pribadinya. Orang-orang yang ia jumpai adalah orang yang ia kenal secara personal. Melalui pengamatan pribadinya, Agus mengajak pembaca untuk melihat keadaan yang lebih besar dari negara yang ia kunjungi.


Aspek personal dalam tulisan perjalanan penting. Namun, yang terpenting ego jangan terlalu menonjol. Yang personal itu adalah sudut pandangnya. Bukan berarti penulis terkesan menjadi pahlawan dari tulisannya. “Saya kurang menyukai tulisan perjalanan yang egosentris, tentang dirinya sendiri, seolah-olah ia menjadi pusat dunia. Karena menurut saya, seseorang yang melakukan perjalanan sudah meleburkan egonya dan hanya berlajar dari alam,” jelas Gus Weng.

Jurnalisme sastrawi

Mengenai sisi jurnalisme sastrawi dalam karyanya, Gus Weng mengaku mempunyai seseorang yang berpengaruh, yaitu Andreas Harsono. Di Pakistan, ia belajar tentang jurnalisme sastrawi lewat tulisan Andreas. Dalam tulisannya ia tetap berpegang teguh dengan fakta atau kenyataan. Tulisannya tidak dibumui sesuatu yang fiksi. Dalam tulisan-tulisannya, Gus Weng bukan menebak-nebak pikiran orang. “Tokoh-tokoh dalam kisah itu bukan ciptaan saya, sehingga saya tidak tahu pemikiran mereka dan bukan hasil menebak pikiran mereka,” jelasnya.

Mengenai inspirasi, Gus Weng terpengaruh karya V.S Naipaul, peraih nobel kesastraan. Sebagian karyanya fiksi, tetapi Gus Weng menyukai karya non fiksinya seperti Among the Believers, Beyond Belief: Islamic excursions among the converted peoples, dan catatan perjalanan V.S Naipaul di India. Penulis favorit lainnya adalah Ryszard Kapuściński. Gaya penulisannya ringan, tetapi dalam tulisannya sarat dengan refleksi yang bisa diambil, meski dalam satu paragraf saja.

Menurut Kris Budiman, penulis sekaligus budayawan mengatakan, ciri jurnalisme sastrawi bukanlah sekadar dituliskan kembali secara deskriptif, tetapi dikisahkan menjadi naratif. “Karya Agus mempunyai kualitas kesastraan karena ia sangat menguasai peralatan bercerita. Saya tidak rela apabila ia hanya dikategorikan karya jurnalistik,” jelas Kris. Berbeda dengan karya Laskar Pelangi yang banyak dibumbui fiksionalistas, karya Agus lebih setia dengan pengalaman faktualnya.

Foto-foto Agustinus Wibowo, dapat dilihat di http://www.lightstalkers.org/avgustin

Minggu, 08 Mei 2011

Melebur dalam Subjek Fotografi

Berikut ini yang saya lihat di acara hunting bersama komunitas fotografi di Jakarta: Di pojok jalan, terlihat seorang bapak tua, yang nampaknya tertidur. Bajunya lusuh, compang-camping, kontras dengan gedung-gedung kantor yang megah di sekitarnya.

Seketika itu beberapa fotografer muda mendekat. Beberapa jepretan mendarat padanya. Bapak yang semula nampak tertidur itu berkata dengan muka masam ‘Sudah miskin, masih dijeprat-jepret pula’. Ia menunjukkan ketidaksenangannya pada fotografer muda yang menjadikan dirinya sebagai objek fotografi. Nasibnya jauh berbeda dengan model cantik yang dibayar seusai pemotretan.

Teknologi kamera yang canggih dan murah saat ini memunculkan banyak fotografer. Sayangnya, dalam prakteknya--demi mengejar foto--si fotografer terkesan asal jepret. Alih-alih dapat foto yang bagus, malah mendapat potret bapak dengan muka masam seperti cerita di atas.

Asal jepret
Kejadian di atas banyak dialami karena kurang adanya interaksi antara fotografer dengan objek yang difoto. Siapa sih, yang suka difoto orang dengan membabi buta oleh orang yang tidak dikenal? Oleh sebab itu, kedekatan dengan objek, terutama pada fotografi human interest itu sangat penting. Namun, untuk mendekatkan dengan objek memang butuh banyak usaha. Apalagi di negara lain, yang kerap terkendala bahasa.

Salah satu fotografer jurnalis yang menghasilkan foto-foto human interest yang menarik adalah Agustinus Wibowo. Agustinus atau yang biasa dipanggil Gus Weng adalah seorang fotografer dan penulis. Beijing, Tibet, Nepal, India, Pakistan, Afganistan, Uzbekistan, Turkmenistan adalah beberapa negara yang pernah ia kunjungi. Ia tak segan mempelajari bahasa di setiap negara itu demi bisa berinteraksi dengan masyarakatnya dan mendapatkan foto serta bahan tulisan yang mendalam.

Penulis buku Selimut Debu dan Garis batas itu tinggal di Afghanistan selama tiga tahun untuk benar-benar melebur ke dalam masyarakatnya. Walaupun tidak mempunyai dasar fotografi atau jurnalistik, kegigihannya membuat karya fotonya diminta untuk PBB dan berbagai NGO. Dalam acara Cephas Photo Forum di Multiculture Campus Realino, Gejayan, Yogyakarta pria yang berasal dari Lumajang itu bercerita bagaimana mendapatkan ekspresi subjek foto yang menarik dan natural.

Melebur
Menurut pria yang kini tinggal di Beijing itu, kekuatan suatu foto adalah ekspresi dari subjek foto. Untuk mendapatkannya, antara fotografer dan subjek membutuhkan komunikasi yang dekat. “Untuk mendapatkan foto yang baik, saya harus melebur, benar-benar masuk dalam kehidupan subjek foto,” jelas pria yang pernah menempuh pendidikan di Tsinghua University itu.

Untuk mendapatkan objek yang natural, ia memakai pakaian yang sama, benar-benar tinggal di rumah penduduk 1—2 minggu. “Saya jadi tahu kisah hidup mereka, kehidupan pribadinya, dan selanjutnya belajar mengengai filosofi dan cara berpikir penduduk tersebut.” Selain manjur untuk mendapatkan angle human interest yang bagus, informasi itu sangat membantu untuk membuat catatan perjalanan yang baik.

Waktu untuk tinggal di suatu negara tidak Gus Weng batasi. “Jika banyak yang perlu dipelajari, saya akan tinggal cukup lama,” jelasnya. Di Afghanistan, untuk mendalami ia tinggal selama 3 tahun. Di Pakistan 6 bulan, di Asia Tengah total 7 bulan. Ada filosofi yang dipengang Gus Weng. Semakin lambat kita melakukan perjalanan, semakin lama tinggal di suatu tempat, semakin banyak kita menyerap kebijakan dari tempat tersebut.

Saya dan Gusweng di acara Travel Writing :D*

*Foto by Natalia Natty