Selasa, 11 Januari 2011

Belanja, Koran, dan TV

Saya kesal.
Ruangan itu nyaris kosong. Padahal belum jam pulang. Bukan juga jam istirahat. Saya masuk, dan tak satupun menyapa saya. Jangankan menyapa, saya pun bingung harus bicara dengan siapa.

TV yang menyetal lagu campursari keras-keras berpendar di tengah ruangan. Tidak ada yang tampak ingin dilihat atau sungguh-sungguh didengar. Itu karena 3 orang di luangan setengah lapanan basket itu diisi tiga orang:
1. Baca koran
2. Ibu-ibu yang sedang memilih-milih baju yang ditawarkan pedagang

Hanya satu orang saja yang tampak di depan komputer dan mengerjakan sesuatu.

Tujuan saya ke salah satu kantor pemerintah itu untuk mendapatkan kejelasan mengenai data yang saya butuhkan. Pasalnya, data yang disediakan instansi di perpustakaan itu tidak lengkap, eh malah tidak ada dink! Saya diminta petugas perpus untuk ke ruangan yang membuat data tersebut. Jadi, bukan salah saya donk, mengganggu ketenangan bapak-bapak dan ibu-ibu yang tengah bersantai siang itu.

Saya bertanya pada ibu-ibu yang sedang bertransaksi dagang itu. Oh, kalau mau tanya, ke pak itu lho mbak. Kemudian saya lihat bapak di pojokan yang berbaju putih itu. Dan jadilah ia melayani saya. Di tengah-tengah melayani, terdengar dering telepon.
“Mbak, saya jemput anak saya dulu ya,” kata Bapak itu.
Menurut percakapan yang tidak sengaja saya dengar, anaknya minta dijemput sepulang sekolah. Jadilah saya yang mengalah berhadapan sendirian dengan data yang ia sodorkan. Beberapa bisa dipakai, tetapi ada data yang amat ruwet dan perlu diolah kembali. Data tersebut tercantum di kertas lembaran lebar 70 cm-an setebal 10 cm-an. Wew... kalau saya olah mending saya jadi pegawai situ...

Di ruangan itu terdapat sekitar 30 meja. Tidak ada seperempatnya terisi, walaupun nampaknya meja-meja itu punya penghuni masing-masing. Yah, anggap saja sedang kunjungan kerja. Kan sekarang marak tuh, kunjungan kerja. Bahkan yang menghabiskan lebih dari separuh APBD. Sayangnya memang tidak ada jluntrung hasil atau setidaknya laporan.

Sepulang dari kantor, saya ditanya rekan dari mana. Setelah tahu saya dari kantor itu, dia tanya. Kantornya sepi ya? Lagi pada nonton TV ya?
Owalaaah... ternyata emang sudah langganan seperti itu. Ya saya berbaik sangka aja. Mungkin kunjungan kerjanya berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kali yaa...

Saya sudah sering melihat hal-hal jamak seperti itu di berbagai instansi. Berangkat siang, pulang kecepetan. Ember sih, kalau pulang kesorean bakalan maceeet.. Maklum, jakarta raya... Sebenarnya kemacetan itu berkah lho, karena bisa digunakan sebagai alasan. Kalau jum'at, kantor buka lebih siang. Biasa, senam dulu... Setelah senam, biasanya ada pameran yang jual aneka produk rumah tangga di halaman atau di dalam gedung. Enak lho, setelah olah fisik dengan olahraga, berikutnya segarkan pikiran dengan belanja. Benar-benar mengolah Mind, Body and Soul :)

4 komentar:

  1. sesuk dadi pegawai wae nak kono wkwkwkwkwkkw

    BalasHapus
  2. lha ak kae ya pernah nyaris kaya ngono golek referensi neng perpus deptan, takon petugase ternyata deknen ya ra ngerti. giliran nesi mlebu ngenggo kaose dewe malah petugase langsung nyeplos. Nah itu lho mbak..tanya TRU*** aja! GUBRAAAAK

    BalasHapus
  3. Anonim: Mau dooong...
    Indolife: Waaakakakakakaka... Lucu tenan kuwi :))

    BalasHapus
  4. syng ya, padahal pegawai2 itu "orang-orang pilihan" lho.
    btw, indolife iku a.k.a tri bukan?

    BalasHapus