Senin, 21 Februari 2011

Kata Bapak Polisi Saya Teladan!

Dulu, saya dapat SIM C lewat calo. Itu karena permintaan Bapak saya yang aneh. "Sebelum latihan motor di jalan raya, kamu harus punya SIM dulu," pinta Bapak. Padahal, waktu itu saya belum mahir mengendarai motor.

Bapak memang ngotot agar saya punya surat ijin mengemudi sebelum belajar motor di jalan. Alasannya, bahaya kalau pas belajar dan kecelakaan tanpa SIM. Itu karena tanpa mengantongi surat, kita mudah menjadi pihak yang disalahkan ketika terjadi insiden.

Lah, gimana lulus tes kalau naik motor pun masih kaku? Terpaksalah saya urus SIM di calo. Lewat perantara, saya bisa menggarap tes asal-asalan. Mata merem aja lulus. Nggak lulus ujian praktek pun bisa teteup dapat SIM.

SIM raib
Suatu saat ketika bekerja di Jawa Barat, SIM itu hilang. Saya malas mengurus surat kehilangannya. Pasalnya di sana sehari-hari saya tidak pernah naik motor. Pergi ke mana saja biasa mengandalkan angkot, ojek, atau kereta.

Belakangan, saya baru tahu bahwa tes SIM ulang tanpa calo itu sulit. Tahu begitu, dulu saya semangat mengurus SIM hilang itu deh:( Akibatnya, ketika pulang ke kampung, saya harus tes ulang untuk mendapatkan SIM.

Sebenarnya saya malas sekali ikut ujian. Namun, bagaimanapun saya tetap harus mencari SIM kembali. Itu karena angkutan umum di kota saya itu 'hidup enggan, mati segan'. Akibatnya, sepeda motor merupakan kendaraan utama saya dan penduduk lainnya.

Guna mendapatkan SIM, pertama harus menjalani tes tertulis. Apabila lolos, saya dapat mengikuti tes praktek. Karena sudah pernah tes abal-abal beberapa tahun lalu, saya menyepelekan tes itu. Aih, paling tes tulisnya itu-itu mlulu. Karena itulah, saya kira bisa lolos tes walau dengan sedikit belajar.

Karena meremehkan, tes tertulis awal itu pun gagal. Skor saya kurang 2 poin. Segi positifnya, saya menjadi gemas dan tertantang. Masa iya sih, berpendidikan sarjana ga lolos. Ehehe... ga ada hubungannya sih.

Akibatnya, saya tergerak untuk benar-benar belajar. Saya pelajari lagi buku lalu-lintas, dan mencari referensi di internet. Setelah googling, ternyata ada file PDF yang memuat soal ujian SIM. Jumlah soalnya pun ratusan. Ck ck ck. Akhirnya usaha itu ada hasilnya. Saya lolos di ujian tulis kedua. Hore! Tetapi perjuangan belum selesai.




Huruf u kecil
Langkah berikutnya yang musti di tempuh adalah tes praktek. Lagi-lagi saya menyepelekan. Saya hanya berlatih sehari sebelum tes. Bersama kakak, saya berlatih di lapangan. Kami berlatih membuat zig-zag dan angka 8, seperti tes yang dulu saya jalani. Yah, walaupun kadang gagal, tetapi bisa lah. Tinggal mengandalkan teliti saat tes, pikir saya.

Walhasil saya gagal di tes praktek tersebut. Faktor pertama karena saya grogi. Faktor kedua ternyata ada tes tambahan. Selain membuat zig-zag dan angka 8, ada tes membuat huruf u kecil. Ternyata tes-nya berbeda dengan tes abal-abal lewat calo dulu.

Selain saya, banyak peserta lain yang gagal. Dari 7 orang, hanya seorang yang berhasil. Padahal, banyak di antara mereka yang sudah tes 1—2 kali. Setiap orang hanya mendapatkan kesempatan 3 kali. Akibatnya mereka yang tidak lolos memutuskan cara lain. Entah kembali mengikuti tes tertulis atau mencari SIM di kota lain. Selebihnya, harus melakukan tes tulis ulang. Sementara saya, pulang tanpa SIM. Namun untungnya, saya masih berhak mengulang 2 kali lagi.

Nada sumbang
Melihat saya gagal test praktek pertama, keluarga dan teman-teman menghibur saya. Mereka tak yakin saya bisa lulus. Tidak hanya mereka, saya pun jadi pesimis bisa melewati tes tersebut, meski mengulang.

"Nanti kalau gagal lagi nembak aja,"
"Lho, tes praktek kan memang bermaksud supaya pesertanya nggak lolos"
"Aku yakin nanti akhirnya kamu nembak juga,"

Begitulah nada-nada sumbang yang dilontarkan. Tetapi saya pikir itu memang pernyataan yang wajar. Saya benar-benar sulit membayangkan saya berhasil membuat U kecil itu. Kakak saya pun agak kesulitan mempraktekkannya.

Karena penasaran, saya bisa berlatih tiap hari 1,5 jam selama seminggu. Setiap pagi pukul 6 saya berangkat. Saya berlatih di komplek polisi, tempat ujian SIM itu sendiri. Pagi hari, tempat itu tidak digunakan untuk kegiatan polisi.

Sebagai pengganti patok, saya gunakan air mineral 1 liter seperti saran kakak saya. Setiap pagi pula saya bawa aqua itu dan ditata sesuai tempatnya. Total saya gunakan 9 botol air mineral.

Keseimbangan
Karena tiap hari berlatih, banyak ibu-ibu komplek yang nonton dan memberi masukan. Kebanyakan dari mereka adalah istri polisi. Polisi-polisi yang lewat juga turut menasihati, bagaimana teknik membuat huruf U.

Awal latihan, saya benar-benar tidak bisa membentuk huruf U kecil itu. Hari kedua, mulai ada peningkatan. Begitu seterusnya, sampai akhirnya tingkat keberhasilan 80%. Ternyata kunci keberhasilannya adalah:
- Gunakan gigi 2
- Latih keseimbangan badan
- Gunakan rem kaki dan tangan
- Lakukan pemanasan sebelum tes
- Latihan, latihan, latihan, tak jemu-jemu (sampai tangan serasa kram).

Seminggu kemudian, tibalah tes tersebut. Agar tidak dipanggil pertama kali, saya mengisi absensi setelah peserta-peserta lain. Takutnya dipanggil pertama dan jadi grogi. Tapi tetap saja pak polisi memanggil saya untuk tes terlebih dahulu. Siaaaal... batin saya. Mungkin karena polisinya hapal dengan saya yang pagi-pagi membantu mengangkat patok-patok :D

Latihan yang membuat saya harus selalu bangun pagi-pagi dan sarapan amat pagi itu akhirnya membuahkan hasil. Dengan mulus saya melewati halang rintang yang disiapkan bapak polisi.

"Apa?? Lulus Pak? Saya Lulus????!!!" begitu tanggapan saya setelah dinyatakan lulus. Pokoknya norak dot com. Saya sedang tidak berakting, tetapi saya memang amat bahagia. Dari 8 orang yang tes, hanya satu orang dan saya yang lolos. Kemudian sambil menyalami saya, polisi itu berkata pada peserta-peserta lainnya:

"Nah, ini lho, contoh yang bisa diteladani. Mbaknya ini latihan tiap pagi. Saran saya ada yang mewarisi botol aquanya untuk latihan," katanya. Lho, ternyata Bapak Polisi itu tahu saya latihan tiap hari. Padahal saya tidak pernah bertemu ketika latihan lho. Mungkin dari temen-temennya kali ya.

Ahahahayyyyyyy....... Saya amat bangga saya lulus. Ketika punya anak, saya bisa berkata nyombong pada anak saya.

"Ibu aja bisa lulus ujian sim tanpa calo, masa kamu nggak bisa?"