Senin, 29 Oktober 2012

Jaman ‘Grusa-grusu’


“Saya rasa organisasi X harus dibubarkan,” jelas seorang yang mengaku agamawan.

“Tapi pak, terus kalau dibubarkan mau apa selanjutnya? Bukankah dengan pendekatan dialog lebih baik?” tanya si pembawa acara.

“Dialog bagaimana? Mereka itu sudah ada sejak 80-an tahun yang lalu! Jadi dialog tidak ada gunanya,” jelas si Ulama.

Agama—seperti pakaian—perlu dijauhkan dari segala noda. Untuk itulah, perbedaan aliran di dalam agama itu sendiri biasanya lebih meruncing dibanding pertikaian antar agama. Kebalikannya, agama yang berseberangan justru jauh dari tuduhan, karena nggak ada unsur miripnya.

Membubarkan aliran ‘sesat’ bagi sebagian orang dianggap membereskan segalanya. ‘Kita sama, maka kita ada.’

“Bagaimana cara mendamaikan keyakinan kami yang bertolak belakang? Dengan cara menghapuskan salah satunya? Hanya itukah caranya?”
The 19th Wife-David Ebershoff-476.

Padahal, pembubaran aliran atau keyakinan itu tak gampang. Sesukar membuat nasi dari bubur. Jangankan aliran, bahkan untuk mengubah pola pikir aja sulitnya minta ampun.

Contohnya, saya percaya Tuhan itu berjenis kelamin laki-laki. Meski dari kecil diajarkan bahwa Tuhan tidak berjenis kelamin, tetapi sosok laki-laki dalam Tuhan tetap saja melekat di otak. Susah membayangkan Tuhan bersifat perempuan.

Dari kecil, Tuhan saya bayangkan serupa kakek-kakek tua yang bijaksana—bukan nenek atau perempuan muda yang cantik. Yang jelas bukan perempuan, karena kata Pak Ustad perempuan itu biang gosip dan calon penghuni neraka yang terbanyak.

"Dalam perjalanan hidupku, aku telah bertemu dengan orang-orang yang mengaku tidak percaya lagi kepada Tuhan dan Kristus, tetapi mereka menikah di gereja dan ingin dimakamkan di bawah batu salib. Pada saat kematian yang agung tiba, dengan masa depan abadi yang tidak diketahui, hanya sedikit orang yang benar-benar siap untuk menentang semua yang didoktrin benar kepada mereka.” The 19th Wife-David Ebershoff-393

Hal itu sedikit banyak menjelaskan perilaku manusia seperti: naik haji tapi tetep memalsukan nota dinas, hobi selingkuh tapi tetap sembahyang teratur, poligami dengan membawa alasan takut berzina, terdakwa  korupsi yang selalu tak lepas dari kata ‘Astaughfirullah dan berserah kepada Allah’, dan keanehan lainnya.

Bukannya menyatakan penulis tulisan ini ‘suci’—nggak gitu. Tapi keanehan bisa dengan mudah kita lihat. Baik di dalam diri atau dalam kotak bercahaya bernama TV.

Saya maklum kok. Karena tak lain tak bukan, itu karena masa depan manusia yang katanya serba nggak jelas. Sembahyang atau kebaikan dilakukan karena takut masuk neraka. Pun ada Ustad yang bilang bahwa ‘Lulus Ujian Nasional itu nggak penting, lebih penting ibadah.’ Yeah, karena menurut Al-Kitab lulus UNAS bukan jaminan masuk surga.

Sayangnya, yang katanya agama diutamakan, urusan duniawi malah jadi terabaikan. Orang sibuk berlomba-lomba beribadah dengan memisahkan matematika, IPA, IPS dari agama. Tawuran diselesaikan dengan menambah jumlah jam pelajaran agama—tanpa mempelajari akar permasalahannya. Pun pencegahan demam berdarah dicegah dengan mewajibkan berpakaian arabiah dibanding melakukan 3M.

Selanjutnya, liberal, non liberal, kanan, kiri pun menjadi penting sepenting Gangnam Style. Masyarakat juga semakin sibuk men-stabilo perbedaan untuk membedakan teman atau lawan.

Mungkin inilah zaman grusa-grusu, serba kesusu, serba instan. Bukannya makin mendalami kebenaran, malah sibuk menyesat-nyesatkan. Bukannya sibuk belajar, malah rajin tawuran. Semuanya pengen serba cepat: urusan beres. Menyesat-nyesatkan bertujuan pengen tetap dikukuhkan sebagai yang paling benar. Tawuran bermaksud pengen segera membuat kapok orang. Caranya bisa apa saja.

Siapa bilang duniawi itu jelek? Kan kehidupan setelah dunia kan diawali dengan duniawi yang baik dulu. Mungkin dengan sedikit melihat hal-hal duniawi, kita bisa lebih melihat persamaan di atas perbedaan, kesabaran di atas kemarahan, dan bisa mencari celah kesalahan-kesalahan yang dari dulu selalu kita benar-benarkan. 

Sabtu, 06 Oktober 2012

Empati

Setiap hari, ada tetangga ‘gila’ yang mondar-mandir di belakang rumah. Saya sering berpapasan, ketika menuntun motor ke luar, atau menggunting tanaman. Sejak saya berumur 4 tahun, saya sudah mengabaikannya. Ia tak pernah saya sapa, atau sekadar berani menatap matanya.

Orang gila itu sudah saya cap menakutkan sejak kecil. Meski ia tak pernah sekalipun merugikan. Tingkahnya hanya mondar-mandir tanpa tujuan di jalanan kampung, tetapi tidak lebih jauh dari itu. Bahkan, kata ‘gila’ itu sendiri saya juga yang mengasosiasikan. Ia adalah kata yang sudah tertanam, baik gila, nggak waras, kurang satu ons, dan kata lain yang selaras dengan gila.

Dulu sampai sekarang, saya selalu was-was dan penuh prasangka. Jangan-jangan kalau disenyumi, dia naksir saya atau berbuat sesuatu yang gila. Padahal belum pernah sekalipun saya buktikan. Saya menghakiminya sejak dulu. Sejak Mami—Ibu saya bercerita, bahwa orang gila itu pernah bilang ingin menikah dengan Mami, meski maaf, Ibu saya itu udah tua, nggak cantik dan sudah punya banyak anak.

Oke, cantik itu relatif. Kadang memang tabu untuk diungkapkan, tetapi yang jelas Mami tipe-tipe yang nggak akan masuk di sampul Majalah MORE.

Saya selalu dan selalu menghakimi. Bertindak kejam dengan mengabaikan. Menganggap dia itu hantu. Hantu—yang sampai kapanpun tidak pernah saya akui sebagai makhluk yang punya perasaan. Saya sudah terlanjur menempelkan stigma gila. Dengan ‘spidol Snowman permanent’.

Saya tidak pernah mencoba peduli. Dengan tersenyum, menyapa, atau ngajak ngobrol. Itu karena sama dengan mencoba sesuatu yang gila. Beresiko. Mending cari aman. Yaitu pengabaian.

Teman saya pasti akan mengatakan saya GE-ER-an. Tapi akan saya tanggapi, ‘Ya udah, coba Anda saja yang senyam-senyum sama dia. Itung-itung amal.’

Stigma yang saya tempel, baik atau buruk jelas-jelas buruk. Bagaimana cara menakar baik buruknya? Ya dengan ber-empati—kata yang sekarang makin ditinggalkan. Kok bisa? Hal itu bisa kita lihat dalam diri dan sekitar kita. Haji dipandang sebagai hal yang terbaik padahal tetangganya tiap hari cuma makan indomie. Orang-orang hanya sibuk menyalahkan pemerintah dan cukup puas bila sudah nyetatus di facebook atau ngetweet tanpa ada hal nyata-nyata dilakukan untuk memperbaiki negara yang sudah morat-marit.

Kembali pada orang gila, kemudian saya berandai-andai. Jika saya jadi dia maka... Hmm... tentu saya merasa sedih. Kalau dia benar-benar gila sehingga nggak peduli apakah saya senyum atau koprol sih mungkin tidak menyakiti dia. Tapi kalau dia kumat-kumatan bahkan sudah sembuh, apa nggak miris tuh perasaannya, tiap hari dicuekin tetangga? Jelas saya berlumuran dosa.

Sehingga, ketika ada anak tetangga yang bilang,
“Keyla masuk neraka.”
Keyla adalah salah satu teman bermainnya, yang masih hidup tentunya.
“Kok bisa?” saya mengernyit.
“Ya iya, karena dia nakal.”
“Kok kamu bisa mastiin dia masuk neraka?” tanya saya.

Dia tidak menjawab. Tapi ada satu yang pasti, bahwa anak itu sudah mulai terpengaruh untuk mengadili orang bahkan sebelum mereka mati. Mengadili, memberi stigma, memberi cap, yang kemungkinan besar bisa meleset.

Jangan-jangan yang bilang Keyla masuk neraka lebih nakal? Jangan-jangan, saya lebih gila daripada orang yang saya cap gila? Jangan-jangan...

Ah sudahlah. Saya teruskan lagi menggunting tanaman dan memilih mengabaikannya.

Jumat, 30 Maret 2012

Ada Manusia, yang Lain Diharap Minggir

Suatu saat saya boker. Belum sempat keluar apapun, terdengar sebuah kecipak di kloset. Saya tengok: walah, seekor tikus yang gelagapan sedang berusaha keluar dari kubangan kloset. Hiiiiiyyyy...

Saya tidak berteriak histeris itu sih. Segera saya tutup pintu kamar mandi dan mengambil tongkat. Entah mungkin karena takut digebuk tiba-tiba bisa merangkak keluar dari kloset. Saya dan Mbak Pri—asisten rumah tangga—mengejar-ngejar tikus itu. Tikus itu sukses meloloskan diri melewati sebuah lubang kecil yang terhubung dengan rumah tetangga.

Awalnya saya agak traumatis. Takut di dalam kloset terdapat another tikus. Tapi toh karena hasrat kebelet ya gimana lagi. Mungkin tikus itu tergelincir di dalam kloset dan tidak bisa meloloskan diri. Sehingga ia malah menyelam dan terjebak di situ. Dan ketika akhirnya ia mau keluar, eh, malah melihat pantat saya. Lalu saya berpikir, ia pasti lebih ketakutan dan traumatis daripada saya.

Super serakah

Ketika membayangkan peristiwa itu, saya mulai menyadari bahwa saya adalah makhluk yang serakah. Pokoknya, saya ingin rumah saya bersih. Nggak boleh ada kecoa, nyamuk, tikus, lalat, apalagi ular dan tomcat!!

Bapak saya pernah cerita. Dulu, waktu bapak saya kecil, di molo (balok yang menopang rangka atap) sering terlihat ular mondar-mandir mencari tikus. Namun, lama kelamaan tidak ada lagi ular-ular karena hunian di sekitar kami semakin padat.

Nah, giliran si pemangsa tikus hilang, meledaklah populasi tikus. Dan sekarang saya menggerutu karena banyak tikus. Namun saya tidak membayangkan saya akan memelihara ular untuk membasminya: mengingat kucing tak lagi berburu tikus.

Burung yang nyasar di ruang perpustakaan rumah.
Mungkin karena rumah mereka sudah banyak terusik saya.

Manusia selalu ingin keadaan ideal bagi mereka, namun tak pernah ideal bagi kaum lainnya. Bahkan kalau di suatu rumah ada hantunya, terpaksa paranormal bertindak dan membujuk si makhluk halus pindah lokasi. Pokoknya tempat tinggal manusia ya manusia! Nggak boleh ada yang mengganggu.

Belum lagi kalau ada serangan semacam ulat bulu. Memang tidak sedikit yang takut dengan makhluk bernama ulat. Padahal, peristiwa seperti itu merupakan suatu siklus, bahkan bisa membantu pertumbuhan tanaman. Tapi kejadian seperti itu justru ditanggapi berlebihan dengan menyemprotkan pestisida ke mana-mana. Padahal, dengan menyemprotkan pestisida, konsumen yang paling terimbas adalah manusia karena ia merupakan makhluk di pucuk piramida makanan.

Ulat hitam

Beberapa bulan lalu, serangan ulat juga terjadi pada tanaman daun ungu saya. Tanaman itu bopeng-bopeng dimakan ulat hitam yang menyeramkan. Namun, beberapa bulan kemudian banyak kupu-kupu cantik di rumah saya. Selain itu tanaman daun ungunya kembali tumbuh subur. Indahnya kupu-kupu yang berterbangan di sekitar saya itu suatu saat juga akan bertelur di daun, dan kembali terdapat ulat-ulat yang memakan dedaunan itu. Hal itu sangat alami bukan?

Untungnya serangan tomcat yang terjadi akhir-akhir ini ditanggapi secara berbeda. Media massa sudah semakin cerdas dengan membuat judul berita: tomcat sahabat petani. Penyemprotan juga dilakukan dengan pestisida organik. Menurut saya itu awal yang bagus untuk ‘bersahabat’ dengan makhluk lainnya. Saya tidak bisa membayangkan kalau manusia tetap mengadakan berbagai permusuhan dengan makhluk-makhluk yang sejatinya berguna itu.

Rabu, 07 Maret 2012

Basa-basi versus Aneh-aneh

Beberapa hari lalu, Erick, pacar saya, mengungkapkan keheranan terhadap saya. Menurutnya saya cenderung menarik orang untuk mengobrol.

“Kita berdua sama-sama lagi membaca, tapi kok yang diajak ngobrol kamu,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Katanya ini sering terjadi. Seperti di Malioboro beberapa waktu lalu, ada seorang fotografer wanita yang mengajak ngobrol saya, dan bukannya mengajak ngobrol Erick atau orang lain.

Saya tidak bermaksud nyombong seandainya saya punya kemampuan 'menarik' orang. Pasalnya, tak semua yang ngobrol itu ‘nggenah’.

Kadang malah orang aneh yang mengajak saya bicara. Contohnya beberapa hari lalu, seorang pria yang mengajak ngobrol saya.

“Mbak kerjaannya apa?”
“Mmm... sekarang sedang menulis. Eh, bisa dibilang serabutan,” jawab saya.
Sebagai basa basi dan menaruh hormat, saya ganti bertanya, karena dari tadi orang ini yang terus bertanya.
“Lha kalau bapak, kerjaannya apa?” tanya saya.
“Pendusta.”

Jederr.... Pria itu berbicara tidak dengan nada bercanda, ia serius. SUNGGUH. Ini membuat saya menerka, jangan-jangan pendusta bisa sejajar dengan profesi baru lain seperti sosialita, dan aktivis jejaring sosial.

Ada juga orang yang ingin kenalan dengan saya dengan cara menebak-nebak.
“Kamu agamanya apa sih? Kristen?”
“Bukan.”
“Budha?”
“Bukan.”

Dan dia urutkan ke semua agama besar di Indonesia sampai tamat.

Tak puas dengan Agama, karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta itu bertanya hal lain.
“Kamu dari daerah mana sih? Padang?”
“Bukan.”
“Medan?”
“Bukan.”
“Sulawesi Selatan?”
“Bukan”

Dan dia urutkan sama seperti pertanyaan sebelumnya. Mungkin nyaris 33 provinsi ia tebak. Saya mulai menerka-nerka bahwa ia dulu maniak ikut kuis ‘who wants to be millionare’ dengan pilihan bantuan: boleh menebak sesukanya.

Menurut teman saya Kurnia Harta Winata saya cenderung menarik orang-orang aneh. Berbicara dengan orang aneh terdapat sisi positif karena saya justru lebih bisa mengingat orang-orang aneh itu dibanding orang yang ngobrol tentang hal biasa alias basa-basi.

Omong-omong soal basa-basi, kadang saya sendiri merasa terlampau basa-basi. Hanya ngomong iya-iya, tanpa begitu konsentrasi apa yang dikatakan orang. Contohnya seperti ini, dan ini berkali-kali terjadi:

“Anaknya ya Mbak? Umur berapa?” tanya seorang Ibu-ibu yang lewat di depan rumah. Waktu itu saya tengah menggendong keponakan saya.
“Iya, 9 bulan bu.”

Lain kali, saya bersepeda ingin ke pasar, ada seorang tetangga baru yang bertanya.
“Mau pulang ya Mbak?”
“Iya,” jawab saya.
Akibatnya, selama beberapa lama tetangga itu selalu mengira saya pembantu di rumah Bapak saya.

Tentang bab asisten rumah tangga ini tak hanya Ibu itu yang bertanya, tapi yang lain juga.
“Dulu perasaan sampeyan belum kerja di sini,” tanya seorang Ibu ketika saya sedang menyapu halaman.
“Iya sih Bu,” jawab saya.
“Oh, dulu kerja di mana?”
“Di Jakarta.”
“Oh, jadi pas Mbaknya (Majikan alias kakak saya-red) ngelairin, baru kerja di sini ya?”
“Iya,” jawab saya. Lagi-lagi saya tidak mau dan malas menjelaskan.
“Wah, kalau sudah seminggu gajinya lumayan ya,” cerocos ibu itu lagi.
“Nggg...”

Tapi terkadang saya terlalu apa adanya, bukan basa-basi.
“Mau ke mana Mbak?” tanya seorang tetangga. Sungguh, sebenarnya ini pertanyaan basa-basi. Orang tidak akan peduli andai kita menjawab pamit ke Timbuktu.
Dengan malas saya menjawab, “Ngg... ke Toga Mas Bu.” Toga Mas adalah sebuah toko buku di Jogja.
“Oh... Oleh-olehnya ya,” katanya.
“...” saya speechles dan cuma tertawa getir. Niatnya mau jujur apa adanya malah repot. ***

Rabu, 09 November 2011

Benjolan di Payudara, Duh!

Ketika saya bilang saya sakit flu, mungkin orang hanya akan bilang “Ooo.. Lekas sembuh ya.”
Tetapi berbeda ketika saya menjelaskan keadaan berikut ini.
“Ngg... aku habis operasi,” kata saya kepada teman.
“Oya? Operasi apa?”
“Payudara,” jawab saya.

Seketika itu berbagai macam pertanyaan bermunculan. Kok bisa dioperasi? Benjolan apa? Tumor? Ganas nggak? Kenapa sih buru-buru dioperasi? Ada juga yang berkomentar, ih ngeri ya.

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar, karena penyakit ini jarang dibahas.
Mungkin status berikut sering kita lihat di twitter atau fb:
“Flu nih.”
Namun jarang yang menulis status dengan gamblang seperti ini:
“Lagi punya benjol di payudara nih.”

Beberapa wanita menutup rapat, bahkan enggan membicarakannya ketika mendapati dirinya terkena tumor, meski tumor jinak di payudaranya. Padahal, benjolan di payudara banyak dialami wanita usia produktif.

Saya adalah salah satu wanita yang mengalami benjolan di payudara. Dua minggu lalu, sekitar 3 hari sebelum menstruasi, saya terkejut menyadari payudara sebelah kiri saya agak sakit saat menggendong keponakan saya. Ketika saya periksa, ternyata ada benjolan di payudara kiri. Benjolan tersebut tidak menonjol, melainkan hanya terasa kalau diraba.

Operasi
Keesokan harinya, hari Selasa, saya langsung menemui dokter bedah onkologi di rumah sakit. Sebelum bertemu dokter, saya menjalani USG. Hasilnya terlihat ada benjolan padat (echoless) ukuran kurang lebih 7 mm x 5 mm. Diagnosis USG mengarah ke fibroadenoma atau FAM. Dokter praktek yang saya temui berkata sebaiknya benjolan tersebut diangkat.

Untuk mengetahui lebih lanjut apakah benjolan itu ganas atau jinak, kakak saya merekomendasikan untuk melakukan biopsi. Hari Jum’at saya melakukan biopsi di lab patologi anatomi. Dengan jarum suntik, cairan atau jaringan di dalam benjolan diambil. Jaringan dioleskan ke dalam preparat kaca untuk dianalisis. Setelah itu, agak deg-degan juga membuka hasil pemeriksaannya. Alhamdulillah, jenis benjolan yang saya alami termasuk yang jinak.

Meski sudah diketahui jinak, tapi benjolan tetap disarankan diambil untuk dianalisis lebih lanjut. Oleh sebab itu, saya melakukan operasi setelah selesai menstruasi Oktober lalu. Ada beberapa orang yang menanyakan mengapa saya memilih dan mau dioperasi. Mereka ini biasanya menganggap operasi merupakan sesuatu yang mengerikan. “Lha wong disuntik aja takut, apalagi operasi,” mungkin begitu pendapat mereka.

Saya menjalani operasi karena berprinsip sumber penyakit harus dibereskan dulu. Saya ingin ada analisis menyeluruh, bukan hanya meraba-raba, dan berharap-harap cemas apakah benjolan ini bisa hilang sendiri. Segera saya putuskan untuk operasi meski harus meminjam dana untuk operasi.

Dalam kasus saya, operasi merupakan cara yang tepat untuk menganalisis apa yang saya alami secara tepat. Karena setelah operasi, ada tahapan pemeriksaan jaringan, yang penting untuk mengetahui kecenderungan jaringan tersebut.

Pengalaman Teman
Sebelum operasi saya sempat bertanya-tanya kepada teman yang pernah mengalami hal yang sama. “Kalau aku sih ken, pernah mencoba alternatif, habis lumayan banyak. Jadi aku operasi. Karena pada dasarnya, ada FAM yang bisa sembuh sendiri, ada juga yang mesti diangkat,” katanya. Waktu itu saya masih berpegang pada diagnosis awal dokter bahwa saya menderita FAM.

Sewaktu saya periksa di rumah sakit, saya juga ketemu Ibu-ibu yang bercerita tentang penyakitnya. Ia duduk disamping saya ketika saya menunggu hasil USG dari rumah sakit. Ia berkata bahwa ia punya benjolan di payudara sejak usia 12 tahun. Ia tidak pernah memeriksakan benjolan itu. Kemudian, setelah usia 42 tahun, ia menderita kanker payudara. Kemungkinan benjolan yang ia derita dahulu itu menjadi kanker yang ia derita sekarang. Ibu yang bekerja di Jakarta itu akhirnya ke dokter setelah berbagai obat alternatif nan mahal harganya tidak membawa hasil.

Meski begitu, saya memutuskan operasi atau bukan tidak terkait dengan percaya atau tidak percaya terhadap pengobatan alternatif atau semacamnya. Saya memutuskan pergi ke dokter dan melakukan operasi terutama agar dapat segera menerima keadaan (secara psikis) dan memahami benar-benar apa yang tengah terjadi.

Dengan menjalani berbagai pemeriksaan, pikiran saya jadi tenang dan tidak dibayangi rasa cemas. Dengan mengetahui apa yang terjadi, saya merasa bisa berpikir jernih dan memutuskan apa yang baik bagi diri saya.

Macam-macam Tumor
Dokter Herjuna Herdiyanto SpB (Onk) menjelaskan pada saya, ada dua macam tumor payudara, yang jinak, dan ganas. Yang jinak terdiri dari dua, yaitu Fibroadenoma atau FAM, dan Fibrocystic disesase atau FCD.

FAM terdiri dari dua macam, FAM murni, dan Phylloids. FAM murni tidak ada kecenderungan menjadi ganas, namun tipe phylloids mempunyai kemungkinan menjadi ganas, sehingga diperlukan observasi rutin.

Untuk FCD, dibedakan menjadi 3 stadium, I, II, dan III. Stadium I cenderung jinak, sedangkan stadium II dan III bisa mempunyai kecenderungan ke ganas. Stadium II bisa 15—20 tahun menjadi ganas, sedangkan stadium III lebih singkat, bisa dibawah 5 tahun. Oleh sebab itu pada stadium II, diperlukan observasi setiap 3—6 bulan. Sedangkan stadium III diobservasi 2 minggu sekali sampai 1 bulan. Di situlah perlunya saya mengangkat benjolan di payudara saya, yaitu untuk menentukan saya ada di stadium mana.

Melalui operasi-lah, saya menjadi tahu diagnosis yang lebih tepat. Setelah benjolan saya diangkat, baru ketahuan ternyata saya mengalami fibrocystic disease (FCD) atau kista payudara, bukannya FAM seperti diagnosis awal. Meski begitu, saya tetap merasa lega karena baik FAM dan FCD sama-sama tumor jinak. Bedanya, FAM padat, sedangkan FCD berisi cairan.

Sabtu lalu saya menjalani operasi. Saya dibius lokal atau hanya di sekitar payudara. Operasi berlangsung singkat, sekitar 1 jam lamanya. Karena saya masih sadar, saya bercengkerama dan bergurau sepanjang operasi dengan dokter dan para perawat. Di ruang operasi juga terdapat TV yang bisa saya dengar siarannya. Saya bahkan bisa terus berpesan pada dokter dan perawat agar jahitannya rapi.
“Iya Mbak, ini rapi jali wis, jahitannya,” kata seorang perawat.
Saya pengen tertawa, tapi hanya bisa meringis karena waktu itu payudara saya tengah dijahit.***

Rabu, 02 November 2011

Pilih Obat Medis atau Alternatif?

Saya sering mendengar, ketika ada orang yang sakit kanker, jantung, atau hati, orang menawarkan pengobatan alternatif. Jangan salah, walau dibilang obat alternatif, harganya setara bahkan lebih mahal dari obat-obatan farmasi. Ada yang sebulan habis 400-ribu bahkan jutaan. Masyarakat diiming-imingi produk yang ‘dijamin sembuh tanpa operasi’.

Ketika mengkonsumsi herbal yang disodorkan, orang meminumnya tanpa berkonsultasi ke dokter. Akibatnya, tak jarang ditemui, penyakit yang menggerogotinya semakin parah. Saat sudah gawat, ia baru menempuh jalur dokter.

Ada cerita yang saya dapat dari pasien yang saya temui di rumah sakit. Ia mempunyai benjolan di payudara sejak umur 12. Ia biarkan saja sampai umur 40 tahun. Benjolan itu ternyata menjadi kanker alias tumor ganas. Berikutnya, karena takut operasi, ia mencoba obat alternatif seharga jutaan rupiah. Ternyata, tidak ada peningkatan. Setelah parah, ia baru memutuskan untuk menemui dokter bedah.


Sebenarnya, sejauh mana sih, kita harus mengandalkan herbal alternatif? Bener nggak sih, mengkonsumsi obat herbal?

Kendala yang saya lihat selama ini, banyak masyarakat yang kurang mengerti informasi yang lengkap dan benar. Ada yang bilang, obat herbal adalah obat tanpa efek samping. Benarkah begitu? Tentu saja tidak. Sesuatu yang dikonsumsi berlebihan tentu ada akibat yang tidak baik. Misal, bunga rosella yang dikonsumsi terus menerus akan memperberat kerja ginjal akibat vitamin C-nya yang berlimpah.

Ingat lho, opium sebagai bahan morfin dan herioin itu juga dari tanaman alias herbal. Ketika dikonsumsi berlebihan? Ya mabok atau sakaw... Jadi yang namanya alternatif bukan berarti tanpa efek samping!

Sepotong-sepotong
Selama ini masyarakat cenderung membaca segala sesuatu dengan sepotong-sepotong. Ketika dibilang daun sirsak obat kanker, kemudian masyarakat mengonsumsinya tanpa pernah terlebih dahulu mendapat penanganan dokter atau tahu bagaimana stadium kanker yang ia derita.

Hal Itu ibarat terserang stroke dan disuruh minum serbuk bawang putih yang terkenal sebagai obat darah tinggi. Tentu saja bawang putih tidak bisa menyembuhkan si pasien stroke, karena obat herbal bukan obat yang bekerja secara cepat, tetapi membutuhkan proses jangka panjang. Penanganan kegawatdaruratan semacam itu harus ditangani tenaga kesehatan dengan obat farmasi ‘pertolongan pertama’ yang langsung menuju ke bagian tubuh yang diperlukan, misal obat pengencer darah. Oleh sebab itu, ketika akan mengkonsumsi herbal, sebaiknya ketahui dulu bagaimana keadaan tubuh kita dan penyakit yang menyerang.

Pengalaman saya pribadi dan perbincangan dengan herbalis, obat alternatif baik digunakan setelah kita tahu persis apa penyakit kita. Selain itu, meski dari tanaman, obat herbal tidak baik diminum secara berlebihan. Ya seperti kita makan sehari-hari lah, kalau tiap hari makan ayam atau makan bayam teruuus... tentu tidak baik bagi tubuh kita. Selain itu, kenali benar mengenai produk herbal yang dikonsumsi, misal dosis yang wajar, dan efek samping yang mungkin ditimbulkan. Selain itu biasanya obat herbal tidak dikonsumsi secara tunggal, ia akan lebih baik bekerja ketika dikombinasikan dengan herbal lain yang cocok.

Serba instan
Obat herbal juga baik diminum ketika berhadapan dengan penyakit yang tidak butuh obat farmasi seperti flu ringan. Flu disebabkan oleh virus yang akan sembuh sendiri ketika ketahanan tubuh kita bagus. Oleh sebab itu, konsumsi obat herbal seperti wedang jahe dengan madu, serta makan makanan yang memperkuat pertahanan tubuh, misal meningkatkan konsumsi buah dan sayur dan beragam.

Umumnya, masyarakat tertarik dengan produk herbal nan mahal karena cenderung ingin hasil yang serba instan. Selain itu, mereka malah tidak percaya kalau mengkonsumsi obat herbal yang murah. Sungguh aneh bukan? Padahal, obat herbal yang terstandar pun itu tidak begitu mahal kok.

Menurut saya, obat herbal itu harusnya memang nggak mahal. Kalaupun ada yang mahal, itu akibat ulah sistem MLM atau propaganda produsennya :D Banyak lho, obat herbal yang murah meriah di sekitar kita: sirih merah, daun sirsak, lidah buaya, kunyit, dan masih banyak lagi.

Ketika saya terserang ambeien misalnya, saya biasa mengkonsumsi daun ungu untuk mengurangi peradangan dan pendarahan. Karena saya punya tanaman daun ungu di rumah, saya tidak perlu pusing-pusing membeli obat ambeien yang mahal di apotek. Saya juga mempertahankan pola konsumsi tinggi serat yaaang... haduuuh... harus dengan tekad kuat. Mengurangi produk tepung-tepungan (refined carbohydrate) dan produk hewani.

Tunas daun ungu yang saya tanam di rumah :)

Selain obat-obatan dan penanganan dokter, masyarakat juga sering melupakan hal lain yang menyokong sehat tidaknya orang, yaitu faktor psikologis dan gaya hidup!!!

Dari sisi dokter, banyak juga dokter yang hanya memeriksa secara teks book, kurang memperhatikan psikologis si pasien. Bahkan tersenyum ramah dengan pasien aja enggak. Banyak juga dokter hanya hanya memeriksa dan meresepkan obat ‘asal mahal’ kepada pasien. Sungguh, akhir-akhir ini saya semakin takut dengan dokter abal-abal.

Dari sisi pasien, mereka mengkonsumsi obat dengan keinginan memperoleh kesembuhan yang instan. Setelah sembuh, mereka kembali dengan gaya hidup mereka yang tidak sehat. Mereka juga sering lupa memperhatikan faktor psikis mereka. Misal tetap berada dalam lingkungan stres (jadi terdakwa korupsi misalnya), jarang olahraga, merokok, dan memakan makanan yang tinggi lemak dan karbohidrat.

Hal itu seperti semboyan serba instan berikut ini: muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga.

Rabu, 05 Oktober 2011

I’m nobody

Beberapa hari lalu saya mengurus perijinan acara di salah satu kantor pemerintah. Karena tidak tahu harus masuk di kantor yang mana, saya dan teman-teman saya bertanya di pos satuan pengamanan atau satpam. Ternyata pos satpam ini lain daripada yang lain. Selain menjadi satpam, ia juga menjadi bagian humas dan resepsionis.

“Kalau Kepada-nya kaya gini nggak bisa ngadep ke kantor Mbak,” jelasnya ketika saya tunjukkan surat dari kami.
“Tapi Pak, apakah saya bisa menanyakan ketentuan lebih lanjut di kantor? Ke bagian humasnya barangkali?” tanya saya.

Saya bertanya seperti karena saya merasa aneh, pengurusan surat kok diurusi oleh satpam. Repot kan, kalau syaratnya ada yang kurang dan musti bolak-balik. Tetapi Bapaknya bersikeras dengan agak bernada tinggi, bahwa kami akan percuma kalau masuk kantor tanpa merubah sesuai apa yang dikatakannya.

Bapak-bapak satuan keamanan itu hanya disuruh atasan tentunya, jadi saya tidak ambil pusing dan ngotot. Tapi please deh, terus tugas humasnya ngapain? Nonton TV? Bercengkrama?

Umumnya, ketika ada yang bertamu di rumah, kita dipersilakan masuk. Kecuali tamunya bapak pos yang memang tergesa-gesa mengirim kiriman paket. Sedangkan di kantor pemerintah tersebut, kami hanya berdialog di dekat gerbang pintu masuk.

Saya merasa bukan rakyat Indonesia ketika mendapat perlakuan seperti itu. Usul saya, seharusnya nama ‘pemerintah’ diganti menjadi kantor ‘pelayan rakyat’. Wajar bukan, karena duit modal segala macam berasal dari rakyat dan tugas merekalah melayani karena dipercaya untuk mengelola modal seluruh rakyat Indonesia. Tapi apa yang mau dikata, saya bukan anggota DPR pakar telematika yang bisa berkata, “Anda tahu saya siapa?”

Keesokan harinya, kami kembali ke kantor itu. Ketika akan masuk, dari kami bertiga hanya saya yang tidak diijinkan masuk. Alasannya: saya memakai sendal!
“Nanti takut dimarahi di dalam,” kata Bapak itu.

Hah?! Saya cuma bengong. Saya jadi membayangkan waktu mahasiswa dengan ada dosen killer yang memarahi mahasiswa-nya kalau pake sendal jepit.

Saya memakai atasan batik yang cukup sopan, dan celana panjang. Tapi, gara-gara sendal (meski bukan sandal jepit yang swallow tapi merek st-Yves, saya tidak diperbolehkan masuk.
Akhirnya, kedua teman saya-lah yang masuk dan mengurus suratnya.

Saya tidak memakai sepatu karena sepatu yang saya punya hanya sepatu kets. Karena saya pikir tidak cocok antara atasan batik dan sepatu kets, maka saya tidak memakai sepatu. Masak iya, saya harus beli sepatu dulu? Tentu lain ceritanya kalau saya pakai sendal high heels terus naik BMW.

Namun, sekali lagi, saya tidak berusaha macam-macam karena permasalahannya bukan di satpam-nya. Toh ia juga pasti hanya menjalankan tugas dari atas. Mungkin juga tugas dari atasan tersebut dimodifikasi supaya penampilan si kedua satpam itu sanggup membuat lari siapa saja, dari maling sampai siapa saja yang dicurigai sebagai kalangan bawah.

Saya jadi ingat dengan salah satu artikel di koran yang saya baca. Ada wartawan yang mencoba memasuki sebuah kantor dengan dua penampilan yang berbeda. Satu dengan kemeja lusuh, tas lusuh, dan sepatu lusuh. Penampilan hari berikutnya dengan kemeja still, tas bagus, dan blackberry di tangan. Kedua penampilan itu sangat berbeda perlakuannya, yang ditanya-tanya. Namun hari berikutnya ketika memakai penampilan yang ‘wah’, ia dipersilakan lewat begitu saja.

Sampai di rumah, saya cerita kepada kakak dan Bapak saya. Mereka tertawa.

“Yah, begitulah, kantor pemerintah itu selalu ngurusin yang remeh-temeh, ga ngurusi yang penting. Kalau staf atau pegawainya ya memang wajib berpakaian sesuai dengan ketentuan. Hal itu karena mereka bertugas melayani. Tapi kalau pengunjungnya nggak wajib dong,” kata Kakak saya.

Berikutnya Bapak bercerita, yang bagus itu seperti salah satu sekolah di Jogja, Kolese de Britto. Nggak tahu angkatan berapa, tetapi ia bercerita ketika dulu ada kebijakan nggak boleh bawa mobil ke sekolah, mereka sepakat berangkat sekolah pake truk dan kuda. Ketika nggak dibolehin pake sendal, mereka pakai teklek (semacam selop dari kayu) ke sekolah. Akhirnya, sekolah menerapkan bahwa penampilan tidak menjadi sesuatu esensial, tetapi yang penting mereka pintar. Kalau tidak pintar, pasti akan tinggal kelas, jelas Bapak saya.

Saya sangat setuju, penampilan yang sopan dan enak dipandang itu penting. Penampilan yang lusuh apalagi bau, tentu mengganggu sekitar kita. Penampilan yang rapi menunjukkan bahwa Anda menghormati kepada sekeliling Anda.

Namun, saya tidak setuju kalau harus memakai sepatu atau dasi adalah penampilan ter-rapi dan ter-hormat. Saya malah terheran-heran dengan bangsa ini. Wong iklimnya tropis kok pake sepatu dan dasi. Bahkan di acara tertentu diharuskan memakai jas atau blazer. Merasa konyol sekali ketika saya selalu kedinginan di setiap acara seminar atau konferensi. Ironis bukan, ketika punya negeri bermandikan cahaya matahari tetapi saya malah kedinginan?

Saya masih ingat ketika dulu mengikuti sebuah acara. Meski memakai blazer dan sepatu, saya tetap kedinginan. Begitu juga di seminar Rene Suhardono. Rene yang merupakan pembicara utama seminar itu berbicara sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Katanya, “Aduh, bukan karena saya genit, tapi ya ampun AC-nya dingin banget ya?”

Lagi-lagi saya merasa seluruh bangsa ini sudah menjadi korban mode. Padahal, kita sudah punya baju batik yang adem dan nyaman dipakai di daerah tropis. Sayangnya, yang ditiru dari negara lain bukannya perilaku hidup bersih atau memilah sampah, tetapi hal-hal yang memboroskan sumber daya alam dan tenaga.


I'm Nobody!
Who are you?
Are you – Nobody – too?

(Puisi Emily Dickinson)