Rabu, 22 Desember 2010

Demi Dua Lembar Tiket

Hari Minggu lalu, saya dan teman menonton semi-final Indonesia vs Filipina leg kedua. Oleh sebab itu, Sabtu-nya kami berusaha mencari tiket pertandingan yang menentukan nasib Indonesia ke laga final AFF 2010 itu. Yang tidak saya sangka, ternyata nyari tiketnya super duper ribet...

Sabtu itu saya dan teman saya berangkat setengah 6 pagi dari kost. Itu karena kami ingin mengantisipasi banyaknya orang lain yang mengantri. Maklum, di berbagai media diumumkan bahwa hari itu penjualan tiket terakhir. Kami memilih membeli ke Gelora Bung Karno (GBK). Sebab, penjual lainnya—Raja Karcis—dikabarkan habis tiket. Lagipula, kapasitas GBK pasti lebih banyak, pikir kami.

Beginilah suasana antrian yang dimulai pagi

Berbeda dengan pertandingan Indonesia vs Thailand yang lalu, pertandingan Indonesia-Filipina lebih diminati oleh khalayak. Sayangnya, makin dekat ke final penjualan tiketnya amburadul. Awalnya, berdasarkan pengumuman di media, pembelian tiket dilayani paling lambat H-1 (Sabtu). Sedangkan pada hari H (hari Minggu) hanya dilakukan penukaran tiket.

Namun, kenyataannya lain. Pukul 6 seperempat setelah sampai di gerbang, kami terkejut melihat sebuah pengumuman. Di situ ditulis bahwa hari itu tidak ada penjualan tiket. Kami coba cek di internet, tetapi belum ada berita yang menyebutkan hal itu. Karena penasaran, kami lanjutkan perjalanan ke stadion GBK, mencari info yang lebih banyak.

Pengumuman aneh
Memasuki GBK, sudah ada antrian yang lumayan panjang. Mereka berjajar mengantri di belakang pintu X. Byuh-byuh, pasti itu pengantri yang nginap sejak malam. Orang-orang itu rela berjajar mengantri dengan sabar. Mungkin juga mereka sudah mengantri sejak pukul 5 pagi. Padahal, loket biasa dibuka pukul 10 pagi. Itu artinya, setidaknya masih 5 jam lagi sampai loket dibuka.

Pengumuman yang baru ditempel subuh hari

Sabtu itu sepertinya semua orang sudah melihat tempelan yang menyebutkan tidak ada penjualan tiket. Menurut pengantri, pengumuman tersebut baru ditempel subuh hari. Byuh, mana orang tahu kalau begitu. Apalagi orang-orang dari luar daerah seperti Bekasi, Banten, dan lain sebagainya. Kalau saya jadi mereka, tentu saya juga tidak akan menyerah begitu saja untuk pulang. Lha, sudah terlanjur keluar duit buat ke GBK...

Sama dengan pengantri lain, kami akhirnya juga mengambil posisi antrian. Duduk menunggu. Tanpa tahu pasti kapan loket dibuka. Soalnya jengkel juga kalau langsung pulang. Lha saya sudah bangun subuh-subuh je...

Pukul 7: sedikit baca novel sambil ngeliat orang joging di seputaran GBK...
Pukul 8: iseng-iseng mensketsa orang sekitar....
Pukul 9: baca koran....

Di antara waktu menunggu, saya ngobrol dengan pengantri lain bernama Iqbal. Pria yang duduk di samping saya itu bercerita bahwa ia sudah mengantri sejak pukul 7 pagi. Mahasiswa tingkat 1 Universitas Gunadarma itu bercerita bahwa ia sudah mendapat tiket dari adiknya. Namun, hari itu ia bermaksud membeli 4 tiket lagi untuk saudaranya.

Pria berperawakan kecil itu kemudian bercerita bagaimana suasana ketika adiknya mengantri Jum’at lalu.
“Kemarin udah kaya mau mati aja,” jelas Iqbal.
Antrian hari itu mengerikan. Ga peduli cewek atau cowok, banyak yang menjadi korban dorong-dorongan. Itu karena orang mengantri sejak pukul 7 pagi. Namun, loket baru dibuka pukul 12 siang. Adiknya yang menunggu sejak pukul 9 pagi baru mendapat tiket pukul 3 sore.
“Gara-gara itu, adik saya sekarang sakit,” tambahnya. Weleh, mau senang-senang malah sakit... batin saya. Pria asal Cempaka Putih itu bercerita juga bahwa banyak orang yang tidak shalat Jum’at gara-gara loket baru dibuka pukul 12. Ckckck...

Berbagai TV swasta ikut meliput hiruk pikuk antrian tiket

Pos Kamling
Sabtu itu, ia juga merasa kecewa seperti saya. Kami sama-sama baru tahu bahwa ada pengumuman yang menyatakan tidak ada penjualan tiket hari Sabtu itu.
“Aneh lho, biasanya tiket dijual 3 hari sebelumnya, dan hari H hanya penukaran saja,” katanya.
Ya, memang aneh. Saya membayangkan bagaimana ruwetnya penjualan tiket berbarengan dengan penukaran tiket saat hari-H. Apalagi untuk 70-ribu penonton. Ckckck...
Kemudian ia juga bercerita bahwa dahulu penjualan tiket Piala Asia lebih tertib.
“Mungkin karena sekarang Timnas-nya lebih populer,” tuturnya.

Pernyataannya ada benarnya juga. Soalnya, saya yang ngga biasa nonton bola saja pengen nonton. Ya gimana tidak, itu momen istimewa karena Timnas bisa berjaya setelah lebih dari 1 dasawarsa melempem. Selama ini lebih santer isu korupsinya dan kepengurusan yang tidak tepat.

Sayangnya, kejayaan Timnas belum dibarengi dengan pengelolaan tiket yang baik. Sebenarnya, calon penonton hanya membutuhkan informasi yang memadai. Mbok ya, panitia lokal punya twitter atau web resmi. Kalaupun diumumkan habis, toh orang juga tidak akan datang ke GBK.

Namun, jangankan website, panitia lebih memilih poster sebagai media pengumumannya. Di GBK lagi... ckckck... Poster itu mungkin efektif kalau nempelnya di pos kamling atau pos yandu yang ada di seluruh Jakarta...


Pengantri rela berdiri dan kepanasan untuk mendapatkan tiket

Ricuh
Pukul 10, terpaksa saya meninggalkan antrian. Pukul 12 siang saya harus pergi ke Bandung. Antrian diganti oleh teman saya yang tinggal di Blok S. Di perjalanan pulang, saya sms-an dengan kedua teman saya yang mengantri itu.
Pukul 11, keduanya belum mendapat tiket....
Pukul 1 siang, mereka memutuskan pulang....
Yah, apaboleh buat sih. Soalnya ada perwakilan dari panitia yang keluar dan meminta maaf bahwa hari itu tidak ada penjualan.

Namun, setelah itu saya mendapat kabar bahwa calon penonton yang mengantri sejak pagi itu mulai ricuh. Ada yang memanjat-manjat dan merusak papan nama PSSI. Ada juga yang memukul mobil-mobil yang parkir di depannya. Saya segera sms teman saya untuk menyingkir.
“Kalau benjut PSSI juga ngga akan nanggung,” tulis saya di SMS.
Eh, teman saya itu malah bilang begini.
“Hehe, aku malah nonton, penasaran. Sejauh mana pembesar-pembesar itu ga punya hati nurani. Sudah ada 1 pintu yang dijebol, kursi dibanting-banting,”
Weleh-weleh...

Sebenarnya saya percaya sistem. Kerusuhan itu tidak akan terjadi kalau terdapat sistem penjualan tiket yang baik. Teman saya bilang, “Lah, kalau yang lokal aja amburadulnya kaya gini, gimana sejarahnya mau jadi tuan rumah piala dunia?”

Beruntung
Minggunya, saya dan teman saya nggak kapok juga pergi ke Senayan. Menurut tutur panitia kemarin, semua loket akan dibuka. Bahkan pengantri kemarin diberi semacam ‘kupon’ jaminan (untuk meredam kericuhan). Kami datang untuk mengantri dan mengantri. Padahal, malamnya saya baru sampai kost pukul 3 pagi, dan pukul 9 sudah berangkat kembali ke Senayan.

Karena saya ada acara di Bundaran HI, awalnya teman saya mengantri sendiri. Sampai di Senayan, teman saya menyuruh saya mencari loket yang dibuka. Saya tanya-tanya petugas, jawabannya hari ini tiket habis. Atau hari ini cuma melayani penukaran katanya.

Penonton malam itu diperkirakan berjumlah 80-ribu

Kemudian saya diberitahu teman saya bahwa ada loket yang sudah dibuka. Lokasinya dekat patung kembar. Tetapi saya salah persepsi dan mengira dia di dekat patung srikandi. Selain itu, ancer-ancer berupa poliklinik yang ia ceritakan juga tidak ada yang tahu. Bank DKI juga... Saya sudah bertanya pada banyak penjaga tetapi putus asa hingga tidak bisa menemukan di mana teman saya itu berada. Sampai dia sms
“Ken, aku ngantri lagi tapi tiketnya dah abis...”
Weeeew... akhirnya kami hanya bisa mendapatkan 2 lembar tiket thok. Teman-teman saya yang lain terpaksa tidak bisa mendapatkan tiket.

Kalau dipikir-pikir, teman saya itu amat beruntung. Soalnya, pengantri yang lain, bahkan yang datang pukul 4 pagi ada juga yang tidak mendapat tiket. Bahkan, banyak antrian-antrian lain yang benar-benar menanti harapan kosong karena loketnya sama sekali tidak dibuka. Entah bagaimana nasib mereka.

Tiket didapat, tapi masalah tidak hanya berhenti setelahnya. Sebelum maghrib, saya dan teman saya itu terpisah. Padahal, tiket dibawa teman saya. Gawatnya, telepon samasekali tidak berfungsi. Awalnyanya, saya tidak percaya bahwa ada gangguan sinyal. Namun, ternyata di sekitar saya juga mengalami hal yang sama: tidak bisa menghubungi siapapun. Kalaupun bisa, suaranya putus-putus dan nggak jelas. Byuuuh...

Akhirnya saya hanya berdiri di sebuah meja dekat pintu stadion. Sekeliling saya yang ada hanya lautan manusia. Panik dan panik. Namun, sehabis maghrib, saya dapat menemukan teman saya itu. Kami segera berlari-lari menuju pintu masuk.

Dan, jadilah kami menonton semifinal Indonesia-Filipina. Kemenangan di raih Indonesia dengan skor 1-0. Pulangnya, saya tulis status di fb:
Ga sia-sia nonton di GBK :))

Senin, 06 Desember 2010

Workshop Karikatur Thommy Thomdean dan Toni Malakian

Inti dari karikatur bukanlah tentang paling mirip atau bagus-bagusan. Tetapi bagaimana si penggambar bisa menangkap sisi paling menonjol si objek. Obama misalnya, bisa saja digambarkan tanpa mata dan hidung. Tonjolkan saja tawanya yang khas, atau wajahnya yang meruncing.

Itulah salah satu materi yang diberikan Thommy Thomdean dan Toni Malakian dalam acara Workshop Karikatur yang diadakan oleh Persatuan Kartunis Indonesia. Pada dasarnya karikatur bukan proses meniru mentah suatu objek. “Kalau pengen mirip banget, ya mending foto aja orangnya,” jelas Thom.

Ia juga menyayangkan bahwa karikatur selalu diasosiasikan ‘kepala besar’ dan ‘badan kecil’. Padahal, model karikatur yang tidak harus seperti itu. “Yang penting menunjukkan ciri yang menonjol dari objek,” tegasnya.

Thom kemudian menjelaskan bagaimana berlatih menangkap sisi menonjol objek. Teorinya, memang lebih mudah menggambar orang yang berciri khas. Misalnya orang berambut gimbal, berkumis tebal, atau yang mempunyai ciri khas lainnya. “Hitler contohnya, sangat khas dengan kumis dan rambut klimisnya,” jelas pria yang berlatar belakang arsitek itu. Dan memang, hitler dapat digambarkan cukup dengan seperti ini.

Gambar Hitler (kiri) mirip dengan gambar Charlie Chaplin (kanan)*.

Selain ciri khusus secara fisik, bisa juga dilihat dari hobi atau profesinya. Gambar Leo Tolstoy atau Pramoedya misalnya. Karena keduanya penulis, dapat dipertegas cirinya dengan menambah gambar pena. Contoh lain adalah Dalai Lama. Karena identik dengan perdamaian, dapat ditambahkan simbol perdamaian. Merpati contohnya. Yang lebih ekstrim, menggambarkan objek dengan objek lain. Objek tersebut tidak sembarang, tetapi tetap menimbulkan asosiasi. Misalnya menggambarkan Presiden Putin dengan beruang oleh kartunis Swedia.


Menurut Toni, antara gambar biasa dengan karikatur mempunyai
proporsi yang sama. Namun, karikatur ibarat bola voli yang dimampatkan
.

Selanjutnya, Thom dan Toni menjelaskan pembuatan karikatur yang bersifat kritik sosial. Soal materi yang diangkat, terlebih dahulu si penggambar harus tahu benar duduk permasalahannya. Thom mencontohkan permasalahan keistimewaan Yogyakarta yang sedang hangat saat ini. Sebuah karikatur di media massa menggambarkan tubuh kecil Pak Beye dibalik meja yang besar. Ia terlihat sedang membaca buku tebal sejarah Yogyakarta. Buku yang tebal itu dibaca terbalik. Intinya, si penggambar ingin menegaskan perlunya pemerintah menilik kembali bagaimana sejarah keistimewaan Yogyakarta.

Workshop Karikatur yang berlangsung dari pukul 2—4 sore itu juga mengadakan praktek langsung. Peserta diminta menggambar model. Sebelumnya, model ditanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan si model seperti nama, alamat, hobi, dan pekerjaannya. Hal itu bertujuan agar kita semakin mengenal karakter objek, termasuk karakter nonfisiknya. Saya sendiri menggambar si model yang sedang berkutat dengan hobi berjejaring sosialnya.

*Sumber: dailyhitler.blogspot.com/lewat google search.

Ngidam si Dingin-dingin Empuk

Saya suka es krim dan mochi. Kalau keduanya digabungkan, menurut saya itu penemuan luar biasa. Lebih dari penemuan cat teknologi nano pesawat tempur siluman.

Hal yang saya anggap luar biasa itu ternyata sudah lama dilakukan. Minimal, menurut catatan yang ditulis di Kompas, mochi berisi eskrim sudah dikenal pada 1981. Produsennya grup pusat belanja dan makanan asal Jepang serta Korea.

Setelah melihat Kompas Minggu, hasrat saya semakin menggebu ingin melahap mochi es krim itu. Pasalnya, sejak dimuat di Nova, saya memang memimpikan untuk merasakan ‘mochiskrim’ itu. Dalam pikiran sudah ada rasa yang wajib saya pesan: green tea. Omong-omong, saya memang paling suka es krim rasa teh hijau.

Mochiskrim rasa Green Tea dan Banana Bannofee Pie di Mochilla, Grand Indonesia.

Sebenarnya, saya lebih ingin mengunjungi Mochewy, gerai mochi es krim yang digarap 3 mahasiswa Prasetya Mulya yang ada di Benda 60 Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Bukan apa-apa, tetapi yang jelas saya pikir lebih miring harganya. Tapi apa dikata, sore itu saya lebih dekat ke lokasi Mochilla di Grand Indonesia. Daripada ngidam tak tertahankan, saya memilih ke Grand Indonesia \^o^/

Di gerai Mochilla yang terletak di lantai 3A, saya melihat gerombolan anak-anak ABG berkerumun. Wah, peminatnya banyak nih. Apa karena kompas minggu-kah? Anak-anak muda itu berkerumun di depan display yang memajang gundukan-gundukan mochi warna-warni. “Ini isi es krim Mbak?” tanya saya menegaskan. Takut salah pilih. Hehehe....

Gerai Mochilla, dipadati pengunjung remaja (berarti termasuk saya juga remaja... ^^).

Kalau yang lain beli 6—12 buah, saya beli 2 buah saja. Saya mencicipi rasa green tea dan Banana Bannofee Pie. Yang pertama rasanya khas green tea kesukaan saya. Sedangkan di dalam mochi yang kedua berasa ada pisang di dalam es krimnya. Sayangnya, setelah digigit harus langsung dihabiskan, karena gampang lumer.

Gerai yang selalu ramai oleh remaja itu (minimal di hari Minggu waktu saya berkunjung) menyediakan 27 rasa varian es krim. Sebutir seharga Rp12-ribu. Jangan bandingkan beli telur dadar di warteg dapat 5 lho yaaa.... Maklum, produk impor. Rasa-rasa yang unik antara lain manggis (mangosteen), talas (taro), nangka (jackfruit), dan delima (pomegranate). Ga tau juga kenapa setiap namanya diinggriskan.

Saya sarankan, jangan mengajak pacar nongkrong di situ ketika kantong kering. Karena, Anda pasti tak puas hanya 1—2 butir mochi saja. Ukuran perut laki-laki minimal enam butir sampai selusin laaah....

*Beberapa data diambil dari Kompas, Minggu 5 Desember 2010
** Mochiskrim=mochi es krim adalah istilah saya sendiri.