Senin, 21 Februari 2011

Kata Bapak Polisi Saya Teladan!

Dulu, saya dapat SIM C lewat calo. Itu karena permintaan Bapak saya yang aneh. "Sebelum latihan motor di jalan raya, kamu harus punya SIM dulu," pinta Bapak. Padahal, waktu itu saya belum mahir mengendarai motor.

Bapak memang ngotot agar saya punya surat ijin mengemudi sebelum belajar motor di jalan. Alasannya, bahaya kalau pas belajar dan kecelakaan tanpa SIM. Itu karena tanpa mengantongi surat, kita mudah menjadi pihak yang disalahkan ketika terjadi insiden.

Lah, gimana lulus tes kalau naik motor pun masih kaku? Terpaksalah saya urus SIM di calo. Lewat perantara, saya bisa menggarap tes asal-asalan. Mata merem aja lulus. Nggak lulus ujian praktek pun bisa teteup dapat SIM.

SIM raib
Suatu saat ketika bekerja di Jawa Barat, SIM itu hilang. Saya malas mengurus surat kehilangannya. Pasalnya di sana sehari-hari saya tidak pernah naik motor. Pergi ke mana saja biasa mengandalkan angkot, ojek, atau kereta.

Belakangan, saya baru tahu bahwa tes SIM ulang tanpa calo itu sulit. Tahu begitu, dulu saya semangat mengurus SIM hilang itu deh:( Akibatnya, ketika pulang ke kampung, saya harus tes ulang untuk mendapatkan SIM.

Sebenarnya saya malas sekali ikut ujian. Namun, bagaimanapun saya tetap harus mencari SIM kembali. Itu karena angkutan umum di kota saya itu 'hidup enggan, mati segan'. Akibatnya, sepeda motor merupakan kendaraan utama saya dan penduduk lainnya.

Guna mendapatkan SIM, pertama harus menjalani tes tertulis. Apabila lolos, saya dapat mengikuti tes praktek. Karena sudah pernah tes abal-abal beberapa tahun lalu, saya menyepelekan tes itu. Aih, paling tes tulisnya itu-itu mlulu. Karena itulah, saya kira bisa lolos tes walau dengan sedikit belajar.

Karena meremehkan, tes tertulis awal itu pun gagal. Skor saya kurang 2 poin. Segi positifnya, saya menjadi gemas dan tertantang. Masa iya sih, berpendidikan sarjana ga lolos. Ehehe... ga ada hubungannya sih.

Akibatnya, saya tergerak untuk benar-benar belajar. Saya pelajari lagi buku lalu-lintas, dan mencari referensi di internet. Setelah googling, ternyata ada file PDF yang memuat soal ujian SIM. Jumlah soalnya pun ratusan. Ck ck ck. Akhirnya usaha itu ada hasilnya. Saya lolos di ujian tulis kedua. Hore! Tetapi perjuangan belum selesai.




Huruf u kecil
Langkah berikutnya yang musti di tempuh adalah tes praktek. Lagi-lagi saya menyepelekan. Saya hanya berlatih sehari sebelum tes. Bersama kakak, saya berlatih di lapangan. Kami berlatih membuat zig-zag dan angka 8, seperti tes yang dulu saya jalani. Yah, walaupun kadang gagal, tetapi bisa lah. Tinggal mengandalkan teliti saat tes, pikir saya.

Walhasil saya gagal di tes praktek tersebut. Faktor pertama karena saya grogi. Faktor kedua ternyata ada tes tambahan. Selain membuat zig-zag dan angka 8, ada tes membuat huruf u kecil. Ternyata tes-nya berbeda dengan tes abal-abal lewat calo dulu.

Selain saya, banyak peserta lain yang gagal. Dari 7 orang, hanya seorang yang berhasil. Padahal, banyak di antara mereka yang sudah tes 1—2 kali. Setiap orang hanya mendapatkan kesempatan 3 kali. Akibatnya mereka yang tidak lolos memutuskan cara lain. Entah kembali mengikuti tes tertulis atau mencari SIM di kota lain. Selebihnya, harus melakukan tes tulis ulang. Sementara saya, pulang tanpa SIM. Namun untungnya, saya masih berhak mengulang 2 kali lagi.

Nada sumbang
Melihat saya gagal test praktek pertama, keluarga dan teman-teman menghibur saya. Mereka tak yakin saya bisa lulus. Tidak hanya mereka, saya pun jadi pesimis bisa melewati tes tersebut, meski mengulang.

"Nanti kalau gagal lagi nembak aja,"
"Lho, tes praktek kan memang bermaksud supaya pesertanya nggak lolos"
"Aku yakin nanti akhirnya kamu nembak juga,"

Begitulah nada-nada sumbang yang dilontarkan. Tetapi saya pikir itu memang pernyataan yang wajar. Saya benar-benar sulit membayangkan saya berhasil membuat U kecil itu. Kakak saya pun agak kesulitan mempraktekkannya.

Karena penasaran, saya bisa berlatih tiap hari 1,5 jam selama seminggu. Setiap pagi pukul 6 saya berangkat. Saya berlatih di komplek polisi, tempat ujian SIM itu sendiri. Pagi hari, tempat itu tidak digunakan untuk kegiatan polisi.

Sebagai pengganti patok, saya gunakan air mineral 1 liter seperti saran kakak saya. Setiap pagi pula saya bawa aqua itu dan ditata sesuai tempatnya. Total saya gunakan 9 botol air mineral.

Keseimbangan
Karena tiap hari berlatih, banyak ibu-ibu komplek yang nonton dan memberi masukan. Kebanyakan dari mereka adalah istri polisi. Polisi-polisi yang lewat juga turut menasihati, bagaimana teknik membuat huruf U.

Awal latihan, saya benar-benar tidak bisa membentuk huruf U kecil itu. Hari kedua, mulai ada peningkatan. Begitu seterusnya, sampai akhirnya tingkat keberhasilan 80%. Ternyata kunci keberhasilannya adalah:
- Gunakan gigi 2
- Latih keseimbangan badan
- Gunakan rem kaki dan tangan
- Lakukan pemanasan sebelum tes
- Latihan, latihan, latihan, tak jemu-jemu (sampai tangan serasa kram).

Seminggu kemudian, tibalah tes tersebut. Agar tidak dipanggil pertama kali, saya mengisi absensi setelah peserta-peserta lain. Takutnya dipanggil pertama dan jadi grogi. Tapi tetap saja pak polisi memanggil saya untuk tes terlebih dahulu. Siaaaal... batin saya. Mungkin karena polisinya hapal dengan saya yang pagi-pagi membantu mengangkat patok-patok :D

Latihan yang membuat saya harus selalu bangun pagi-pagi dan sarapan amat pagi itu akhirnya membuahkan hasil. Dengan mulus saya melewati halang rintang yang disiapkan bapak polisi.

"Apa?? Lulus Pak? Saya Lulus????!!!" begitu tanggapan saya setelah dinyatakan lulus. Pokoknya norak dot com. Saya sedang tidak berakting, tetapi saya memang amat bahagia. Dari 8 orang yang tes, hanya satu orang dan saya yang lolos. Kemudian sambil menyalami saya, polisi itu berkata pada peserta-peserta lainnya:

"Nah, ini lho, contoh yang bisa diteladani. Mbaknya ini latihan tiap pagi. Saran saya ada yang mewarisi botol aquanya untuk latihan," katanya. Lho, ternyata Bapak Polisi itu tahu saya latihan tiap hari. Padahal saya tidak pernah bertemu ketika latihan lho. Mungkin dari temen-temennya kali ya.

Ahahahayyyyyyy....... Saya amat bangga saya lulus. Ketika punya anak, saya bisa berkata nyombong pada anak saya.

"Ibu aja bisa lulus ujian sim tanpa calo, masa kamu nggak bisa?"


Senin, 17 Januari 2011

Udan Ora Udan Ngejazz!

Udan Ora Udan Ngejazz! Itulah yang berulangkali diteriakkan pembawa acara Ngayogjazz 2011. Artinya, hujan atau tidak, musik jazz tetap dilantunkan. Hal itu untuk membuat ratusan penonton tetap semangat meski terus diguyur hujan.

Semakin malam, penonton semakin memenuhi pelataran Djoko Pekik. Hujan terus menerus membuat lapangan berumput itu becek. Namun, keadaan itu tak menyurutkan minat penonton untuk menyaksikan aksi para pemain jazz. Begitu juga saya yang ketagihan nonton acara seperti itu.

Penampilan Syaharani di Ngayogjazz 2011, banyak diminati penonton

Alasan saya suka acara jazz simpel. Itu karena saya selalu merasa puas melihat aksi-aksi pemainnya walaupun tidak kenal semua lagunya. Instrumen bas adalah favorit saya. Bukannya saya bisa main bas, namun saya sering kegirangan melihat pemain memainkan basnya. Keren^^

Acara yang dikoordinasi oleh Djaduk Ferianto itu sebagian besar diminati kaum muda. Tak jarang mereka tidak kenal penyanyi/pemain yang tampil. Namun, toh mereka tetap setia menyimak. Mungkin sebagian akibat penasaran karena belum pernah menonton event jazz, atau mungkin memang bertujuan kencan di malam minggu. Terbukti dari percakapan-percakapan mereka yang selalu bertanya-tanya siapa yang sedang tampil.

Kaki saya basah, penuh lumpur, dan nggak keren karena karena berselubung jas hujan. Keadaan itu juga dialami pengunjung lainnya. Pertunjukan yang diramaikan artis lokal dan nasional itu memang tak pilih kasih. Tidak ada tiket VVIP, VIP, atau festival. Baik yang naik mobil atau pun motor harus rela berjalan jauh dan berlepotan lumpur. Selain itu kesamaan lainnya: semua penonton berdiri.

Penampilan Komunitas Jazz Semarang (Kalau tidak salah^^)

Risiko mengadakan di tempat ‘terpencil’ adalah perkara transportasi. Awalnya, saya dan teman saya kesulitan menemukan lokasinya akibat tiadanya penunjuk jalan. Ternyata menuruti peta di internet tidaklah cukup. Akibatnya di tengah guyuran hujan, saya dan teman saya musti tanya sana sini untuk mencapai tempatnya.

Mungkin bagi sebagian orang, berbecek-becek, berdesakan, dan tidak di bawah tiupan AC membuat orang kapok. Namun, saya justru bersemangat. Itu penyeimbang bagi pertunjukan-pertunjukan jazz mahal yang dibanderol ratusan ribu sampai jutaan (singkatnya lihat saja harga tiket java jazz). Dengan harga yang mahal, cuma pemusik dan orang-orang yang melek internet yang datang. Tetapi ketika diadakan di tempat yang tidak terisolasi akan kemewahan, jazz bisa diminati siapa saja.

Selain menghibur masyarakat secara langsung, kegiatan ini juga melibatkan peran warga sekitar. Kantong-kantong parkir kebanyakan ditempatkan di rumah penduduk. Sehingga walaupun tidak nonton pun, tetap kecipratan rejekinya. Berbeda ketika pertunjukan diadakan di gedung pertunjukan milik pemerintah atau swasta. Bukankah tujuan orang menghibur adalah membahagiakan sebanyak mungkin orang?

Kamis, 13 Januari 2011

Inilah Jogja

Saya baru saja pulang dari hiruk pikuk Jakarta. Karena belum punya SIM, salah satu kendaraan yang saya andalkan adalah sepeda milik kakak. Itu karena tanpa kendaraan pribadi, akses kemana-mana susah. Seperti yang kita tahu, angkutan di Jogja itu ibarat mati bukan, hidup segan.

Dengan becak, saya malah sering nggak tega sama tukang becaknya. Karena tak tega, saya nggak bisa cuma ngasih uang nge-pas sama mereka. Walaupun, mungkin pengayuh roda tiga itu sudah biasa dikasih yang nggak seberapa. Jadinya ya boros kalau naik becak terus-terusan.

Naik sepeda di Jogja itu banyak enaknya. Parkir umumnya gratis, atau kalaupun bayar cuma Rp500. Itu pun saya rasa tukang parkirnya ga protes kalau nggak dikasih. Lha wong sepeda=kendaraan orang cilik.


Kakak ipar saya di ruang tunggu sepeda, perempatan Malioboro, Yogyakarta*

Ada benarnya Pemerintah Kota Jogja memberikan fasilitas-fasilitas menarik bagi pesepeda. Misal, tanda penunjuk arah untuk pesepeda dan jalan khusus .Ada juga ruang tunggu lampu lalu lintas di depan pengendara motor lainnya. Oleh sebab itu, orang seperti saya ini merasa diuwongke atau dihargai. Meski hanya naik sepeda.

Di tukang mie pun, saya menikmati rasanya diuwongke. Waktu itu hujan deras dan saya dalam perjalanan membeli bakmie jawa. Saya bersepeda menggunakan jas hujan dan helm standar (kira-kira tampang saya mirip ultraman). Sampai tukang mie, sepeda saya parkir di gubug samping bakul mie itu.
“Sudah, taruh di situ mbak, nanti saya masukkan,” kata mas-mas itu dengan bahasa jawa.
Sepanjang menunggu selama 1,5 jam itu sepeda saya dijaga mas-mas itu. Setelah mie saya matang dan akan mengambil sepeda, saya ulurkan uang Rp2.000 (karena ga ada uang receh).
“Nggak usah mbak,” jelasnya sambil menolak uang itu.
Wah, sebuah kata-kata yang jarang saya dengar ketika di Jakarta dulu.

Di kantor polisi (saat ujian SIM) pun juga begitu. Ketika saya cari-cari tukang parkir untuk membayar, ia juga menolak. “Nggak usah,” jelasnya.
Memang, menurut saya rata-rata sepeda tidak terlalu dituntut bayar parkir. Semoga senyum dan keikhlasan bapak dan mas parkir itu menambah kegairahan warga Jogja untuk bersepeda. Sehingga, apabila nanti jogja macet, macet karena sepeda dan becak yang tidak menimbulkan asap hitam menyesakkan :D

*Foto: Niken Terate Sekar

Selasa, 11 Januari 2011

Belanja, Koran, dan TV

Saya kesal.
Ruangan itu nyaris kosong. Padahal belum jam pulang. Bukan juga jam istirahat. Saya masuk, dan tak satupun menyapa saya. Jangankan menyapa, saya pun bingung harus bicara dengan siapa.

TV yang menyetal lagu campursari keras-keras berpendar di tengah ruangan. Tidak ada yang tampak ingin dilihat atau sungguh-sungguh didengar. Itu karena 3 orang di luangan setengah lapanan basket itu diisi tiga orang:
1. Baca koran
2. Ibu-ibu yang sedang memilih-milih baju yang ditawarkan pedagang

Hanya satu orang saja yang tampak di depan komputer dan mengerjakan sesuatu.

Tujuan saya ke salah satu kantor pemerintah itu untuk mendapatkan kejelasan mengenai data yang saya butuhkan. Pasalnya, data yang disediakan instansi di perpustakaan itu tidak lengkap, eh malah tidak ada dink! Saya diminta petugas perpus untuk ke ruangan yang membuat data tersebut. Jadi, bukan salah saya donk, mengganggu ketenangan bapak-bapak dan ibu-ibu yang tengah bersantai siang itu.

Saya bertanya pada ibu-ibu yang sedang bertransaksi dagang itu. Oh, kalau mau tanya, ke pak itu lho mbak. Kemudian saya lihat bapak di pojokan yang berbaju putih itu. Dan jadilah ia melayani saya. Di tengah-tengah melayani, terdengar dering telepon.
“Mbak, saya jemput anak saya dulu ya,” kata Bapak itu.
Menurut percakapan yang tidak sengaja saya dengar, anaknya minta dijemput sepulang sekolah. Jadilah saya yang mengalah berhadapan sendirian dengan data yang ia sodorkan. Beberapa bisa dipakai, tetapi ada data yang amat ruwet dan perlu diolah kembali. Data tersebut tercantum di kertas lembaran lebar 70 cm-an setebal 10 cm-an. Wew... kalau saya olah mending saya jadi pegawai situ...

Di ruangan itu terdapat sekitar 30 meja. Tidak ada seperempatnya terisi, walaupun nampaknya meja-meja itu punya penghuni masing-masing. Yah, anggap saja sedang kunjungan kerja. Kan sekarang marak tuh, kunjungan kerja. Bahkan yang menghabiskan lebih dari separuh APBD. Sayangnya memang tidak ada jluntrung hasil atau setidaknya laporan.

Sepulang dari kantor, saya ditanya rekan dari mana. Setelah tahu saya dari kantor itu, dia tanya. Kantornya sepi ya? Lagi pada nonton TV ya?
Owalaaah... ternyata emang sudah langganan seperti itu. Ya saya berbaik sangka aja. Mungkin kunjungan kerjanya berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kali yaa...

Saya sudah sering melihat hal-hal jamak seperti itu di berbagai instansi. Berangkat siang, pulang kecepetan. Ember sih, kalau pulang kesorean bakalan maceeet.. Maklum, jakarta raya... Sebenarnya kemacetan itu berkah lho, karena bisa digunakan sebagai alasan. Kalau jum'at, kantor buka lebih siang. Biasa, senam dulu... Setelah senam, biasanya ada pameran yang jual aneka produk rumah tangga di halaman atau di dalam gedung. Enak lho, setelah olah fisik dengan olahraga, berikutnya segarkan pikiran dengan belanja. Benar-benar mengolah Mind, Body and Soul :)

Rabu, 22 Desember 2010

Demi Dua Lembar Tiket

Hari Minggu lalu, saya dan teman menonton semi-final Indonesia vs Filipina leg kedua. Oleh sebab itu, Sabtu-nya kami berusaha mencari tiket pertandingan yang menentukan nasib Indonesia ke laga final AFF 2010 itu. Yang tidak saya sangka, ternyata nyari tiketnya super duper ribet...

Sabtu itu saya dan teman saya berangkat setengah 6 pagi dari kost. Itu karena kami ingin mengantisipasi banyaknya orang lain yang mengantri. Maklum, di berbagai media diumumkan bahwa hari itu penjualan tiket terakhir. Kami memilih membeli ke Gelora Bung Karno (GBK). Sebab, penjual lainnya—Raja Karcis—dikabarkan habis tiket. Lagipula, kapasitas GBK pasti lebih banyak, pikir kami.

Beginilah suasana antrian yang dimulai pagi

Berbeda dengan pertandingan Indonesia vs Thailand yang lalu, pertandingan Indonesia-Filipina lebih diminati oleh khalayak. Sayangnya, makin dekat ke final penjualan tiketnya amburadul. Awalnya, berdasarkan pengumuman di media, pembelian tiket dilayani paling lambat H-1 (Sabtu). Sedangkan pada hari H (hari Minggu) hanya dilakukan penukaran tiket.

Namun, kenyataannya lain. Pukul 6 seperempat setelah sampai di gerbang, kami terkejut melihat sebuah pengumuman. Di situ ditulis bahwa hari itu tidak ada penjualan tiket. Kami coba cek di internet, tetapi belum ada berita yang menyebutkan hal itu. Karena penasaran, kami lanjutkan perjalanan ke stadion GBK, mencari info yang lebih banyak.

Pengumuman aneh
Memasuki GBK, sudah ada antrian yang lumayan panjang. Mereka berjajar mengantri di belakang pintu X. Byuh-byuh, pasti itu pengantri yang nginap sejak malam. Orang-orang itu rela berjajar mengantri dengan sabar. Mungkin juga mereka sudah mengantri sejak pukul 5 pagi. Padahal, loket biasa dibuka pukul 10 pagi. Itu artinya, setidaknya masih 5 jam lagi sampai loket dibuka.

Pengumuman yang baru ditempel subuh hari

Sabtu itu sepertinya semua orang sudah melihat tempelan yang menyebutkan tidak ada penjualan tiket. Menurut pengantri, pengumuman tersebut baru ditempel subuh hari. Byuh, mana orang tahu kalau begitu. Apalagi orang-orang dari luar daerah seperti Bekasi, Banten, dan lain sebagainya. Kalau saya jadi mereka, tentu saya juga tidak akan menyerah begitu saja untuk pulang. Lha, sudah terlanjur keluar duit buat ke GBK...

Sama dengan pengantri lain, kami akhirnya juga mengambil posisi antrian. Duduk menunggu. Tanpa tahu pasti kapan loket dibuka. Soalnya jengkel juga kalau langsung pulang. Lha saya sudah bangun subuh-subuh je...

Pukul 7: sedikit baca novel sambil ngeliat orang joging di seputaran GBK...
Pukul 8: iseng-iseng mensketsa orang sekitar....
Pukul 9: baca koran....

Di antara waktu menunggu, saya ngobrol dengan pengantri lain bernama Iqbal. Pria yang duduk di samping saya itu bercerita bahwa ia sudah mengantri sejak pukul 7 pagi. Mahasiswa tingkat 1 Universitas Gunadarma itu bercerita bahwa ia sudah mendapat tiket dari adiknya. Namun, hari itu ia bermaksud membeli 4 tiket lagi untuk saudaranya.

Pria berperawakan kecil itu kemudian bercerita bagaimana suasana ketika adiknya mengantri Jum’at lalu.
“Kemarin udah kaya mau mati aja,” jelas Iqbal.
Antrian hari itu mengerikan. Ga peduli cewek atau cowok, banyak yang menjadi korban dorong-dorongan. Itu karena orang mengantri sejak pukul 7 pagi. Namun, loket baru dibuka pukul 12 siang. Adiknya yang menunggu sejak pukul 9 pagi baru mendapat tiket pukul 3 sore.
“Gara-gara itu, adik saya sekarang sakit,” tambahnya. Weleh, mau senang-senang malah sakit... batin saya. Pria asal Cempaka Putih itu bercerita juga bahwa banyak orang yang tidak shalat Jum’at gara-gara loket baru dibuka pukul 12. Ckckck...

Berbagai TV swasta ikut meliput hiruk pikuk antrian tiket

Pos Kamling
Sabtu itu, ia juga merasa kecewa seperti saya. Kami sama-sama baru tahu bahwa ada pengumuman yang menyatakan tidak ada penjualan tiket hari Sabtu itu.
“Aneh lho, biasanya tiket dijual 3 hari sebelumnya, dan hari H hanya penukaran saja,” katanya.
Ya, memang aneh. Saya membayangkan bagaimana ruwetnya penjualan tiket berbarengan dengan penukaran tiket saat hari-H. Apalagi untuk 70-ribu penonton. Ckckck...
Kemudian ia juga bercerita bahwa dahulu penjualan tiket Piala Asia lebih tertib.
“Mungkin karena sekarang Timnas-nya lebih populer,” tuturnya.

Pernyataannya ada benarnya juga. Soalnya, saya yang ngga biasa nonton bola saja pengen nonton. Ya gimana tidak, itu momen istimewa karena Timnas bisa berjaya setelah lebih dari 1 dasawarsa melempem. Selama ini lebih santer isu korupsinya dan kepengurusan yang tidak tepat.

Sayangnya, kejayaan Timnas belum dibarengi dengan pengelolaan tiket yang baik. Sebenarnya, calon penonton hanya membutuhkan informasi yang memadai. Mbok ya, panitia lokal punya twitter atau web resmi. Kalaupun diumumkan habis, toh orang juga tidak akan datang ke GBK.

Namun, jangankan website, panitia lebih memilih poster sebagai media pengumumannya. Di GBK lagi... ckckck... Poster itu mungkin efektif kalau nempelnya di pos kamling atau pos yandu yang ada di seluruh Jakarta...


Pengantri rela berdiri dan kepanasan untuk mendapatkan tiket

Ricuh
Pukul 10, terpaksa saya meninggalkan antrian. Pukul 12 siang saya harus pergi ke Bandung. Antrian diganti oleh teman saya yang tinggal di Blok S. Di perjalanan pulang, saya sms-an dengan kedua teman saya yang mengantri itu.
Pukul 11, keduanya belum mendapat tiket....
Pukul 1 siang, mereka memutuskan pulang....
Yah, apaboleh buat sih. Soalnya ada perwakilan dari panitia yang keluar dan meminta maaf bahwa hari itu tidak ada penjualan.

Namun, setelah itu saya mendapat kabar bahwa calon penonton yang mengantri sejak pagi itu mulai ricuh. Ada yang memanjat-manjat dan merusak papan nama PSSI. Ada juga yang memukul mobil-mobil yang parkir di depannya. Saya segera sms teman saya untuk menyingkir.
“Kalau benjut PSSI juga ngga akan nanggung,” tulis saya di SMS.
Eh, teman saya itu malah bilang begini.
“Hehe, aku malah nonton, penasaran. Sejauh mana pembesar-pembesar itu ga punya hati nurani. Sudah ada 1 pintu yang dijebol, kursi dibanting-banting,”
Weleh-weleh...

Sebenarnya saya percaya sistem. Kerusuhan itu tidak akan terjadi kalau terdapat sistem penjualan tiket yang baik. Teman saya bilang, “Lah, kalau yang lokal aja amburadulnya kaya gini, gimana sejarahnya mau jadi tuan rumah piala dunia?”

Beruntung
Minggunya, saya dan teman saya nggak kapok juga pergi ke Senayan. Menurut tutur panitia kemarin, semua loket akan dibuka. Bahkan pengantri kemarin diberi semacam ‘kupon’ jaminan (untuk meredam kericuhan). Kami datang untuk mengantri dan mengantri. Padahal, malamnya saya baru sampai kost pukul 3 pagi, dan pukul 9 sudah berangkat kembali ke Senayan.

Karena saya ada acara di Bundaran HI, awalnya teman saya mengantri sendiri. Sampai di Senayan, teman saya menyuruh saya mencari loket yang dibuka. Saya tanya-tanya petugas, jawabannya hari ini tiket habis. Atau hari ini cuma melayani penukaran katanya.

Penonton malam itu diperkirakan berjumlah 80-ribu

Kemudian saya diberitahu teman saya bahwa ada loket yang sudah dibuka. Lokasinya dekat patung kembar. Tetapi saya salah persepsi dan mengira dia di dekat patung srikandi. Selain itu, ancer-ancer berupa poliklinik yang ia ceritakan juga tidak ada yang tahu. Bank DKI juga... Saya sudah bertanya pada banyak penjaga tetapi putus asa hingga tidak bisa menemukan di mana teman saya itu berada. Sampai dia sms
“Ken, aku ngantri lagi tapi tiketnya dah abis...”
Weeeew... akhirnya kami hanya bisa mendapatkan 2 lembar tiket thok. Teman-teman saya yang lain terpaksa tidak bisa mendapatkan tiket.

Kalau dipikir-pikir, teman saya itu amat beruntung. Soalnya, pengantri yang lain, bahkan yang datang pukul 4 pagi ada juga yang tidak mendapat tiket. Bahkan, banyak antrian-antrian lain yang benar-benar menanti harapan kosong karena loketnya sama sekali tidak dibuka. Entah bagaimana nasib mereka.

Tiket didapat, tapi masalah tidak hanya berhenti setelahnya. Sebelum maghrib, saya dan teman saya itu terpisah. Padahal, tiket dibawa teman saya. Gawatnya, telepon samasekali tidak berfungsi. Awalnyanya, saya tidak percaya bahwa ada gangguan sinyal. Namun, ternyata di sekitar saya juga mengalami hal yang sama: tidak bisa menghubungi siapapun. Kalaupun bisa, suaranya putus-putus dan nggak jelas. Byuuuh...

Akhirnya saya hanya berdiri di sebuah meja dekat pintu stadion. Sekeliling saya yang ada hanya lautan manusia. Panik dan panik. Namun, sehabis maghrib, saya dapat menemukan teman saya itu. Kami segera berlari-lari menuju pintu masuk.

Dan, jadilah kami menonton semifinal Indonesia-Filipina. Kemenangan di raih Indonesia dengan skor 1-0. Pulangnya, saya tulis status di fb:
Ga sia-sia nonton di GBK :))

Senin, 06 Desember 2010

Workshop Karikatur Thommy Thomdean dan Toni Malakian

Inti dari karikatur bukanlah tentang paling mirip atau bagus-bagusan. Tetapi bagaimana si penggambar bisa menangkap sisi paling menonjol si objek. Obama misalnya, bisa saja digambarkan tanpa mata dan hidung. Tonjolkan saja tawanya yang khas, atau wajahnya yang meruncing.

Itulah salah satu materi yang diberikan Thommy Thomdean dan Toni Malakian dalam acara Workshop Karikatur yang diadakan oleh Persatuan Kartunis Indonesia. Pada dasarnya karikatur bukan proses meniru mentah suatu objek. “Kalau pengen mirip banget, ya mending foto aja orangnya,” jelas Thom.

Ia juga menyayangkan bahwa karikatur selalu diasosiasikan ‘kepala besar’ dan ‘badan kecil’. Padahal, model karikatur yang tidak harus seperti itu. “Yang penting menunjukkan ciri yang menonjol dari objek,” tegasnya.

Thom kemudian menjelaskan bagaimana berlatih menangkap sisi menonjol objek. Teorinya, memang lebih mudah menggambar orang yang berciri khas. Misalnya orang berambut gimbal, berkumis tebal, atau yang mempunyai ciri khas lainnya. “Hitler contohnya, sangat khas dengan kumis dan rambut klimisnya,” jelas pria yang berlatar belakang arsitek itu. Dan memang, hitler dapat digambarkan cukup dengan seperti ini.

Gambar Hitler (kiri) mirip dengan gambar Charlie Chaplin (kanan)*.

Selain ciri khusus secara fisik, bisa juga dilihat dari hobi atau profesinya. Gambar Leo Tolstoy atau Pramoedya misalnya. Karena keduanya penulis, dapat dipertegas cirinya dengan menambah gambar pena. Contoh lain adalah Dalai Lama. Karena identik dengan perdamaian, dapat ditambahkan simbol perdamaian. Merpati contohnya. Yang lebih ekstrim, menggambarkan objek dengan objek lain. Objek tersebut tidak sembarang, tetapi tetap menimbulkan asosiasi. Misalnya menggambarkan Presiden Putin dengan beruang oleh kartunis Swedia.


Menurut Toni, antara gambar biasa dengan karikatur mempunyai
proporsi yang sama. Namun, karikatur ibarat bola voli yang dimampatkan
.

Selanjutnya, Thom dan Toni menjelaskan pembuatan karikatur yang bersifat kritik sosial. Soal materi yang diangkat, terlebih dahulu si penggambar harus tahu benar duduk permasalahannya. Thom mencontohkan permasalahan keistimewaan Yogyakarta yang sedang hangat saat ini. Sebuah karikatur di media massa menggambarkan tubuh kecil Pak Beye dibalik meja yang besar. Ia terlihat sedang membaca buku tebal sejarah Yogyakarta. Buku yang tebal itu dibaca terbalik. Intinya, si penggambar ingin menegaskan perlunya pemerintah menilik kembali bagaimana sejarah keistimewaan Yogyakarta.

Workshop Karikatur yang berlangsung dari pukul 2—4 sore itu juga mengadakan praktek langsung. Peserta diminta menggambar model. Sebelumnya, model ditanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan si model seperti nama, alamat, hobi, dan pekerjaannya. Hal itu bertujuan agar kita semakin mengenal karakter objek, termasuk karakter nonfisiknya. Saya sendiri menggambar si model yang sedang berkutat dengan hobi berjejaring sosialnya.

*Sumber: dailyhitler.blogspot.com/lewat google search.

Ngidam si Dingin-dingin Empuk

Saya suka es krim dan mochi. Kalau keduanya digabungkan, menurut saya itu penemuan luar biasa. Lebih dari penemuan cat teknologi nano pesawat tempur siluman.

Hal yang saya anggap luar biasa itu ternyata sudah lama dilakukan. Minimal, menurut catatan yang ditulis di Kompas, mochi berisi eskrim sudah dikenal pada 1981. Produsennya grup pusat belanja dan makanan asal Jepang serta Korea.

Setelah melihat Kompas Minggu, hasrat saya semakin menggebu ingin melahap mochi es krim itu. Pasalnya, sejak dimuat di Nova, saya memang memimpikan untuk merasakan ‘mochiskrim’ itu. Dalam pikiran sudah ada rasa yang wajib saya pesan: green tea. Omong-omong, saya memang paling suka es krim rasa teh hijau.

Mochiskrim rasa Green Tea dan Banana Bannofee Pie di Mochilla, Grand Indonesia.

Sebenarnya, saya lebih ingin mengunjungi Mochewy, gerai mochi es krim yang digarap 3 mahasiswa Prasetya Mulya yang ada di Benda 60 Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Bukan apa-apa, tetapi yang jelas saya pikir lebih miring harganya. Tapi apa dikata, sore itu saya lebih dekat ke lokasi Mochilla di Grand Indonesia. Daripada ngidam tak tertahankan, saya memilih ke Grand Indonesia \^o^/

Di gerai Mochilla yang terletak di lantai 3A, saya melihat gerombolan anak-anak ABG berkerumun. Wah, peminatnya banyak nih. Apa karena kompas minggu-kah? Anak-anak muda itu berkerumun di depan display yang memajang gundukan-gundukan mochi warna-warni. “Ini isi es krim Mbak?” tanya saya menegaskan. Takut salah pilih. Hehehe....

Gerai Mochilla, dipadati pengunjung remaja (berarti termasuk saya juga remaja... ^^).

Kalau yang lain beli 6—12 buah, saya beli 2 buah saja. Saya mencicipi rasa green tea dan Banana Bannofee Pie. Yang pertama rasanya khas green tea kesukaan saya. Sedangkan di dalam mochi yang kedua berasa ada pisang di dalam es krimnya. Sayangnya, setelah digigit harus langsung dihabiskan, karena gampang lumer.

Gerai yang selalu ramai oleh remaja itu (minimal di hari Minggu waktu saya berkunjung) menyediakan 27 rasa varian es krim. Sebutir seharga Rp12-ribu. Jangan bandingkan beli telur dadar di warteg dapat 5 lho yaaa.... Maklum, produk impor. Rasa-rasa yang unik antara lain manggis (mangosteen), talas (taro), nangka (jackfruit), dan delima (pomegranate). Ga tau juga kenapa setiap namanya diinggriskan.

Saya sarankan, jangan mengajak pacar nongkrong di situ ketika kantong kering. Karena, Anda pasti tak puas hanya 1—2 butir mochi saja. Ukuran perut laki-laki minimal enam butir sampai selusin laaah....

*Beberapa data diambil dari Kompas, Minggu 5 Desember 2010
** Mochiskrim=mochi es krim adalah istilah saya sendiri.