Sabtu, 26 Januari 2013
Sepeda, Lego, dan Celana Bayi
Pulang membeli makan malam, saya dan kakak perempuan saya, Nano, mampir ke toko perlengkapan bayi di Jalan Magelang, Yogyakarta. Saya usul ke situ karena saya sendiri belum pernah mampir ke toko yang agak suram temaram itu.
Menurut saya, toko itu lebih mirip depot daging sapi dibanding toko baju bayi. Meski begitu Nano langsung mengiyakan usulan saya untuk mampir. Ia kepingin melihat-lihat sepeda untuk anaknya Tholo yang berumur 1 tahun 9 bulan itu.
Masuk di gerbang toko, Tholo, keponakan saya sudah menjerit-jerit,
“Naik-naiiik!” begitu teriaknya tiada henti sambil menunjuk mobil-mobilan yang terpajang. Kami tidak mengijinkannya naik. Maklum, begitu naik dia akan susah dibawa pulang.
Akhirnya dengan menggendong paksa Tholo, kakak saya bisa menjelajah toko. Mulai dari sepeda bayi, sampai baju-baju. Uniknya di toko itu, setiap pelanggan seperti kami dikawal oleh seorang pramuniaga. Bak pembelanja pribadi di gerai mahal, ia mengikuti kami dengan selalu sigap menjawab pertanyaan yang kami ajukan.
Sewaktu di bagian sepeda bayi, kakak saya bertanya.
“Ini berapa, Mbak?” sambil menunjuk sepeda ukuran sedang.
“Dua ratus dua puluh lima, Mbak,” jelas Mbak Pramuniaga.
“Oooh,” kata kakak saya.
“Kalau yang ini?”
“Seratus enam puluh lima.”
Berikutnya kakak saya makin aktif bertanya. Melihatnya hanya bertanya-tanya dan belum mengambil keputusan, saya bertanya lagi dengan lebih gamblang kepada si Mbak-mbak pramuniaga.
“Yang paling murah yang mana, Mbak?”
“Ini yang paling murah. Seratus empat puluh lima.”
“Oooh, kataku.”
Kakak saya juga manggut-manggut. Setelah bagian sepeda itu, Mbak Pramuniaga masih tampak sabar mengikuti kami berdua, walaupun saya yakin, ia sudah melihat bahwa kami bukanlah calon pembeli yang prospektif.
Selanjutnya, mata saya beralih pada lego anak-anak yang berukuran besar. Saya pun bertanya kembali kepada Pramuniaga yang memakai kaus warna pink itu.
“Ini berapa Mbak?” ujar saya sambil menunjuk lego yang paling besar.
“Tujuh ratus ribu,” jawabnya.
“Apaaa? Tujuh ratus ribu?” ucap saya spontan.
Melihat muka saya yang terbengong, Mbaknya kemudian merinci harga lego lainnya satu persatu. Yang saya heran, dia hapal sekali.
“Yang ini, 76-ribu, yang ini 67-ribu, bla-bla-bla,” jelasnya. Mungkin ada sekitar 9 macam lego yang ada di situ.
Melihat saya yang hanya mengangguk-angguk tak antusias, ia tetap gigih dengan coba menawarkan harga lego yang terendah.
“Nah, yang ini 19-ribu.”
“Oke, terimakasih,” jawab saya singkat sambil ngacir.
Selanjutnya, mungkin setelah melihat kami adalah calon pembeli tingkat E (calon pembeli sangat sangat sangat tidak potensial), saat kakak saya melihat-lihat celana bayi, si pramuniaga dengan cepat menyesuaikan keadaan.
“Nah, ini yang celana bayi yang murah, cuma Rp 9-ribu,” katanya sambil mengangsurkan contoh celana yang paling murah kepada kakak saya. Mungkin pikir Mbak Pramuniaga tiada guna menawarkan celana mahal.
“Ehm,” kata saya sambil nelan ludah. “Warnanya norak banget ya.”
Kakak saya hanya nyengir. Setelah berterimakasih pada si Mbak, kami mengembalikan celana dan keluar Toko. Saya tidak mau menebak-nebak pikiran si Mbak Pramuniaga karena toh pasti dia juga sudah maklum. Entah sudah pelanggan ke berapa yang serupa dengan kami hari ini.
Sebelum saya mengambil motor, Nano berusul lagi.
“Eh, kita ke toko sebelah yuk.”
“Lha ini motornya? Boleh parkir di sini?”
“Boleeeeh,” katanya pede sambil menggendong Tholo.
Kami berdua pun berjalan menuju toko perlengkapan bayi sebelah.
Selanjutnya adegan itu terulang lagi:
“Yang ini berapa Mbak? Yang itu berapa Mbak?” tanya kakak saya sambil tunjuk-tunjuk sepeda bayi yang dipajang. Bedanya, lokasinya di toko sebelah.
Beberapa saat kemudian terdengar juga rengekan Tholo. Kali ini ia tak mau diturunkan dari salah satu sepeda.
“Naik-naiiiik!”
Kamis, 01 November 2012
Sabar, ya.
Bagaimana kalau besok pagi saya mendapati panggilan telepon berkode negara Swedia yang menyatakan saya pemenang nobel fisika?
Reaksi saya yang pertama pastilah mengira sedang masuk supertrap. Bagaimana mungkin saya bisa menang nobel fisika? Jangankan mengontrol partikel kuantum, pertanyaan bakul tentang berapa harga pepaya 0,6 kg bila harga per kilonya Rp 4.500 saja saya gagap.
Dari situ bisa saya tarik kesimpulan, ada satu yang hilang di dalam keberhasilan yang instan, yaitu proses. Tanpa ingat bahwa kita pernah berproses, penghargaan apapun akan terasa hampa. Alih-alih bikin bangga, penghargaan tanpa proses bisa membawa celaka.
Contoh kasus, seorang anak dimasukkan ke Fakultas Kedokteran oleh orang tuanya ‘dengan paksa’. Tapi apakah kemudian bisa memastikan bahwa si Anak bisa bertahan di lingkungan kuliahan itu perkara lain. Kalau nggak kuat, malah bisa stres. Ada yang bilang, lulus kuliah itu lebih sulit dibanding masuknya.
Sehari-hari banyak kita lihat, betapa proses kurang dihargai. Memasak sendiri untuk anak atau pasangan itu repot dan lama. Apalagi kalau si anak memalingkan mulut tanda nggak doyan hasil masakan yang dibuat dengan repot itu. Apesnya lagi kalau pasangan ngeluh masakannya nggak seenak rendang di warung sebelah.
Sungguh, saat itu lebih gampang beli ayam goreng, masak mi instan, atau memberi biskuit bayi untuk anaknya. Padahal satu-satunya cara untuk mendapatkan makanan yang sehat, berkualitas, dan murah adalah dengan memasak sendiri. (Perkecualian kalau si kepala rumah tangga mampu mengundang Adhika Maxi untuk masak di rumahnya).
Lomba adu cepat dan dulu-duluan nggak cuma terjadi di lingkup keluarga. Perusahaan telekomunikasi bersaing menciptakan layanan super cepat. Nggak ada ceritanya layanan internet yang bersemboyan jagonya lambat. Yang ada super cepat, fast, anti lelet, dan lain sebagainya. Pun, secepat-cepatnya internet, orang masih mengeluh kalau 24 jam dalam sehari itu nggak cukup untuk mengerjakan segala sesuatunya.
Ada yang bilang, kota tempat saya tinggal mempunyai moto Jogja slowly Asia. Padahal menurut saya Jogja nggak Slowly lagi. Jaman dulu, simbah saya itu berangkat kerja pagi, dan pulang jam satu siang. Sisa waktu kerja bisa digunakan untuk bercengkerama dan kegiatan kampung.
Sekarang, perilaku tergesa-gesa, instan, terlihat di berbagai sudut Jogja. Suara klakson tak sabaran yang menyuruh maju sebelum lampu berganti hijau merajalela. Iming-iming kaya dadakan pun makin menggila. Tengoklah iklan ajakan seminar *Beli Properti Tanpa Uang Tanpa Utang*. Saya pun yakin, nantinya seminar *Beli Properti Tanpa Ngapa-ngapain* pasti jauh lebih laku.
Dunia tempat tinggal kita yang penuh ketergesaan membuat situasi makin absurd. Orang mulai berandai-andai agar semua barang termasuk kunci mobil bisa di-missed called. So, kalau ketlingsut di suatu tempat nggak perlu waktu untuk mencarinya. Menyakiti dan meminta maaf sudah semudah proses undo dan redo.
Sampai-sampai lengan kekar dan otot kotak-kotak bukan lagi representasi orang yang giat bekerja melainkan orang yang gemar fitness.
Nggak terbayang kalau pelayan rumah makan mengatakan ini,
“Maaf, nasi di dalam nasi goreng pesanan Anda masih ada di sawah. Mohon ditunggu.”
Bagi sebagian orang, ada yang menganggap saya ini orang yang pesimis dan jarang bermimpi untuk kaya. Meski begitu, sebenarnya saya punya mimpi lho. Yaitu tidur siang di rerumputan di Kebun Raya Bogor yang menjadi rumah saya, sambil menunggu dengan santai datangnya telepon bernomor Swedia.
Reaksi saya yang pertama pastilah mengira sedang masuk supertrap. Bagaimana mungkin saya bisa menang nobel fisika? Jangankan mengontrol partikel kuantum, pertanyaan bakul tentang berapa harga pepaya 0,6 kg bila harga per kilonya Rp 4.500 saja saya gagap.
Dari situ bisa saya tarik kesimpulan, ada satu yang hilang di dalam keberhasilan yang instan, yaitu proses. Tanpa ingat bahwa kita pernah berproses, penghargaan apapun akan terasa hampa. Alih-alih bikin bangga, penghargaan tanpa proses bisa membawa celaka.
Contoh kasus, seorang anak dimasukkan ke Fakultas Kedokteran oleh orang tuanya ‘dengan paksa’. Tapi apakah kemudian bisa memastikan bahwa si Anak bisa bertahan di lingkungan kuliahan itu perkara lain. Kalau nggak kuat, malah bisa stres. Ada yang bilang, lulus kuliah itu lebih sulit dibanding masuknya.
Sehari-hari banyak kita lihat, betapa proses kurang dihargai. Memasak sendiri untuk anak atau pasangan itu repot dan lama. Apalagi kalau si anak memalingkan mulut tanda nggak doyan hasil masakan yang dibuat dengan repot itu. Apesnya lagi kalau pasangan ngeluh masakannya nggak seenak rendang di warung sebelah.
Sungguh, saat itu lebih gampang beli ayam goreng, masak mi instan, atau memberi biskuit bayi untuk anaknya. Padahal satu-satunya cara untuk mendapatkan makanan yang sehat, berkualitas, dan murah adalah dengan memasak sendiri. (Perkecualian kalau si kepala rumah tangga mampu mengundang Adhika Maxi untuk masak di rumahnya).
Lomba adu cepat dan dulu-duluan nggak cuma terjadi di lingkup keluarga. Perusahaan telekomunikasi bersaing menciptakan layanan super cepat. Nggak ada ceritanya layanan internet yang bersemboyan jagonya lambat. Yang ada super cepat, fast, anti lelet, dan lain sebagainya. Pun, secepat-cepatnya internet, orang masih mengeluh kalau 24 jam dalam sehari itu nggak cukup untuk mengerjakan segala sesuatunya.
Ada yang bilang, kota tempat saya tinggal mempunyai moto Jogja slowly Asia. Padahal menurut saya Jogja nggak Slowly lagi. Jaman dulu, simbah saya itu berangkat kerja pagi, dan pulang jam satu siang. Sisa waktu kerja bisa digunakan untuk bercengkerama dan kegiatan kampung.
Sekarang, perilaku tergesa-gesa, instan, terlihat di berbagai sudut Jogja. Suara klakson tak sabaran yang menyuruh maju sebelum lampu berganti hijau merajalela. Iming-iming kaya dadakan pun makin menggila. Tengoklah iklan ajakan seminar *Beli Properti Tanpa Uang Tanpa Utang*. Saya pun yakin, nantinya seminar *Beli Properti Tanpa Ngapa-ngapain* pasti jauh lebih laku.
Dunia tempat tinggal kita yang penuh ketergesaan membuat situasi makin absurd. Orang mulai berandai-andai agar semua barang termasuk kunci mobil bisa di-missed called. So, kalau ketlingsut di suatu tempat nggak perlu waktu untuk mencarinya. Menyakiti dan meminta maaf sudah semudah proses undo dan redo.
Sampai-sampai lengan kekar dan otot kotak-kotak bukan lagi representasi orang yang giat bekerja melainkan orang yang gemar fitness.
Nggak terbayang kalau pelayan rumah makan mengatakan ini,
“Maaf, nasi di dalam nasi goreng pesanan Anda masih ada di sawah. Mohon ditunggu.”
Bagi sebagian orang, ada yang menganggap saya ini orang yang pesimis dan jarang bermimpi untuk kaya. Meski begitu, sebenarnya saya punya mimpi lho. Yaitu tidur siang di rerumputan di Kebun Raya Bogor yang menjadi rumah saya, sambil menunggu dengan santai datangnya telepon bernomor Swedia.
Senin, 29 Oktober 2012
Jaman ‘Grusa-grusu’
“Saya rasa organisasi X harus dibubarkan,” jelas seorang yang mengaku agamawan.
“Tapi pak, terus kalau dibubarkan mau apa selanjutnya? Bukankah dengan pendekatan dialog lebih baik?” tanya si pembawa acara.
“Dialog bagaimana? Mereka itu sudah ada sejak 80-an tahun yang lalu! Jadi dialog tidak ada gunanya,” jelas si Ulama.
Agama—seperti pakaian—perlu dijauhkan dari segala noda. Untuk itulah, perbedaan aliran di dalam agama itu sendiri biasanya lebih meruncing dibanding pertikaian antar agama. Kebalikannya, agama yang berseberangan justru jauh dari tuduhan, karena nggak ada unsur miripnya.
Membubarkan aliran ‘sesat’ bagi sebagian orang dianggap membereskan segalanya. ‘Kita sama, maka kita ada.’
“Bagaimana cara mendamaikan keyakinan kami yang bertolak belakang? Dengan cara menghapuskan salah satunya? Hanya itukah caranya?”
The 19th Wife-David Ebershoff-476.
Padahal, pembubaran aliran atau keyakinan itu tak gampang. Sesukar membuat nasi dari bubur. Jangankan aliran, bahkan untuk mengubah pola pikir aja sulitnya minta ampun.
Contohnya, saya percaya Tuhan itu berjenis kelamin laki-laki. Meski dari kecil diajarkan bahwa Tuhan tidak berjenis kelamin, tetapi sosok laki-laki dalam Tuhan tetap saja melekat di otak. Susah membayangkan Tuhan bersifat perempuan.
Dari kecil, Tuhan saya bayangkan serupa kakek-kakek tua yang bijaksana—bukan nenek atau perempuan muda yang cantik. Yang jelas bukan perempuan, karena kata Pak Ustad perempuan itu biang gosip dan calon penghuni neraka yang terbanyak.
"Dalam perjalanan hidupku, aku telah bertemu dengan orang-orang yang mengaku tidak percaya lagi kepada Tuhan dan Kristus, tetapi mereka menikah di gereja dan ingin dimakamkan di bawah batu salib. Pada saat kematian yang agung tiba, dengan masa depan abadi yang tidak diketahui, hanya sedikit orang yang benar-benar siap untuk menentang semua yang didoktrin benar kepada mereka.” The 19th Wife-David Ebershoff-393
Hal itu sedikit banyak menjelaskan perilaku manusia seperti: naik haji tapi tetep memalsukan nota dinas, hobi selingkuh tapi tetap sembahyang teratur, poligami dengan membawa alasan takut berzina, terdakwa korupsi yang selalu tak lepas dari kata ‘Astaughfirullah dan berserah kepada Allah’, dan keanehan lainnya.
Bukannya menyatakan penulis tulisan ini ‘suci’—nggak gitu. Tapi keanehan bisa dengan mudah kita lihat. Baik di dalam diri atau dalam kotak bercahaya bernama TV.
Saya maklum kok. Karena tak lain tak bukan, itu karena masa depan manusia yang katanya serba nggak jelas. Sembahyang atau kebaikan dilakukan karena takut masuk neraka. Pun ada Ustad yang bilang bahwa ‘Lulus Ujian Nasional itu nggak penting, lebih penting ibadah.’ Yeah, karena menurut Al-Kitab lulus UNAS bukan jaminan masuk surga.
Sayangnya, yang katanya agama diutamakan, urusan duniawi malah jadi terabaikan. Orang sibuk berlomba-lomba beribadah dengan memisahkan matematika, IPA, IPS dari agama. Tawuran diselesaikan dengan menambah jumlah jam pelajaran agama—tanpa mempelajari akar permasalahannya. Pun pencegahan demam berdarah dicegah dengan mewajibkan berpakaian arabiah dibanding melakukan 3M.
Selanjutnya, liberal, non liberal, kanan, kiri pun menjadi penting sepenting Gangnam Style. Masyarakat juga semakin sibuk men-stabilo perbedaan untuk membedakan teman atau lawan.
Mungkin inilah zaman grusa-grusu, serba kesusu, serba instan. Bukannya makin mendalami kebenaran, malah sibuk menyesat-nyesatkan. Bukannya sibuk belajar, malah rajin tawuran. Semuanya pengen serba cepat: urusan beres. Menyesat-nyesatkan bertujuan pengen tetap dikukuhkan sebagai yang paling benar. Tawuran bermaksud pengen segera membuat kapok orang. Caranya bisa apa saja.
Siapa bilang duniawi itu jelek? Kan kehidupan setelah dunia kan diawali dengan duniawi yang baik dulu. Mungkin dengan sedikit melihat hal-hal duniawi, kita bisa lebih melihat persamaan di atas perbedaan, kesabaran di atas kemarahan, dan bisa mencari celah kesalahan-kesalahan yang dari dulu selalu kita benar-benarkan.
Sabtu, 06 Oktober 2012
Empati
Setiap hari, ada tetangga ‘gila’ yang mondar-mandir di belakang rumah. Saya sering berpapasan, ketika menuntun motor ke luar, atau menggunting tanaman. Sejak saya berumur 4 tahun, saya sudah mengabaikannya. Ia tak pernah saya sapa, atau sekadar berani menatap matanya.
Orang gila itu sudah saya cap menakutkan sejak kecil. Meski ia tak pernah sekalipun merugikan. Tingkahnya hanya mondar-mandir tanpa tujuan di jalanan kampung, tetapi tidak lebih jauh dari itu. Bahkan, kata ‘gila’ itu sendiri saya juga yang mengasosiasikan. Ia adalah kata yang sudah tertanam, baik gila, nggak waras, kurang satu ons, dan kata lain yang selaras dengan gila.
Dulu sampai sekarang, saya selalu was-was dan penuh prasangka. Jangan-jangan kalau disenyumi, dia naksir saya atau berbuat sesuatu yang gila. Padahal belum pernah sekalipun saya buktikan. Saya menghakiminya sejak dulu. Sejak Mami—Ibu saya bercerita, bahwa orang gila itu pernah bilang ingin menikah dengan Mami, meski maaf, Ibu saya itu udah tua, nggak cantik dan sudah punya banyak anak.
Oke, cantik itu relatif. Kadang memang tabu untuk diungkapkan, tetapi yang jelas Mami tipe-tipe yang nggak akan masuk di sampul Majalah MORE.
Saya selalu dan selalu menghakimi. Bertindak kejam dengan mengabaikan. Menganggap dia itu hantu. Hantu—yang sampai kapanpun tidak pernah saya akui sebagai makhluk yang punya perasaan. Saya sudah terlanjur menempelkan stigma gila. Dengan ‘spidol Snowman permanent’.
Saya tidak pernah mencoba peduli. Dengan tersenyum, menyapa, atau ngajak ngobrol. Itu karena sama dengan mencoba sesuatu yang gila. Beresiko. Mending cari aman. Yaitu pengabaian.
Teman saya pasti akan mengatakan saya GE-ER-an. Tapi akan saya tanggapi, ‘Ya udah, coba Anda saja yang senyam-senyum sama dia. Itung-itung amal.’
Stigma yang saya tempel, baik atau buruk jelas-jelas buruk. Bagaimana cara menakar baik buruknya? Ya dengan ber-empati—kata yang sekarang makin ditinggalkan. Kok bisa? Hal itu bisa kita lihat dalam diri dan sekitar kita. Haji dipandang sebagai hal yang terbaik padahal tetangganya tiap hari cuma makan indomie. Orang-orang hanya sibuk menyalahkan pemerintah dan cukup puas bila sudah nyetatus di facebook atau ngetweet tanpa ada hal nyata-nyata dilakukan untuk memperbaiki negara yang sudah morat-marit.
Kembali pada orang gila, kemudian saya berandai-andai. Jika saya jadi dia maka... Hmm... tentu saya merasa sedih. Kalau dia benar-benar gila sehingga nggak peduli apakah saya senyum atau koprol sih mungkin tidak menyakiti dia. Tapi kalau dia kumat-kumatan bahkan sudah sembuh, apa nggak miris tuh perasaannya, tiap hari dicuekin tetangga? Jelas saya berlumuran dosa.
Sehingga, ketika ada anak tetangga yang bilang,
“Keyla masuk neraka.”
Keyla adalah salah satu teman bermainnya, yang masih hidup tentunya.
“Kok bisa?” saya mengernyit.
“Ya iya, karena dia nakal.”
“Kok kamu bisa mastiin dia masuk neraka?” tanya saya.
Dia tidak menjawab. Tapi ada satu yang pasti, bahwa anak itu sudah mulai terpengaruh untuk mengadili orang bahkan sebelum mereka mati. Mengadili, memberi stigma, memberi cap, yang kemungkinan besar bisa meleset.
Jangan-jangan yang bilang Keyla masuk neraka lebih nakal? Jangan-jangan, saya lebih gila daripada orang yang saya cap gila? Jangan-jangan...
Ah sudahlah. Saya teruskan lagi menggunting tanaman dan memilih mengabaikannya.
Orang gila itu sudah saya cap menakutkan sejak kecil. Meski ia tak pernah sekalipun merugikan. Tingkahnya hanya mondar-mandir tanpa tujuan di jalanan kampung, tetapi tidak lebih jauh dari itu. Bahkan, kata ‘gila’ itu sendiri saya juga yang mengasosiasikan. Ia adalah kata yang sudah tertanam, baik gila, nggak waras, kurang satu ons, dan kata lain yang selaras dengan gila.
Dulu sampai sekarang, saya selalu was-was dan penuh prasangka. Jangan-jangan kalau disenyumi, dia naksir saya atau berbuat sesuatu yang gila. Padahal belum pernah sekalipun saya buktikan. Saya menghakiminya sejak dulu. Sejak Mami—Ibu saya bercerita, bahwa orang gila itu pernah bilang ingin menikah dengan Mami, meski maaf, Ibu saya itu udah tua, nggak cantik dan sudah punya banyak anak.
Oke, cantik itu relatif. Kadang memang tabu untuk diungkapkan, tetapi yang jelas Mami tipe-tipe yang nggak akan masuk di sampul Majalah MORE.
Saya selalu dan selalu menghakimi. Bertindak kejam dengan mengabaikan. Menganggap dia itu hantu. Hantu—yang sampai kapanpun tidak pernah saya akui sebagai makhluk yang punya perasaan. Saya sudah terlanjur menempelkan stigma gila. Dengan ‘spidol Snowman permanent’.
Saya tidak pernah mencoba peduli. Dengan tersenyum, menyapa, atau ngajak ngobrol. Itu karena sama dengan mencoba sesuatu yang gila. Beresiko. Mending cari aman. Yaitu pengabaian.
Teman saya pasti akan mengatakan saya GE-ER-an. Tapi akan saya tanggapi, ‘Ya udah, coba Anda saja yang senyam-senyum sama dia. Itung-itung amal.’
Stigma yang saya tempel, baik atau buruk jelas-jelas buruk. Bagaimana cara menakar baik buruknya? Ya dengan ber-empati—kata yang sekarang makin ditinggalkan. Kok bisa? Hal itu bisa kita lihat dalam diri dan sekitar kita. Haji dipandang sebagai hal yang terbaik padahal tetangganya tiap hari cuma makan indomie. Orang-orang hanya sibuk menyalahkan pemerintah dan cukup puas bila sudah nyetatus di facebook atau ngetweet tanpa ada hal nyata-nyata dilakukan untuk memperbaiki negara yang sudah morat-marit.
Kembali pada orang gila, kemudian saya berandai-andai. Jika saya jadi dia maka... Hmm... tentu saya merasa sedih. Kalau dia benar-benar gila sehingga nggak peduli apakah saya senyum atau koprol sih mungkin tidak menyakiti dia. Tapi kalau dia kumat-kumatan bahkan sudah sembuh, apa nggak miris tuh perasaannya, tiap hari dicuekin tetangga? Jelas saya berlumuran dosa.
Sehingga, ketika ada anak tetangga yang bilang,
“Keyla masuk neraka.”
Keyla adalah salah satu teman bermainnya, yang masih hidup tentunya.
“Kok bisa?” saya mengernyit.
“Ya iya, karena dia nakal.”
“Kok kamu bisa mastiin dia masuk neraka?” tanya saya.
Dia tidak menjawab. Tapi ada satu yang pasti, bahwa anak itu sudah mulai terpengaruh untuk mengadili orang bahkan sebelum mereka mati. Mengadili, memberi stigma, memberi cap, yang kemungkinan besar bisa meleset.
Jangan-jangan yang bilang Keyla masuk neraka lebih nakal? Jangan-jangan, saya lebih gila daripada orang yang saya cap gila? Jangan-jangan...
Ah sudahlah. Saya teruskan lagi menggunting tanaman dan memilih mengabaikannya.
Jumat, 30 Maret 2012
Ada Manusia, yang Lain Diharap Minggir
Suatu saat saya boker. Belum sempat keluar apapun, terdengar sebuah kecipak di kloset. Saya tengok: walah, seekor tikus yang gelagapan sedang berusaha keluar dari kubangan kloset. Hiiiiiyyyy...
Saya tidak berteriak histeris itu sih. Segera saya tutup pintu kamar mandi dan mengambil tongkat. Entah mungkin karena takut digebuk tiba-tiba bisa merangkak keluar dari kloset. Saya dan Mbak Pri—asisten rumah tangga—mengejar-ngejar tikus itu. Tikus itu sukses meloloskan diri melewati sebuah lubang kecil yang terhubung dengan rumah tetangga.
Awalnya saya agak traumatis. Takut di dalam kloset terdapat another tikus. Tapi toh karena hasrat kebelet ya gimana lagi. Mungkin tikus itu tergelincir di dalam kloset dan tidak bisa meloloskan diri. Sehingga ia malah menyelam dan terjebak di situ. Dan ketika akhirnya ia mau keluar, eh, malah melihat pantat saya. Lalu saya berpikir, ia pasti lebih ketakutan dan traumatis daripada saya.
Super serakah
Ketika membayangkan peristiwa itu, saya mulai menyadari bahwa saya adalah makhluk yang serakah. Pokoknya, saya ingin rumah saya bersih. Nggak boleh ada kecoa, nyamuk, tikus, lalat, apalagi ular dan tomcat!!
Bapak saya pernah cerita. Dulu, waktu bapak saya kecil, di molo (balok yang menopang rangka atap) sering terlihat ular mondar-mandir mencari tikus. Namun, lama kelamaan tidak ada lagi ular-ular karena hunian di sekitar kami semakin padat.
Nah, giliran si pemangsa tikus hilang, meledaklah populasi tikus. Dan sekarang saya menggerutu karena banyak tikus. Namun saya tidak membayangkan saya akan memelihara ular untuk membasminya: mengingat kucing tak lagi berburu tikus.

Burung yang nyasar di ruang perpustakaan rumah.
Mungkin karena rumah mereka sudah banyak terusik saya.
Manusia selalu ingin keadaan ideal bagi mereka, namun tak pernah ideal bagi kaum lainnya. Bahkan kalau di suatu rumah ada hantunya, terpaksa paranormal bertindak dan membujuk si makhluk halus pindah lokasi. Pokoknya tempat tinggal manusia ya manusia! Nggak boleh ada yang mengganggu.
Belum lagi kalau ada serangan semacam ulat bulu. Memang tidak sedikit yang takut dengan makhluk bernama ulat. Padahal, peristiwa seperti itu merupakan suatu siklus, bahkan bisa membantu pertumbuhan tanaman. Tapi kejadian seperti itu justru ditanggapi berlebihan dengan menyemprotkan pestisida ke mana-mana. Padahal, dengan menyemprotkan pestisida, konsumen yang paling terimbas adalah manusia karena ia merupakan makhluk di pucuk piramida makanan.
Ulat hitam
Beberapa bulan lalu, serangan ulat juga terjadi pada tanaman daun ungu saya. Tanaman itu bopeng-bopeng dimakan ulat hitam yang menyeramkan. Namun, beberapa bulan kemudian banyak kupu-kupu cantik di rumah saya. Selain itu tanaman daun ungunya kembali tumbuh subur. Indahnya kupu-kupu yang berterbangan di sekitar saya itu suatu saat juga akan bertelur di daun, dan kembali terdapat ulat-ulat yang memakan dedaunan itu. Hal itu sangat alami bukan?
Untungnya serangan tomcat yang terjadi akhir-akhir ini ditanggapi secara berbeda. Media massa sudah semakin cerdas dengan membuat judul berita: tomcat sahabat petani. Penyemprotan juga dilakukan dengan pestisida organik. Menurut saya itu awal yang bagus untuk ‘bersahabat’ dengan makhluk lainnya. Saya tidak bisa membayangkan kalau manusia tetap mengadakan berbagai permusuhan dengan makhluk-makhluk yang sejatinya berguna itu.
Rabu, 07 Maret 2012
Basa-basi versus Aneh-aneh
Beberapa hari lalu, Erick, pacar saya, mengungkapkan keheranan terhadap saya. Menurutnya saya cenderung menarik orang untuk mengobrol.
“Kita berdua sama-sama lagi membaca, tapi kok yang diajak ngobrol kamu,” ungkapnya beberapa waktu lalu.
Katanya ini sering terjadi. Seperti di Malioboro beberapa waktu lalu, ada seorang fotografer wanita yang mengajak ngobrol saya, dan bukannya mengajak ngobrol Erick atau orang lain.
Saya tidak bermaksud nyombong seandainya saya punya kemampuan 'menarik' orang. Pasalnya, tak semua yang ngobrol itu ‘nggenah’.
Kadang malah orang aneh yang mengajak saya bicara. Contohnya beberapa hari lalu, seorang pria yang mengajak ngobrol saya.
“Mbak kerjaannya apa?”
“Mmm... sekarang sedang menulis. Eh, bisa dibilang serabutan,” jawab saya.
Sebagai basa basi dan menaruh hormat, saya ganti bertanya, karena dari tadi orang ini yang terus bertanya.
“Lha kalau bapak, kerjaannya apa?” tanya saya.
“Pendusta.”
Jederr.... Pria itu berbicara tidak dengan nada bercanda, ia serius. SUNGGUH. Ini membuat saya menerka, jangan-jangan pendusta bisa sejajar dengan profesi baru lain seperti sosialita, dan aktivis jejaring sosial.
Ada juga orang yang ingin kenalan dengan saya dengan cara menebak-nebak.
“Kamu agamanya apa sih? Kristen?”
“Bukan.”
“Budha?”
“Bukan.”
Dan dia urutkan ke semua agama besar di Indonesia sampai tamat.
Tak puas dengan Agama, karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta itu bertanya hal lain.
“Kamu dari daerah mana sih? Padang?”
“Bukan.”
“Medan?”
“Bukan.”
“Sulawesi Selatan?”
“Bukan”
Dan dia urutkan sama seperti pertanyaan sebelumnya. Mungkin nyaris 33 provinsi ia tebak. Saya mulai menerka-nerka bahwa ia dulu maniak ikut kuis ‘who wants to be millionare’ dengan pilihan bantuan: boleh menebak sesukanya.
Menurut teman saya Kurnia Harta Winata saya cenderung menarik orang-orang aneh. Berbicara dengan orang aneh terdapat sisi positif karena saya justru lebih bisa mengingat orang-orang aneh itu dibanding orang yang ngobrol tentang hal biasa alias basa-basi.
Omong-omong soal basa-basi, kadang saya sendiri merasa terlampau basa-basi. Hanya ngomong iya-iya, tanpa begitu konsentrasi apa yang dikatakan orang. Contohnya seperti ini, dan ini berkali-kali terjadi:
“Anaknya ya Mbak? Umur berapa?” tanya seorang Ibu-ibu yang lewat di depan rumah. Waktu itu saya tengah menggendong keponakan saya.
“Iya, 9 bulan bu.”
Lain kali, saya bersepeda ingin ke pasar, ada seorang tetangga baru yang bertanya.
“Mau pulang ya Mbak?”
“Iya,” jawab saya.
Akibatnya, selama beberapa lama tetangga itu selalu mengira saya pembantu di rumah Bapak saya.
Tentang bab asisten rumah tangga ini tak hanya Ibu itu yang bertanya, tapi yang lain juga.
“Dulu perasaan sampeyan belum kerja di sini,” tanya seorang Ibu ketika saya sedang menyapu halaman.
“Iya sih Bu,” jawab saya.
“Oh, dulu kerja di mana?”
“Di Jakarta.”
“Oh, jadi pas Mbaknya (Majikan alias kakak saya-red) ngelairin, baru kerja di sini ya?”
“Iya,” jawab saya. Lagi-lagi saya tidak mau dan malas menjelaskan.
“Wah, kalau sudah seminggu gajinya lumayan ya,” cerocos ibu itu lagi.
“Nggg...”
Tapi terkadang saya terlalu apa adanya, bukan basa-basi.
“Mau ke mana Mbak?” tanya seorang tetangga. Sungguh, sebenarnya ini pertanyaan basa-basi. Orang tidak akan peduli andai kita menjawab pamit ke Timbuktu.
Dengan malas saya menjawab, “Ngg... ke Toga Mas Bu.” Toga Mas adalah sebuah toko buku di Jogja.
“Oh... Oleh-olehnya ya,” katanya.
“...” saya speechles dan cuma tertawa getir. Niatnya mau jujur apa adanya malah repot. ***
Rabu, 09 November 2011
Benjolan di Payudara, Duh!
Ketika saya bilang saya sakit flu, mungkin orang hanya akan bilang “Ooo.. Lekas sembuh ya.”
Tetapi berbeda ketika saya menjelaskan keadaan berikut ini.
“Ngg... aku habis operasi,” kata saya kepada teman.
“Oya? Operasi apa?”
“Payudara,” jawab saya.
Seketika itu berbagai macam pertanyaan bermunculan. Kok bisa dioperasi? Benjolan apa? Tumor? Ganas nggak? Kenapa sih buru-buru dioperasi? Ada juga yang berkomentar, ih ngeri ya.
Pertanyaan-pertanyaan itu wajar, karena penyakit ini jarang dibahas.
Mungkin status berikut sering kita lihat di twitter atau fb:
“Flu nih.”
Namun jarang yang menulis status dengan gamblang seperti ini:
“Lagi punya benjol di payudara nih.”
Beberapa wanita menutup rapat, bahkan enggan membicarakannya ketika mendapati dirinya terkena tumor, meski tumor jinak di payudaranya. Padahal, benjolan di payudara banyak dialami wanita usia produktif.
Saya adalah salah satu wanita yang mengalami benjolan di payudara. Dua minggu lalu, sekitar 3 hari sebelum menstruasi, saya terkejut menyadari payudara sebelah kiri saya agak sakit saat menggendong keponakan saya. Ketika saya periksa, ternyata ada benjolan di payudara kiri. Benjolan tersebut tidak menonjol, melainkan hanya terasa kalau diraba.
Operasi
Keesokan harinya, hari Selasa, saya langsung menemui dokter bedah onkologi di rumah sakit. Sebelum bertemu dokter, saya menjalani USG. Hasilnya terlihat ada benjolan padat (echoless) ukuran kurang lebih 7 mm x 5 mm. Diagnosis USG mengarah ke fibroadenoma atau FAM. Dokter praktek yang saya temui berkata sebaiknya benjolan tersebut diangkat.
Untuk mengetahui lebih lanjut apakah benjolan itu ganas atau jinak, kakak saya merekomendasikan untuk melakukan biopsi. Hari Jum’at saya melakukan biopsi di lab patologi anatomi. Dengan jarum suntik, cairan atau jaringan di dalam benjolan diambil. Jaringan dioleskan ke dalam preparat kaca untuk dianalisis. Setelah itu, agak deg-degan juga membuka hasil pemeriksaannya. Alhamdulillah, jenis benjolan yang saya alami termasuk yang jinak.
Meski sudah diketahui jinak, tapi benjolan tetap disarankan diambil untuk dianalisis lebih lanjut. Oleh sebab itu, saya melakukan operasi setelah selesai menstruasi Oktober lalu. Ada beberapa orang yang menanyakan mengapa saya memilih dan mau dioperasi. Mereka ini biasanya menganggap operasi merupakan sesuatu yang mengerikan. “Lha wong disuntik aja takut, apalagi operasi,” mungkin begitu pendapat mereka.
Saya menjalani operasi karena berprinsip sumber penyakit harus dibereskan dulu. Saya ingin ada analisis menyeluruh, bukan hanya meraba-raba, dan berharap-harap cemas apakah benjolan ini bisa hilang sendiri. Segera saya putuskan untuk operasi meski harus meminjam dana untuk operasi.
Dalam kasus saya, operasi merupakan cara yang tepat untuk menganalisis apa yang saya alami secara tepat. Karena setelah operasi, ada tahapan pemeriksaan jaringan, yang penting untuk mengetahui kecenderungan jaringan tersebut.
Pengalaman Teman
Sebelum operasi saya sempat bertanya-tanya kepada teman yang pernah mengalami hal yang sama. “Kalau aku sih ken, pernah mencoba alternatif, habis lumayan banyak. Jadi aku operasi. Karena pada dasarnya, ada FAM yang bisa sembuh sendiri, ada juga yang mesti diangkat,” katanya. Waktu itu saya masih berpegang pada diagnosis awal dokter bahwa saya menderita FAM.
Sewaktu saya periksa di rumah sakit, saya juga ketemu Ibu-ibu yang bercerita tentang penyakitnya. Ia duduk disamping saya ketika saya menunggu hasil USG dari rumah sakit. Ia berkata bahwa ia punya benjolan di payudara sejak usia 12 tahun. Ia tidak pernah memeriksakan benjolan itu. Kemudian, setelah usia 42 tahun, ia menderita kanker payudara. Kemungkinan benjolan yang ia derita dahulu itu menjadi kanker yang ia derita sekarang. Ibu yang bekerja di Jakarta itu akhirnya ke dokter setelah berbagai obat alternatif nan mahal harganya tidak membawa hasil.
Meski begitu, saya memutuskan operasi atau bukan tidak terkait dengan percaya atau tidak percaya terhadap pengobatan alternatif atau semacamnya. Saya memutuskan pergi ke dokter dan melakukan operasi terutama agar dapat segera menerima keadaan (secara psikis) dan memahami benar-benar apa yang tengah terjadi.
Dengan menjalani berbagai pemeriksaan, pikiran saya jadi tenang dan tidak dibayangi rasa cemas. Dengan mengetahui apa yang terjadi, saya merasa bisa berpikir jernih dan memutuskan apa yang baik bagi diri saya.
Macam-macam Tumor
Dokter Herjuna Herdiyanto SpB (Onk) menjelaskan pada saya, ada dua macam tumor payudara, yang jinak, dan ganas. Yang jinak terdiri dari dua, yaitu Fibroadenoma atau FAM, dan Fibrocystic disesase atau FCD.
FAM terdiri dari dua macam, FAM murni, dan Phylloids. FAM murni tidak ada kecenderungan menjadi ganas, namun tipe phylloids mempunyai kemungkinan menjadi ganas, sehingga diperlukan observasi rutin.
Untuk FCD, dibedakan menjadi 3 stadium, I, II, dan III. Stadium I cenderung jinak, sedangkan stadium II dan III bisa mempunyai kecenderungan ke ganas. Stadium II bisa 15—20 tahun menjadi ganas, sedangkan stadium III lebih singkat, bisa dibawah 5 tahun. Oleh sebab itu pada stadium II, diperlukan observasi setiap 3—6 bulan. Sedangkan stadium III diobservasi 2 minggu sekali sampai 1 bulan. Di situlah perlunya saya mengangkat benjolan di payudara saya, yaitu untuk menentukan saya ada di stadium mana.
Melalui operasi-lah, saya menjadi tahu diagnosis yang lebih tepat. Setelah benjolan saya diangkat, baru ketahuan ternyata saya mengalami fibrocystic disease (FCD) atau kista payudara, bukannya FAM seperti diagnosis awal. Meski begitu, saya tetap merasa lega karena baik FAM dan FCD sama-sama tumor jinak. Bedanya, FAM padat, sedangkan FCD berisi cairan.
Sabtu lalu saya menjalani operasi. Saya dibius lokal atau hanya di sekitar payudara. Operasi berlangsung singkat, sekitar 1 jam lamanya. Karena saya masih sadar, saya bercengkerama dan bergurau sepanjang operasi dengan dokter dan para perawat. Di ruang operasi juga terdapat TV yang bisa saya dengar siarannya. Saya bahkan bisa terus berpesan pada dokter dan perawat agar jahitannya rapi.
“Iya Mbak, ini rapi jali wis, jahitannya,” kata seorang perawat.
Saya pengen tertawa, tapi hanya bisa meringis karena waktu itu payudara saya tengah dijahit.***
Langganan:
Postingan (Atom)