Minggu, 27 Desember 2009

Apakah Sebegitunya Saya?

Diantara saudara saya—Gembil, Nano, dan Mbinci—hanya saya yang berprofesi menjadi wartawan. Gembil seorang karyawan, Nano ibu rumah tangga, dan Mbinci dosen. Pekerjaan saya sebagai wartawan dianggap pekerjaan luntang-luntung. Ga jelas.

Seringnya saya pergi ke mana-mana sendirian dan bayangan bahwa saya hunting berita setiap hari mengundang simpati dari saudara-saudara saya. Merasa diperhatikan iya, tetapi sekaligus merasa dikasihani. Komentar-komentar biasa datang dari paman, bibi, serta sepupu saya. Apakah sebegitunya menyedihkan jadi wartawan? Saya ingat kata-kata seorang wartawan harian nasional. "Kalau nggak mau kere ya jangan jadi wartawan," katanya. Waktu itu saya telepon dia untuk memilih apakah saya bekerja di perusahaan nasional, atau di media.

Kerabat saya seringkali terkejut mendengar saya sering bepergian ke luar kota sendiri. Bagi mereka, aneh kalau seorang perempuan pergi ke sana kemari sendiri. Saya sih setuju. Namun, bagi saya ke luar kota adalah hal biasa. Kalaupun nanti di sana tidak tahu jalur angkot, ya cukup bertanya saja. Apabila tidak ada kendaraan yang saya tumpangi, toh pasti ada teman yang bisa saya hubungi. Kalau itu pun tidak ada, saya yakin banyak orang baik di dunia ini.

Pernah waktu itu saya ke Bandung untuk menjenguk Budhe. Saya bilang saya akan pulang pukul sembilan malam. Mendengar saya pulang malam, mereka panik sekali mencarikan transport kembali ke Depok, kost saya.
“Memangnya masih ada bis di Leuwi Panjang?”
“Masih,” jawab saya enteng.
Tetapi mereka tidak percaya begitu saja. Sehingga walhasil saya harus menelepon travel Cipaganti, kantor terminal bus Leuwi Panjang serta Kampung Rambutan. Dengan tujuan: menenangkan mereka. Namun nihil, ternyata tak satupun dari kedua kantor bus tersebut mengangkat telepon. Travel Cipaganti pun sudah habis sejak pukul 8.

Malahan saudara kemudian bercerita bahwa Terminal Kampung Rambutan itu sangat seram. Haduh, seseram-seramnya Kampung Rambutan, itu adalah terminal kesayangan yang paling dekat dengan kost sayaT_T. Selama ini Alhamdulillah saya belum pernah menemui hal yang seram di situ.

Sepupu-sepupu saya sangat baik hingga mengantarkan saya sampai terminal Leuwi Panjang. Dan benarlah pendapat saya, bus ke Kampung Rambutan masih tersedia. Karena perjalanan malam, bis tersebut sangat cepat hingga perjalanan ke Jakarta hanya 1 ½ jam. Sesampainya di kost, saya langsung sms sepupu saya. Bagaimanapun, saya senang dianggap apapun oleh mereka. Toh, mereka semua saudara-saudara yang saya cintai.***

Note: Sepertinya saya memang tidak usah cerita pada Pakdhe dan Budhe saya bahwa saya pernah pulang dari Bogor jam dua belas. Apalagi bercerita pernah pulang dari Tasik sampai kost pukul setengah tiga pagi….

Popon 2

Popon 1

Sampah dan Bebek


Bagaimana reaksi Anda melihat seseorang diam-diam membuang sampah di halaman? Anda pasti ingin segera menghardik, atau bahkan marah. Sebagai manusia, anda beruntung bisa bertindak. Anda bisa merespon dengan mengeluarkan umpatan, memagari halaman, atau lapor polisi. Tapi apa yang bisa dilakukan sekumpulan bebek menghadapi hal yang sama?

Foto ini saya dapatkan ketika berada di Sungai Progo, Yogyakarta. Saat itu saya ingin memotret sekumpulan bebek di tepi bendungan. Namun, ketika difoto sekumpulan bebek itu malah beranjak menuju sungai. Mereka terusik bukan karena difoto, tetapi mereka ketakutan melihat kresek yang diterbangkan angin.

Bebek-bebek itu terus saja menghindari kresek. Malangnya, mereka tidak bisa marah atau lapor polisi. Itu baru sebuah kresek. Bagaimana kalau ada beribu-ribu kresek dibuang di sungai itu? Semua bebek itu bisa saja stress dan mati.***

Minggu, 20 Desember 2009

Karena Ketawa... Rusak Foto Sebelanga...

Foto ini dibuat waktu di Pasar Bunga Rawabelong. Teman di samping saya ini tak juga berhenti ketawa....

Kost

Kost saya berada di sebuah perumahan di Cimanggis. Di bagian bawah dihuni ibu kost, sedang di atas anak-anak kost. Delapan kamar itu kadang terisi penuh, kadang hanya terisi 4 orang seperti sekarang ini. Karena semua penghuninya bekerja, rata-rata kami sangat jarang bertemu. Jam kerja tidak jelas. Kadang ketika akan beranjak tidur, saya malah dimintai tolong untuk mengunci garasi oleh penghuni kost yang ingin pergi keluar.

Seringkali saya hanya sendirian di kost. Teman saya dan penghuni kamar sebelah setidaknya satu kali setiap bulan ke luar kota. Tanpa TV, tanpa AC saya benar-benar kepanasan dan sendiri. Biasanya, ketika saya pulang belum ada satupun yang sudah berada di kost.

Di sunyi sepinya kost tersebut, kadang suara tetangga sebelah menjadi perhatian. Suara tetangga sebelah bisa saya dengar ketika saya berada di ruang cuci. Sambil mengucek cucian, tak sengaja mendengar percakapan mereka. Yang sering saya dengar adalah percakapan seorang ibu dengan anak-anaknya. Kadang saya anggap ibu ini sering mengeluarkan kata-kata yang lumayan keras. Seperti kemarin pagi, “Kakak ini kurang ajar ya, ganggu adiknya belajar,”
Waw, saya jadi berhati-hati untuk mengatakan kata kurangajar. Kata tersebut tidak enak di kuping saya.

Sepertinya si ibu tersebut punya dua anak, satu putra dan satu putri. Salah satunya bernama Axel. Saya tidak tahu bagaimana menulisnya. Teman saya bilang, namanya bagus karena mirip vokalis Gun and Roses, Axl. Cuma saya malah menganggap nama itu seperti nama program komputer. Kadang-kadang, ibu itu memanggil si Axel…
“Axel, sini!”
Dalam hati ingin menjawab, “Di sini bukan 'Excel', Ma. Tapi Microsoft Word!”

Kadang, saya mendengar salah satu anak itu belajar. Tetapi saya lebih banyak tidak paham. Sepertinya si kecil itu masih duduk di taman kanak-kanak. Misalnya ketika dia belajar membaca, ucapannya seperti ini (kebetulan saya catat karena ingin menebak apa yang sebenarnya ia pelajari).

Kaki muma aku bulu
Disana aku lisa talikhu buta ayu tani
Ucapan potong kue
Ibu dulu suka manis
Kopi papi lama pahit
Kudu aku bisa baca buku disamping ada setan
Kami bisa atur rumah disisiku ada main
Sepeda orangnya ada tapi kami kudu cia

Hyaaaaah…. >_< Kata-kata tersebut sampai sekarang membuat saya penasaran. Anak ini belajar apa ya? Dirangkai-rangkai kalimat-kalimat tersebut susah dihubungkan. Hmmm…mungkin saya harus mengagendakan untuk mencoba kenalan dengan tetangga sebelah yang ramai ini:)

Ranger Pink


Dari kecil kita sudah dibiasakan hidup ala kantor. Hanya saja jam ngantornya berbeda-beda. Waktu SD jam ngantor sampai pukul 12; SMP pukul 2; dan SMA setengah tiga siang. Enam dari tujuh hari digunakan untuk duduk di bangku kelas. Tentu kita bosan, saya pun bosan. Sehingga tak jarang saya menghabiskan waktu di kelas untuk nulis atau menggambar. Berikut ini contoh tulisan hasil kebosanan saya di kelas Fisika, waktu SMA.


Kisah Ranger

Suatu pagi di SMADA HIGH SCHOOL, seorang siswi yang bernama Ranger-Pink sedang duduk di pojok kelasnya. Suasana sunyi sepi. Semua orang sudah pulang. Tinggal dia saja yang belum pulang. Sebentar-sebentar terdengar suara gemerisik daun mangga yang tertiup angin. Gadis yang masih bau jahe ini--bukan bau kencur, soalnya bapaknya jualan wedhang jahe--tertidur pulas. Buku-buku masih berserakan di mejanya. Suara dengkuran gergajinya terdengar berisik, tetapi tak ada satupun orang yang terganggu karena semuanya sudah pulang.

Tiba-tiba saja seekor tokek besar yang terpeleset dari pijakannya jatuh, tepat di kepala si Ranger-Pink. Ranger Pink mulanya hanya diam saja, tetapi waktu tokek itu mulai mencoba masuk ke mulutnya yang menganga, ia tersentak. Tapi ia tak sempat berteriak karena tokek itu menyumpal mulutnya. Dengan gemetar perlahan-lahan ia menarik tokek itu. "TOKEK", tokek itu berbunyi. "HUAAAAAAA!," Ranger-Pink berteriak. Jantungnya berdebar-debar. Dia segera mengkukuti buku-bukunya dan berlari pulang. Sudah pukul 5 sore. Dia sudah tertidur sejak pelajaran sosiologi. Cepat-cepat ia berlari pulang, ingin segera nonton telenovela. Dia sangat marah karena tidak ada seorangpun yang membangunkannnya sampai jam terakhir.

Keesokan paginya Ranger-Pink masuk sekolah seperti biasanya. Dia bertekad untuk tidak tidur lagi di kelas--karena tokek accident kemarin. Mukanya dibuat normal agar tak ada seorangpun yang mencari tahu ada kejadian apa kemarin. Saat ia datang, semua orang di kelas mentertawakannya. "Huh mereka pasti bersekongkol meninggalkanku tertidur di kelas," batin Ranger-Pink. Ranger-Pink hanya tersenyum menanggapinya. Toh itu sudah biasa.

Bel sekolah segera berbunyi. Mr. X masuk kelas.
"Yak, seperti janji kita minggu lalu, kita akan ulangan," kata Mr. X dengan tenang.
"WOAH!" Ranger-Pink terperanjat. Duh, sudah duduk di depan, ulangan pula! Gimana donk?!

Suasana kelas langsung berbuah sepi. Setelah semua mendapat soal, hanya beberapa orang yang kasak-kusuk di belakang nyari contekan. Mr. X mondar-mandir ke sana ke mari, berusaha meminimalkan usaha komunikasi para siswa saat ulangan. Tiba-tiba saja setelah beberapa menit berlalu, Ranger-Pink berteriak,
"Sudah Pak! Saya sudah selesai," kata Ranger-Pink mantap.
Mr. X dan siswa lain kaget, tak percaya dan melongo. Apa saking stressnya si Ranger-Pink dengan nilai-nilai buruknya, dia nekat nggak menggarap soal ulangan samasekali? Bagaimana mungkin si Ranger-Pink juara paralel nilai terburuk di SMADA bisa mengerjakan semua soal fisika yang njlimet itu? Pasti mustahil !!

Namun...ketika Mr. X memeriksanya, ia memekik:
"Ini tak mungkin! Sungguh keajaiban dunia! Jawabannya benar semua! Oh...,"
Murid-murid lain jadi kasak-kusuk. Ada yang memanfaatkannya juga untuk mencontek. Ada juga yang berkata ini mimpi. Mr. X berjingkrak-jingkrak di luar kelas. Tak ada hal lain yang menggembirakan apabila seorang guru dapat membuat murid yang paling bodoh menjadi pintar!

Berita ini langsung tersebar ke seluruh antero SMADA. Reporter-reporter dari Persada sibuk mewancarai saksi-saksi langsung kejadian ini. Wow!
Ranger-Pink malah bingung, heran dan hampir gila. Ia sendiri juga tidak mengerti mengapa ia bisa berhasil mengerjakan itu semua, seakan-akan semua jawaban fisika itu keluar sendiri.

Peristiwa-peristiwa heboh juga terjadi hari berikutnya. Ranger-Pink yang terkenal tidak bisa main kasti, waktu itu dia bisa mencetak skor tertinggi. Timnya tidak pernah jaga. Ulangan matematika, fisika, biologi, sosiologi, bahasa inggris, ia kerjakan dengan mudah. Sampai-sampai ia dicalonkan menjadi siswa teladan.

Ranger-Pink masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mengapa ia bisa mejadi murid pintar sejak ia menelan tokek waktu itu? Apakah ini ibarat Bruce Wayne yang terinspirasi dengan kelelawar sehingga ia jadi Batman, sedangkan ia menjadi "TOKEK Woman?"
Ia jadi bingung sekaligus takut, ia tak terbiasa menjadi orang ngetop seperti itu.***

Tulisan ini tak langsung jadi, namun satu halaman terlebih dahulu dan saya edarkan ke teman-teman sebelah saya. Di situ ada tulisan: "Ayo lanjutin nick!" Kemudian saya tulis kelanjutannya. Saya tulis pula siapa saja yang berperan di tokoh-tokoh cerpen saya itu. Tak hanya saya, tapi ada teman-teman saya yang menulisinya. Hmm... masa SMA memang seru....

Sabtu, 19 Desember 2009

Dilema ke Mall

Salah satu keberatan pergi ke mall adalah ketidakpintaran saya menepati rencana. Setiap kali saya merencanakan pengeluaran, hasilnya mendadak bisa berubah.

Misalnya saja ketika saya dan teman saya berencana nonton Avatar. Karena saya tinggal di Mekarsari, pilihan yang paling dekat adalah Mall Cijantung dan Cibubur Junction. Segera sebelum ke mall, saya mengunduh jadwal pemutaranannya. Hasilnya tidak begitu menyenangkan. Hanya Cibubur Junction yang memutar Avatar, itupun hanya satu studio. Pemutaran lain didominasi Sang Pemimpi.

Mal tempat 'hiburan' instan orang Jakarta...

Sebelum berangkat, saya sudah menghipnotis dan membekali diri saya agar tidak melirik-lirik ke toko lain. “Saya hanya akan menonton bioskop,” batin saya. Tapi apa lacur, sesampainya di sana tiket habis. Salahnya, kami datang satu jam sebelum pemutaran. Kami tak menyangka tiket cepat habis karena anggapan film itu tak sepopuler New-Moon ataupun Sang Pemimpi. Akhirnya acara batal karena saya dan teman saya enggan menonton film lain.

Selanjutnya kami berdua memutuskan ke toko buku. Awalnya, melihat buku-buku bagus membuat saya agak kalap. Namun, di Toko Kharisma itu saya masih bisa menahan diri. Pasalnya saya ingat harus mendahulukan membeli Oxford Grammar yang ternyata tidak ada di toko tersebut. Saya berhasil selamat keluar toko buku dengan tidak membeli apapun. Meskipun, tadinya saya sangat kepingin untuk membeli sebuah CD Biology yang menarik.

Setelah makan, kami berlanjut ke godaan kedua, hypermart. Nah yang ini saya mulai kecantol. Sebelum sampai Hypermart, saya melihat deretan majalah. Saya tertarik majalah Digital Camera yang terbaru. Mata saya agak jelalatan melihat majalah lain pula, seperti majalah Eve yang berbonus semacam organizer. Untungnya, saya tetap pada pilihan saya semula dengan membeli majalah Digital Camera itu. Namun, tetap saja, membeli majalah sebenarnya tak ada dalam rencana bukan? Terpaksa saya rogoh kocek sekitar 40-ribu (lebih mahal dari karcis bioskop).

Masuk Hypermart memang saya lakukan karena harus membeli kondisioner. Sekali lagi saya tekankan pada pikiran saya bahwa “Saya hanya akan membeli kondisioner,”. Namun perencanaan itu meleset lagi. Melihat barang begitu banyak, saya jadi ingat barang-barang lain yang perlu saya beli. Sebenarnya perlu atau tidak itu relatif, yang jelas saya jadi membeli tisu, pembersih muka + bonusnya, dan pembalut malam. Yang jelas total saya jadi sudah menghabiskan Rp120.000 termasuk makan (belum ojek pulang pergi).

Setelah keluar Hypermart, teman saya mengajak saya menempuh cobaan yang ketiga. Kebetulan di Junction terdapat Matahari Department Store. Apa yang dilakukan? Jelas saja mencoba-coba sepatu dan melihat-lihat barang lainnya. Untung tekad saya sudah sangat bulat untuk tidak membeli barang apapun di sini. Fyuuuh….Akhirnya kami berdua selamat keluar dari panasnya Matahari tanpa membawa barang belanjaan sedikitpun.

Lucunya, sebelum ke mall saya berkeluh kesah pada seorang teman. “Duh, kalau ke mall minimal keluar Rp100.000 nih,” kata saya padanya. Namun, ternyata pengeluaran saya hari ini lebih parah. Keluar dari junction saya berpikir untuk segera mengirim sms.

“Perencanaan meleset jauh. Lebih baik jangan ke Mall deeeh,”

*Seorang teman yang saya ceritakan mengenai masalah ini langsung berkomentar: “Mall adalah penyedot uang yang baik,”



Berlibur ‘lumayan’ murah—ke Kota Tua



Selama tinggal di Depok, menikmati hari libur berarti harus mengeluarkan uang. Bagi lajang seperti saya, mencari tempat rekreasi murah itu lumayan susah. Ke Kebun Raya Bogor misal, minimal habis 50-ribu. Meski sebenarnya jarak Depok-Bogor tidak begitu jauh—sekitar 40 menit berkereta. Ke mall juga lumayan menyita biaya, setidaknya untuk makan.

Apabila dibandingkan, saya lebih memilih tempat rekreasi bukan mall. Karena selain mendapat penghiburan, sedikit banyak saya mendapat pengetahuan baru. Salah satunya ke Kota Tua. Saya sudah barang tiga kali ke ikon sejarah Jakarta itu, namun belum juga puas. Saya merasa belum semua tempat saya jelajahi. Oleh sebab itu, saya tidak menolak apabila seorang teman menawarkan untuk ke sana lagi.

Suatu kali teman saya mengajak ke Kota Tua. Saya sih senang-senang saja, apalagi kami bisa hunting foto bersama. Pukul 6 pagi, dia sudah nongkrong di depan kost. Hanya saja, kemudian dia ngomel-ngomel karena saya masih mandi pagi:D Sekitar setengah tujuh pagi kami baru berangkat menggunakan angkot sampai ke stasiun UI.


Museum Jakarta di siang hari, dulunya sebagai kantor Balai Kota Pemerintahan Belanda.

Kereta rel listrik (KRL) kami pilih karena lebih murah dan menghemat waktu. Hanya dengan ongkos Rp1.500 kami sudah sampai di kawasan Kota Tua. Dari stasiun UI ke Kota Tua menghabiskan waktu sekitar 40 menit. Seringkali dalam perjalanan saya lebih memilih KRL ekonomi dibanding AC—karena lebih afdol. Dalam artian, kita bisa melihat berbagai macam tipe pengamen dan bisa membeli barang krucil-krucil dengan harga miring.

Hari Sabtu, kereta tidak begitu penuh sehingga kami berdua bisa duduk (kesempatan yang langka apabila berkereta di hari kerja). Sampai Stasiun Kota, kami turun dan membeli sarapan terlebih dahulu. Teman saya membeli roti bakar, walau sebenarnya saya lebih mantap sarapan nasi. Namun tak apa, toh dengan harga Rp2.500 sudah bisa mengganjal perut.

Suasana stasiun UI Sabtu pagi, tiada hiruk pikuk seperti hari biasa.

Setelah sarapan, kami menuju Stadhuis plain atau lapangan bekas kantor Balai Kota Pemerintahan Belanda (Batavia). Waktu itu Museum Sejarah Jakarta yang berada di Stadhuis plain belum buka. Karena itulah, kami berdua menyewa pemandu bersepeda terlebih dahulu. Saya tidak memilih menyewa sepeda sendiri. Terus terang, saya ngeri kalau bersepeda sendiri menjelajah Kota Tua di antara angkot-angkot yang ngebut.

Suasana Stadhuis plain di Sabtu pagi, masih sepi.

Sebelum menyewa, saya menelepon kakak saya yang pernah menyewa guide bersepeda. Maklum, saya belum sempat mencari harganya di internet. Kakak saya bilang harganya sekitar Rp15.000. Namun ketika kami tanyakan, maksimal yang bisa kami tawar Rp25.000. Ya sudah, pikir kami. Mungkin kami tidak berbakat menawar.

Setelah dibonceng naik sepeda, saya baru sadar mengapa harga yang ditawarkan pada kami lebih mahal. Karena selain bersepeda, jantung saya berdegup kencang tak ubahnya ketika sedang naik roller coaster. Berbeda dengan saya yang jantungan, teman saya santai dan menikmati dibonceng dengan cara begitu. Padahal, kami nyelip-nyelip diantara kendaraan yang berhenti di lampu lalulintas, melawan arus, menaiki trotoar, dan menyeberang diantara angkot yang super ngebut. Bapak yang memboncengkan benar-benar berhasil membuat saya berdzikir!

Pemberhentian pertama adalah Menara Syahbandar. Dari menara, pengunjung dapat melihat keadaan pelabuhan Sunda Kelapa. Kami berdua berniat naik ke atas, namun sayang ditutup. Bangunan berjendela hijau itu sudah berumur 170 tahun. Awalnya menara berarsitektur Eropa itu berguna mengawasi keluar masuk kapal dari sungai Ciliwung. Namun, pada 1967—seiring diresmikannya Pelabuhan Sunda Kelapa—menara ini tidak digunakan lagi. Ketika kami lihat, di sekeliling menara tersebut terdapat pasar ikan nan becek yang menurut pemandu memang sudah ada sejak jaman dahulu kala.


MenaraSyahbandar, bagian dari Museum Bahari.

Setelah melewati pasar yang ramai, kami turun di Museum Bahari. Bangunan yang dibangun pada 1652 ini dulunya berisi lada, pala, cengkeh, kopi, bahkan tembaga dan senjata. Namun, sekarang isinya berbagai macam pernak-pernik kelautan. Berbagai macam tipe kapal dan peralatannya dapat dilihat di sini. Pemandangan yang menarik bagi saya adalah peta The City of Batavia yang dibuat oleh JA Whittle dan R.H. Laurie tahun 1818. Yang terlintas di benak saya setelah melihat peta itu adalah “Duh, seandainya Jakarta seteratur ini….”


Gambar The City of Batavia, dibuat 191 tahun yang lalu.

Puas melihat-lihat dan mencoba dayung berbagai kapal, kami melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Di sini kita bisa melihat deretan kapal penangkap ikan yang berlabuh. Kami juga bisa naik ke kapal setelah meminta ijin kepada awak kapalnya. Namun, sebelumnya kami harus berjalan melewati jembatan titian yang lumayan sempit. Ini membuat teman saya agak kewalahan, namun berhasil juga naik ke kapal.


Deretan ikan bandeng yang dibumbui di atas kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa

Tujuan berikutnya adalah Jembatan Kota Intan. Kata ‘cantik’ terlontar melihat jembatan berumur 381 tahun ini. Tak menyangka bahwa jembatan cantik ini pernah dinamai jembatan Pasar Ayam (Hoender Pasar Brug). Jembatan model gantung ini dapat dinaikkan dan diturunkan sehingga kapal dapat melintas di bawahnya. Sayangnya entah kapan dapat melihat jembatan tersebut beroperasi lagi. Apalagi melihat di sebelahnya terlihat sebuah jembatan kokoh untuk dilintasi KRL. Mungkin nantinya jembatan KRL itu juga dibuat jembatan gantung apabila jembatan kota intan dioperasikan kembali untuk lalu lintas kapal.


Jembatan kota intan mempunyai panjang 38,60 m dan waktu angkat jembatan 12 detik.

Dari jembatan, perjalanan diteruskan dengan melihat berbagai macam gudang rempah, gedung kembar, dan melintasi jalanan Batavia. Sayangnya, tak terasa sudah hampir 1 jam. Itu artinya kami harus kembali ke Stadhuis Plain. Sebenarnya masih banyak obyek yang belum kami kunjungi. Hal ini karena untuk menikmati perjalanan yang lengkap, kurang lebih dibutuhkan waktu 4 jam. Namun hal itu tak mengapa, toh saya tidak berencana menghabiskan keindahan kota tua dalam sehari:) (Niken Anggrek Wulan)

Perkiraan Biaya—dari Mekarsari, Cimanggis, Depok.

Angkot ke Pal Rp2.000
Angkot ke Stasiun UI Rp2.000
KRL ke Stasiun Kota Rp1.500

Total ongkos transport bolak-balik = Rp11.000

Minum aqua tambahan Rp3.000
Roti Rp2.500
Makan Rp30.000 (Di mall)
Es potong (kalau mau) Rp2.000
Guide sepeda Rp25.000

Total: Rp73.500 (Hweh mahal juga. Oleh karena itu judul di atas dari Berlibur murah saya ubah jadi berlibur ‘lumayan’ murah.)

Mencari Harta Karun di Kota Tua

Berawal hasil chating teman di facebook, Sabtu itu saya putuskan mengikuti acara sket bareng. Pukul tiga sore, peserta harus berkumpul di depan Museum Fatahillah. Namun sebelum menggambar, kami diserahi secarik kertas. Intinya, kami harus menggambar harta karun di kota tua. Waduh, batin saya. Memang ada?


Setelah mempersiapkan alat masing-masing, kami mulai berburu. Ada yang tetap menggambar di tempat kumpul semula, dan ada pula yang langsung berjalan-jalan mencari harta karunnya. Saya sendiri, memutuskan untuk beranjak dan mencari harta karun saya. Cukup lama berkeliling, saya berpikir masuk museum. Sayangnya, menurut petugas parkir, sabtu sore museum-museum seperti Fatahillah dan Wayang sudah tutup.

Peserta mempresentasikan karyanya masing-masing


Awalnya saya berpikir mencari harta karun di tukang jual es potong. Hal ini karena salah satu yang khas di kota tua adalah penjual es itu. Namun, niat tersebut saya urungkan. Saya takut banyak anak yang beride sama. Setelah berjalan lagi, saya menemukan pohon yang bahkan saya tidak tahu namanya. Bunganya putih, namun sedikit dan tidak begitu cantik. Hanya saja, banyak orang yang bergantung di bawahnya. Mulai dari tukang parkir, ojeg, penjual teh botol, penjual batagor, dan orang nongkrong.


Nah, pohon itulah harta karun bagi saya. Walau pohon tersebut banyak bermanfaat, keberadaannya serasa diabaikan. Dia memang tampak oleh mata, namun keberadaannya serasa barang yang tak kasat mata. Batang-batangnya menjulur-julur jarang dipangkas. Bunganya pun serasa enggan berbunga. Tanahnya: kering kerontang jarang disiram. Walaupun begitu, batangnya tetap berguna dengan ditempeli papan berbunyi “OJEG”.


Setelah mencari posisi duduk yang nyaman di atas beton bulat, saya mulai menggambar. Tangan saya serasa kaku karena sudah jarang menggambar. Namun, entah mengapa hati saya bahagia. Menyendiri dan melihat berbagai aktivitas orang di hadapan saya membuat saya bersyukur. Di depan, tukang ojeg bercengkrama dan tertawa memaksa saya tersenyum. Hati juga menjadi damai melihat sepasang muda mudi bergandengan dan anak-anak yang ceria bermain.


Pukul lima sore kami berkumpul untuk mendiskusikan apa yang telah kami temukan. Diskusi diselingi gelak dan canda. Banyak yang beride hebat. Namun jangan kuatir pula apabila tak punya ide sama sekali. Ada yang bilang, “Saya ngantuk, jadi tidak menggambar,” Kalaupun ada yang menggambar pada secarik kertas kecil, dan gambarnya pun sangat mungil pun tak masalah. Ada juga yang membuat teropong ajaib dari kertas sketsanya. Peserta tidak perlu takut karena setiap ide dan kreativitas dihargai dan didengarkan.


Setelah adzan berkumandang, acara ditutup dengan buka bersama. Kebetulan waktu itu bertepatan dengan bulan puasa. Ternyata, ada salah satu peserta yang berbaik hati menyediakan snack berbuka. Setelah itu, kami melangkah pulang dengan gambar harta karun masing-masing tentunya^_^. (Niken Anggrek Wulan)

Ada Ancol di Jogja



Mendengar pernyataan Anto aku hanya mengernyit. Ada Ancol di Jogja?


Sudah 22 tahun di Jogja, aku baru mendengar ada Ancol di sana. Siang itu Anto—kakak iparku mengajak aku dan istrinya ke Pantai Ancol. Tempatnya di Desa Bligo, Kalibawang, Kulonprogo. Dari Jogja kita tempuh sekitar 1 jam berkecepatan santai. Hah, ini pasti pantai jadi-jadian pikirku. Maklum, mana ada pantai di bagian barat Yogyakarta?


Ke Ancol, pikiranku melayang ke Pantai Cemplon—sebuah pantai jadi-jadian yang tak jauh dari Kulonprogo. Pantai Cemplon merupakan Sungai Progo yang lebar dan penuh batuan sehingga mirip pantai. Walau hanya pantai tiruan, banyak juga pengunjung di hari libur. Di situ banyak warung-warung penganan khas desa. Deretan botol minuman bersoda, pop mie, dan berbagai penganan lainnya. Selain itu terdapat pertunjukan dangdut—daya tarik utama pantai ini.

Setiba di Ancol, bayanganku tak jauh meleset. Ia memang pantai yang ‘terbuat’ dari sungai. Walau terbuat dari penggalan sungai progo seperti Pantai Cemplon, hamparan sungai dan batunya lebih luas. Sekelilingnya diteduhi pohon asam keranji. Tak seperti Cemplon, di situ tak satupun pedagang tampak.


Bendungan tinggalan jaman penjajahan Belanda yang unik



Pemandangan yang mencolok adalah bendungan dan saluran air buatan jaman belanda. Tak seperti bendungan lain, dinding bendungan ancol melengkung ke arah datangnya arus. Selain itu bentuknya tidak berupa setengah lingkaran, namun mengerucut.

Bendungan itu dibuat untuk ‘memotong’sungai progo. Air yang dibendung dialirkan melalui dua jalur, saluran Van der Wijk dan selokan Mataram. Konon, di jaman Belanda saluran itu terutama digunakan mengairi kebun tebu. Selain itu, dua saluran itu berjasa membuat Sleman menjadi lumbung padi. Tanpa keduanya, Sleman kesulitan mencukupi kebutuhan air yang terbatas. Umumnya mata air hanya berasal di daerah sekitar merapi.



Saluran air dari salah satu pintu air Ancol


Di Ancol kita bisa melihat kegagahan rancang bangun tinggalan Belanda. Diperkirakan bangunan itu sudah berusia 100 tahun—kata Susi. Pintu airnya menjulang tinggi dan kuat. Dengan pintu air yang tidak hanya satu lubang, beban dinding untuk menahan arus tak terlalu besar.


Sekitar 1 km dari bendungan, aliran air dilewatkan di terowongan bawah tanah. Meski konstruksi lebih rumit, pembuatan saluran van der wijk tak perlu mengeruk bukit. “Kedalaman terowongan ada yang mencapai 100 meter di bawah permukaan tanah,” tambah Susi. Bayangkan besarnya tenaga yang dibutuhkan untuk mengeruk bukit sepanjang itu bila tak dibuat terowongan.


Sampai sekarang saluran van der wijk masih berfungsi dengan baik. Hal ini tak lepas dari perhatian masyarakat sekitarnya. Senin sore saluran ditutup, dan paginya dibersihkan dari endapan-endapan secara bertahap. Rabu pagi, saluran itu mulai digunakan untuk mengairi seluruh penjuru Sleman. Memberi minum setiap bulir-bulir beras.



Tempatnya yang tenang, membuat Ancol juga sebagai ajang pacaran kaum muda.

Tak mengurangi fungsinya sebagai sumber air, Ancol juga merupakan aset pariwisata. Tempat yang indah ini sering digunakan untuk foto pre-wedding. Selain itu, tempatnya yang tenang juga digunakan sebagai ajang pacaran anak muda. Sayangnya, sungainya yang jauh lebih jernih dan indah dibandingkan sungai di Jakarta mulai ternoda oleh sampah. Selain itu mulai banyak yang tidak tahu sejarah dan kemegahan tempat yang indah itu, termasuk saya. (Niken Anggrek Wulan)

Jumat, 11 Desember 2009

Undangan 17-an