Kamis, 21 Januari 2010

Receh yang Berharga

Tadi malam saya dan Inshan--teman kost--pulang pukul 10 malam. Sebelum masuk kost, ada penjual sekoteng lewat di depan kami. Teman saya itu tiba-tiba mengusulkan kalau saya harus menyetopnya.

"Pinjam duit donk, blum ke ATM nih," kata Inshan.

Ooooh.... ternyata dia menyuruh-nyuruh saya menyetop abang sekoteng karena kehabisan duit. Namun, saya mengiyakan saja dan menyetopnya.

Kami memesan dua minuman: yang satu tidak pakai kacang, yang satu tidak pakai susu. Karena saya yang bayar, teman saya membawa sekoteng itu ke lantai atas meninggalkan saya dengan abang sekoteng.

Ketika akan membayar, saya baru ingat bahwa uang kecil saya tinggal Rp3.000. Padahal harga dua sekoteng Rp6.000.
"Duh, bang. Ga ada uang kecil nih. Lima puluh ribu ada kembaliannya?" tanya saya.
"Wah ga ada neng," katanya.
"Trus gimana donk?"
"Toko sebelah masih buka ga Neng?"
"Ya nggak lah bang, lha wong udah jam 10," (Warung yang dimaksud adalah warung pulsa ibu kost.)
"Wah, saya benar-benar ga ada uang kecil neng,"
"Saya juga. Gimana donk? Masa saya harus ke indomaret?"
"...,"
"Gimana doooooooonk?" kata saya sewot.
"Ya sudah neng, bayarnya besok saja kalau saya lewat sini lagi. Tiap malam saya lewat sini kok," katanya melas.
"Yaelah kasian bangeeeet,"
"Ya gimana lagi neng. Udah gapapa, bayarnya besok aja," katanya kekeuh.
"Saya ga setiap kali pulang di jam yang sama lho, udah gitu ga pernah nongkrong di depan kost," kata saya ngotot.
"Ya udah, kapan-kapan aja neng," kata abang itu ngotot juga.

Saya bingung menanggapinya. Terus saya kepikiran dengan duit-duit receh yang ada di dompet saya.
"Coba ya bang, saya itung receh di dompet saya," akhirnya saya mencoba mencari alternatif.

Kemudian saya dan abang sekoteng mulang menghitung.

Pertama saya harus merelakan uang logam seribuan lama saya.
Kemudian sebuah pecahan lima ratus.
Beberapa pecahan dua ratus.
Beberapa pecahan seratus.
Total ada Rp2.800.

Di dompet saya tinggal tersisa sebuah permen dan beberapa pecahan 50 rupiah yang saya koleksi.

"Waduh bang, kurang dua ratus rupiah nih?," tanya saya.
"Ya udah ga papa neng,"
"Nggak, nggak. Saya masih ada 50-an," kata saya. Saya pikir tidak apa merelakan 50 saya daripada harus ngutang sama abang sekoteng. Akhirnya 4 buah receh 50 saya serahkan padanya.
"Ga usah neng, emang masih laku?"
"Ya masih donk, saya aja masih dapet uang begituan," kata saya.
"Hehe," kata abangnya tidak percaya.
"Hmmm.... ya udah, seandainya ga laku paling bisa dijual menjadi uang kuno kali ya bang," kata saya ragu-ragu. Saya bahkan tidak tahu sekarang uang 50 masih laku tidak. Jadi agak merasa bersalah juga ngasih uang 50-an itu. Tapi saya juga merasa jengah karena koleksi uang 50-an saya dianggap tidak ada harganya.

"Ya udah deh neng," katanya pasrah.

Duh, saya kok jadi merasa bersalah>_<.

Tapi ya gimana dooooonk........

5 komentar:

  1. hehehe...jadi anak kos kok miskin banget sih y kt..kkkkkkk

    BalasHapus
  2. Nduuuul... Gw punya gocapan byk niyyy.. Kmaren nemu. Ada 8biji gitu kl g salah.. Mao? Ntr kl k sono gw bawa.

    BalasHapus
  3. @Anonim: Hoeey... sapa tu? Mbok ya sebutkan nama... hehehe....
    @Anonim: Ya boleh deh... yang ga receh juga boleh lho.

    BalasHapus
  4. wwawa,...ksiahyang sangat mengharukan. Gpp, lah, ketulusan dan kejujuran akan disaksikan rang lain dan TUhan akan menilainya, ehehhe..

    "let your gentleness be evident to all"...(Phillipian 4:5)

    BalasHapus
  5. @Darbe; Hohoho.... Nangis mengharu biru yak?

    BalasHapus